IndoBisnis, Yerusalem – Suara teguran moral keras datang dari jantung kekristenan Katolik di Tanah Suci. Patriark Latin Yerusalem, Pierbattista Pizzaballa, menyatakan bahwa situasi kemanusiaan di Jalur Gaza sudah berada di titik paling menyedihkan secara moral dan kemanusiaan.
“Kami telah melihat orang-orang bertahan di bawah terik matahari selama berjam-jam dengan harapan mendapatkan makanan sederhana,” kata Pizzaballa dalam konferensi pers di Yerusalem, Selasa (22/7/2025), dikutip dari AFP.
“Hal itu tidak dapat diterima secara moral dan tidak dapat dibenarkan,” tegasnya lagi.
Pizzaballa baru saja kembali dari kunjungan langka ke Jalur Gaza, wilayah Palestina yang telah luluh lantak akibat perang Israel-Hamas sejak Oktober 2023. Kunjungan tersebut dilakukan bersama Patriark Gereja Ortodoks Yunani, Theophilos III, hanya beberapa hari setelah serangan Israel menghantam Gereja Keluarga Kudus, satu-satunya gereja Katolik di Gaza, yang menewaskan tiga anggota komunitas Kristen lokal.
“Tiga orang dari komunitas kami meninggal, tetapi ribuan orang sudah meninggal di Gaza,” ungkap Pizzaballa.
Dalam kunjungannya, Pizzaballa kembali meyakinkan umat Kristen di Gaza bahwa Gereja tidak akan pernah meninggalkan mereka, tidak dalam doa, tidak pula dalam tindakan nyata.
“Kami-Gereja dan seluruh komunitas Kristen-tidak akan pernah meninggalkan Gaza,” tegasnya di hadapan umat.
Namun ia juga menekankan bahwa misinya bukan hanya untuk umat Kristen, tetapi untuk semua orang yang menderita di wilayah konflik.
“Kami datang bukan untuk satu kelompok saja. Kami datang untuk seluruh rakyat yang menderita, baik di Gaza maupun di Tepi Barat,” ujarnya.
Pizzaballa juga sempat mengunjungi Tepi Barat, di mana ia mengutuk kekerasan yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina.
Meskipun Kementerian Luar Negeri Italia menyebut Pizzaballa memasuki Gaza membawa 500 ton bantuan, ia sendiri mengklarifikasi bahwa bantuan tersebut belum bisa disalurkan karena masalah logistik.
Sementara itu, Pizzaballa dan Theophilos III melaporkan wajah-wajah penduduk Gaza yang kurus dan kelaparan, mencerminkan situasi darurat kemanusiaan yang memburuk dari hari ke hari.
“Mencari makanan hampir mustahil. Kelaparan menyebar, dan kami melihatnya langsung di wajah-wajah mereka,” lapor Pizzaballa.
Ia menyatakan bahwa tingkat kehancuran di Gaza saat ini jauh lebih buruk dibandingkan kunjungan terakhirnya pada Desember 2023. Rumah-rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur dasar hancur, sementara bantuan terus tersendat.
Dalam pernyataannya, Pizzaballa tidak hanya mengkritik kondisi di lapangan, tetapi juga secara langsung menegur kebijakan pemerintah Israel atas serangan di Gaza.
“Saya menghargai upaya banyak bagian dari masyarakat Israel yang membantu pengiriman bantuan. Tapi kebijakan pemerintah Israel di Gaza ini tidak dapat diterima,” ujarnya lugas.
Pizzaballa dikenal luas sebagai tokoh yang mendorong dialog antaragama dan perdamaian. Ia juga menyampaikan doa untuk pembebasan para sandera yang ditahan Hamas sejak serangan mengejutkan ke wilayah Israel pada Oktober 2023.
Patriark senior Katolik ini juga menyoroti pembatasan kebebasan pers di Gaza. Menurutnya, jurnalis internasional harus diizinkan masuk ke Gaza tanpa pengawalan militer, agar dunia dapat menyaksikan sendiri kenyataan di lapangan.
“Saya berharap akses pers dibuka sepenuhnya. Dunia berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi di Gaza,” tuturnya.
Saat ini, hanya jurnalis asing yang dikawal militer Israel yang dapat memasuki Gaza sejak perang dimulai.
Dalam situasi di mana suara kemanusiaan sering tenggelam oleh dentuman senjata, Patriark Pizzaballa tampil sebagai suara nurani global. Seruannya menembus batas agama dan geopolitik. Ia tidak hanya menyerukan damai, tetapi juga menuntut tindakan nyata untuk menyelamatkan nyawa dan martabat manusia.
“Kami berdoa, kami bertindak, dan kami bersuara. Gaza adalah luka terbuka di hati umat manusia, dan dunia tidak boleh diam,” tutup Pizzaballa dengan nada tegas namun penuh empati.
Perang mungkin belum berakhir. Tapi seruan kemanusiaan dari Tanah Suci terus menggema—menolak untuk dilupakan.
***
