Minggu, April 26, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISEkonomi Malut Tidak Menetes ke Rakyat, Transkiraha Didukung sebagai Solusi Struktural

Ekonomi Malut Tidak Menetes ke Rakyat, Transkiraha Didukung sebagai Solusi Struktural

  • Pakar ekonom Unkhair Ternate menegaskan bahwa ketimpangan geografis menjadi akar utama ketidakinklusi pertumbuhan ekonomi Maluku Utara; Transkiraha dinilai mampu menyatukan manusia dengan pusat pertumbuhan.

 

Pakar Ekonom Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Maluku Utara, Dr. Mukhtar Adam, menilai bahwa Transkiraha merupakan kecerdasan strategis dalam memainkan “bidang-bidang catur” pembangunan daerah.

Ia menggambarkan Transkiraha sebagai konsep yang lahir di tengah situasi ketika banyak masyarakat mengeluh bahwa pertumbuhan ekonomi tidak inklusif dan tidak menghadirkan dampak nyata di kehidupan mereka.

Menurut Mukhtar, keluhan tersebut wajar mengemuka karena pertumbuhan ekonomi yang tercatat secara statistik tidak menjangkau masyarakat di pulau-pulau kecil.

Ia menyatakan bahwa ketimpangan tersebut muncul akibat “pola-pola hunian kita itu ada di pulau-pulau kecil”, sementara pusat pertumbuhan ekonomi Maluku Utara berada di Halmahera.

Ia menilai situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: “Bagaimana strategi agar ekonomi itu menjadi inklusif, tidak sekadar ekstraktif?” Untuk menjawabnya, ia menekankan perlunya pendekatan baru yang tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi menggerakkan manusia menuju titik pertumbuhan.

Hijrah sebagai Kerangka Teoretik Transformasi Ekonomi

Mukhtar mengaitkan Transkiraha dengan konsep hijrah yang dilakukan Rasulullah. Ia menyebut hijrah sebagai sebuah “pesan keilahian tentang proses bergeser” ketika terjadi penumpukan aktivitas ekonomi di satu titik tertentu sehingga pergerakan manusia menjadi keharusan.

Ia menjelaskan bahwa Halmahera saat ini merupakan titik tumpu utama gerak ekonomi Maluku Utara. Namun, 51 persen masyarakat provinsi ini tinggal di pulau-pulau kecil berpenghuni.

Ketimpangan lokasi tersebut, menurutnya, menimbulkan kesenjangan dalam akses terhadap ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Mukhtar berpendapat bahwa Transkiraha tidak boleh dipahami hanya sebagai pembangunan jalan atau konektivitas fisik.

“Transkiraha mesti diletakkan sebagai transformasi memanusiakan manusia,” katanya. Ia menegaskan bahwa penduduk di pulau-pulau kecil perlu digeser dan didekatkan dengan pusat pertumbuhan ekonomi agar mereka dapat menjadi pemain aktif dalam pembangunan regional.

Akar Ketimpangan: Pendidikan Terbatas, Populasi Rendah, dan Minim Layanan Dasar

Dalam paparannya, Mukhtar menyoroti persoalan tingginya angka putus sekolah di Maluku Utara, terutama dalam peralihan dari SMP ke SMA.

Di pulau-pulau kecil, fasilitas pendidikan menengah tidak tersedia. Akibatnya, anak-anak terpaksa bermigrasi ke pulau besar yang memiliki infrastruktur pendidikan.

Pemerintah memang pernah membangun SMA di beberapa pulau kecil, namun jumlah siswa yang sedikit menjadi kendala karena populasi penduduk rendah. “Oleh karena itu mereka dipindahkan ke Halmahera,” tuturnya.

Ia menyebut bahwa ketimpangan ini bukan hanya soal pendidikan, tetapi juga kesehatan dan ekonomi. Semua masalah tersebut saling berkelindan dan berkontribusi terhadap melambatnya indeks pembangunan manusia (IPM) di Maluku Utara.

Mukhtar menegaskan bahwa pendekatan parsial tidak lagi cukup. Dibutuhkan transformasi struktural yang mampu mengubah akses masyarakat terhadap layanan dasar melalui kedekatan geografis dengan pusat pertumbuhan.

Transkiraha sebagai Transformasi Multidimensi: Membuka Ruang Kehidupan Baru

Mukhtar kembali menegaskan bahwa Transkiraha merupakan konsep multidimensi. Ia menyebutnya sebagai “neste nilia de multidimensi”, suatu gambaran bahwa Transkiraha tidak hanya soal konektivitas, tetapi tentang bagaimana menyiapkan “ruang-ruang kehidupan baru bagi manusia”.

Ia menilai bahwa misi memanusiakan manusia hanya dapat dicapai jika kebijakan pembangunan memindahkan masyarakat dari keadaan terisolasi menuju wilayah yang menawarkan peluang ekonomi, layanan pendidikan, dan fasilitas kesehatan yang memadai.

“Transkiraha bukan sekadar jalan, tetapi sebuah transformasi pembangunan yang mengarahkan kepada memanusiakan manusia dari sisi ekonomi, kesehatan, dan pendidikan,” ujarnya.

Transformasi ini, menurutnya, harus diwujudkan secara nyata, “agar misi kita memanusiakan manusia menjadi kenyataan, tidak menjadi catatan di atas kertas.”

Dengan demikian, Transkiraha dinilai sebagai solusi struktural yang mampu memperbaiki inklusivitas pertumbuhan ekonomi Maluku Utara dan mengintegrasikan masyarakat ke dalam arus pembangunan utama.

***

Mardan Amin Jurnalis IndoBisnis berkontribusi pada cerita ini.

Artikel ini pertama kali diterbitkan IndoBisnis dengan judul: Ekonomi Malut Tidak Menetes ke Rakyat, Transkiraha Didukung sebagai Solusi Struktural

Disclaimer

Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung.

IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial Anda. Konsultasikan dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments