- Pakar ekonomi Unkhair Ternate menegaskan bahwa transmaritim tidak menjawab akar ketimpangan antarpulau. Ia menyerukan perubahan strategi menuju pembangunan efisien berbasis pulau besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi Maluku Utara.
Pakar Ekonom Universitas Khairun (Unkhair) Ternate, Maluku Utara, Dr. Mukhtar Adam, menyampaikan kritik keras terhadap konsep transmaritim yang selama ini dijadikan rujukan pembangunan wilayah kepulauan.
Dalam pemaparannya, ia menyebut bahwa “transmaritim itu seperti lagu, pikiran tabula balik”, sebuah sindiran bahwa kebijakan tersebut hanya mengulang pola lama tanpa menjawab persoalan dasar yang menghambat kemajuan ekonomi Maluku Utara.
Mukhtar menjelaskan bahwa transmaritim disebut pikiran tabolabale — pikiran yang terbalik — karena persoalan inti Maluku Utara adalah ketimpangan islands.
“Karena problem kita adalah ketimpangan islands,” ucapnya.
Ia menegaskan bahwa pola permukiman masyarakat berada di pulau-pulau kecil, sedangkan pusat kegiatan ekonomi bertumpu di pulau besar.
Kondisi geografis ini membuat skala ekonomi menjadi sangat kecil, biaya logistik mahal, populasi terbatas, dan infrastruktur tidak memadai.
Menurutnya, memaksakan pembangunan transantar-pulau hanya dengan dalih banyak penduduk tinggal di pulau kecil justru mempertahankan kemiskinan.
“Kalau itu, maka kita sesungguhnya harus mempertahankan kemiskinan. Kita lagi tidak memanusiakan manusia,” tegas Mukhtar.
Ia menilai bahwa pemerintah perlu memikirkan pendekatan lain yang lebih struktural dan berorientasi pada kesejahteraan jangka panjang.
Mukhtar mengingatkan bahwa tinggal di pulau kecil bukanlah fenomena baru. Sudah “80 tahun Indonesia merdeka”, namun persoalan yang dihadapi masyarakat pulau kecil tetap sama dan tidak terurai.
Karena itu, menurutnya, menempatkan transmaritim sebagai solusi utama adalah kekeliruan dalam membaca akar masalah.
Ia menyoroti bahwa jika transmaritim didefinisikan seperti program tol laut era Presiden Joko Widodo, maka kebijakan tersebut hanya akan menghabiskan biaya besar tanpa menyelesaikan masalah mendasar.
“Ratusan triliun habis tidak jadi. Tidak mengatasi problem kemanusiaan,” katanya.
Mukhtar kemudian menyoroti kelemahan fiskal Maluku Utara. Sementara kapasitas fiskal daerah rendah, pemerintah justru memilih kebijakan mahal.
Ia mempertanyakan rasionalitasnya: “Apa tidak pikiran tembola balai itu?”
Menurut Mukhtar, pembangunan ideal harus memilih kebijakan yang paling efisien tetapi mampu memberikan dampak multiplier besar.
“Dengan investasi yang sekecil mungkin, tetapi memberikan efek yang besar kepada masyarakat. Itulah pilihan kebijakan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa teori pembangunan memang banyak, tetapi harus dibenarkan dengan data empiris.
“Data itu penting untuk membuktikan ini fenomena yang terjadi di antara kita,” katanya.
Mukhtar menekankan pentingnya memaknai data tersebut agar kebijakan yang dipilih benar-benar inherit dengan karakter masyarakat Maluku Utara.
Ia juga mengingatkan bahwa efisiensi dan efektivitas merupakan dua pilar utama dalam pemilihan kebijakan ekonomi. Tanpa kedua prinsip itu, pembangunan hanya akan mengulang pola lama.
“Apa kita tidak bolak-balik lagi itu? Bukan kayak ini problem yang kita tidak terurai selama ini,” ungkapnya.
Mukhtar kemudian menyoroti pola pembangunan Maluku Utara sejak masa kabupaten, yang terlalu terpusat di Ternate.
“Kita menjadikan Ternate sebagai pusat pembangunan. Lalu kita arahkan semuanya ke Ternate,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa kebijakan pembangunan saat ini mulai diarahkan oleh Sherry untuk memindahkan pusat aktivitas ekonomi ke Halmahera.
“Artinya, mau menggerakkan kegiatan ekonomi kepada pulau besar,” kata Mukhtar.
Menurutnya, arah baru ini jauh lebih masuk akal karena pulau besar memiliki populasi lebih banyak, infrastruktur lebih potentif, dan skala ekonomi lebih memungkinkan untuk tumbuh.
Dengan memperkuat pulau besar, Maluku Utara dapat menekan biaya logistik, menciptakan efisiensi, serta membuka kesempatan ekonomi lebih luas bagi masyarakat.
Mukhtar menilai bahwa konsep transmaritim justru menjauhkan daerah dari solusi struktural.
Sebaliknya, menggerakkan ekonomi ke pulau besar merupakan strategi paling rasional untuk memperbaiki ketimpangan islands yang selama ini menahan laju pembangunan.
***
Mardan Amin Jurnalis IndoBisnis berkontribusi pada cerita ini.
Artikel ini pertama kali diterbitkan IndoBisnis dengan judul: Mukhtar Nilai Konsep Trans Maritim Pikiran Tabolabale.
Disclaimer
Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial Anda. Konsultasikan dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
