IndoBisnis – Pemerintah Qatar menolak keras pernyataan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang menyindir bahwa Qatar “bermain di dua sisi” dalam upaya mediasi gencatan senjata Gaza. Pernyataan itu dinilai provokatif dan tidak bertanggung jawab.
“Qatar dengan tegas menolak pernyataan yang menghasut… yang jauh dari standar paling dasar tanggung jawab politik dan moral,” tegas juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, melalui akun X, Minggu (4/5). Sebagaimana di Lansir dari Kantor Berita AFP
Sebelumnya, Netanyahu lewat kantornya menyatakan bahwa Qatar harus “memutuskan apakah berada di pihak peradaban atau Hamas.” Komentar itu muncul di tengah mandeknya perundingan damai antara Israel dan Hamas.
Meski Mesir dan Qatar terus memediasi, kedua pihak tetap bersikukuh pada tuntutan masing-masing. Israel menuntut kembalinya 59 sandera dan menolak Hamas terlibat dalam pemerintahan Gaza ke depan.
Di sisi lain, Hamas hanya bersedia membebaskan sandera jika ada jaminan gencatan senjata permanen dan penarikan pasukan Israel.
Al-Ansari juga menyesalkan narasi Netanyahu yang menyandingkan posisi Israel dengan “peradaban,” dan menyebutnya mirip rezim masa lalu yang membenarkan kejahatan terhadap warga sipil lewat narasi palsu.
Ia mempertanyakan, “Apakah 138 sandera dibebaskan lewat serangan militer atau lewat upaya mediasi yang terus dikritik?” Ia pun menyoroti blokade Israel di Gaza yang menyebabkan kelaparan, kekurangan obat-obatan, dan dijadikannya bantuan kemanusiaan sebagai alat politik.
Sementara itu, pada Jumat lalu, Israel kembali menyetujui operasi militer yang diperluas di Gaza, menunjukkan minimnya kemajuan diplomasi.
Serangan Israel merupakan respons atas serangan mendadak Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.
Namun sejak saat itu, lebih dari 50.000 warga Palestina dilaporkan tewas dan Gaza mengalami kehancuran masif. Organisasi kemanusiaan memperingatkan, blokade dan serangan Israel bisa mengarah pada bencana kemanusiaan besar.***
