- SIDEGO Rilis Analisis Lengkap: Pertumbuhan Tinggi, Lapangan Kerja Melemah, Risiko Baru Mengintai Angkatan Kerja Muda dan Perempuan.
Laporan terbaru SIDEGO Kie Raha 2025 memotret kondisi pasar kerja Maluku Utara yang semakin tertekan di tengah pertumbuhan ekonomi yang melonjak akibat ekspansi industri pengolahan nikel di Halmahera.
Dalam laporan bertajuk Angkatan Kerja dan Transmigrasi Lokal (Trans Kieraha), peneliti SIDEGO menilai bahwa provinsi ini memasuki fase serius “pertumbuhan tanpa pekerjaan”.
“Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara meningkat signifikan, tetapi pasar kerja menunjukkan tekanan struktural yang menghambat inklusivitas,” tulis SIDEGO dalam laporan kepada IndoBisnis secara tertulis, Minggu (23/11).
Struktur penduduk usia kerja tahun 2025 menunjukkan gambaran kompleks. Dari 1.041,23 ribu penduduk usia kerja, sebanyak 705,58 ribu masuk dalam angkatan kerja. Dari jumlah itu, 673,46 ribu bekerja dan 32,12 ribu tercatat sebagai penganggur.
Selain itu, kualitas pekerjaan dinilai memburuk. SIDEGO menegaskan bahwa proporsi pekerja penuh waktu hanya 59,96 persen, sedangkan 40,04 persen sisanya adalah pekerja tidak penuh.
“Banyak yang bekerja, tetapi jam kerja rendah dan pendapatan tidak stabil. Muncul kemiskinan semu (hidden poverty) di tengah PDRB yang tumbuh tinggi,” ungkap dalam laporan mereka.
SIDEGO menilai kondisi tersebut konsisten dengan fenomena growth without jobs, dimana pertumbuhan ekonomi tidak sejalan dengan serapan tenaga kerja.
Penyerapan tenaga kerja berdasarkan sektor memperlihatkan ketimpangan serius. Industri pengolahan—sektor yang ditopang oleh smelter nikel—menyerap 167,69 ribu pekerja atau 24,90 persen. Namun, karakter sektor ini padat modal dan kurang ramah bagi tenaga kerja lokal berpendidikan menengah ke bawah.
“Industri tumbuh cepat, tetapi banyak posisi justru diisi tenaga kerja migran dari provinsi lain,” tulis SIDEGO.
Sementara itu, sektor pertanian yang menyerap 162,58 ribu pekerja mengalami pertumbuhan negatif mencapai –6,90 persen.
Perdagangan menyerap 80,72 ribu orang, administrasi pemerintahan 61,65 ribu, dan jasa pendidikan 43,91 ribu.
SIDEGO menegaskan bahwa “struktur tenaga kerja masih bertumpu pada pertanian dan perdagangan informal, memperbesar risiko pengangguran terselubung.”
SIDEGO mencatat adanya penurunan tenaga kerja berpendidikan SD ke bawah dan peningkatan signifikan tenaga kerja berpendidikan diploma ke atas sejak 2022. Namun peningkatan ini belum mampu mengejar percepatan transformasi industri di Halmahera.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Agustus 2025 mencapai 4,55 persen, meningkat 0,52 persen poin dari tahun sebelumnya.
“Pasar kerja tidak mampu menyerap lonjakan angkatan kerja baru. Tekanan terbesar datang dari kelompok usia muda 15–30 tahun,” demikian laporan itu.
SIDEGO juga menyebut risiko job mismatch semakin tinggi seiring pasar kerja yang mulai jenuh meski ekonomi tumbuh sangat tinggi.
Data TPT berdasarkan jenis kelamin menunjukkan perempuan lebih rentan, dengan angka 5,15 persen dibanding laki-laki 4,19 persen.
“Lapangan kerja belum ramah perempuan. Banyak perempuan masih terjebak dalam tugas domestik,” jelas laporan itu.
Dari sisi wilayah, TPT perkotaan mencapai 6,12 persen, jauh di atas perdesaan yang tercatat 3,85 persen. SIDEGO menilai kondisi tersebut dipicu kompetisi ketat di kota dan urbanisasi tanpa kesiapan lapangan kerja formal.
SIDEGO menilai bahwa transmigrasi lokal Trans Kieraha menjadi solusi logis untuk mengatasi mismatch ekonomi dan keterbatasan lapangan kerja di 64 pulau kecil.
“Pulau Halmahera menguasai ±75 persen ekonomi Maluku Utara, tetapi memiliki kepadatan penduduk terendah. Sementara pulau-pulau kecil stagnan dan mengalami spatial trap,” tulis SIDEGO.
Melalui Trans Kieraha, SIDEGO menilai bahwa pemindahan tenaga kerja dari pulau kecil menuju pusat pertumbuhan Halmahera dapat:
1. Mengalihkan tenaga kerja ke pusat ekonomi baru.
2. Membuka akses lebih luas ke lapangan kerja industri dan jasa modern.
3. Menurunkan biaya layanan publik per kapita.
4. Memperkuat pasar tenaga kerja dengan tenaga kerja muda.
5. Mendorong pertumbuhan inklusif jangka panjang.
SIDEGO menegaskan bahwa pasar kerja Maluku Utara sedang menghadapi gejolak besar. Setengah pengangguran tinggi, kualitas kerja menurun, dan perempuan serta pemuda paling terdampak. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi tetap terkonsentrasi di Halmahera dan belum merata ke 64 pulau kecil.
“Trans Kieraha adalah kebijakan berbasis bukti untuk memperbaiki struktur angkatan kerja dan menjadikan Halmahera pusat inklusi ekonomi jangka panjang,” tegas SIDEGO.
***
