Senin, April 27, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISHarga Batu Bara Melonjak, Trump Paksa Pembangkit Tetap Beroperasi

Harga Batu Bara Melonjak, Trump Paksa Pembangkit Tetap Beroperasi

IndoBisnis – Harga batu bara dunia kembali naik dalam dua hari terakhir. Langkah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang memerintahkan agar pembangkit listrik batu bara tetap beroperasi, dinilai menjadi pemicu utama kenaikan harga ini.

Berdasarkan data Refinitiv, harga batu bara pada perdagangan 26 Mei 2025 tercatat sebesar US$108,35 per ton. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 1,83% dibandingkan penutupan sebelumnya pada 23 Mei yang berada di angka US$106,4 per ton.

Kenaikan tersebut merupakan rekor tertinggi dalam 2,5 bulan terakhir, atau sejak 11 Maret 2025.

Penyebab utama lonjakan harga ini diduga berasal dari kebijakan baru pemerintahan Trump yang memaksa pembangkit listrik J.H. Campbell di Michigan tetap beroperasi, meski sebelumnya telah dijadwalkan akan ditutup pada 31 Mei 2025.

“Departemen Energi AS telah mengeluarkan perintah darurat pada 23 Mei 2025 untuk mempertahankan operasional pembangkit demi meminimalkan risiko pemadaman listrik,” tulis laporan dari Canary Media.

Pembangkit J.H. Campbell merupakan fasilitas tenaga batu bara berkapasitas 1.560 megawatt yang dioperasikan oleh perusahaan utilitas Consumers Energy. Perusahaan tersebut sebenarnya telah merencanakan penghentian operasional sebagai bagian dari transisi menuju energi bersih.

Namun, lewat perintah darurat tersebut, pemerintah memaksa pembangkit tetap beroperasi hingga setidaknya akhir Agustus 2025, atau 90 hari setelah jadwal penutupan semula.

Kebijakan ini memunculkan perdebatan. Di satu sisi, ada kekhawatiran mengenai kelangkaan pasokan listrik dan gangguan sistem jaringan, terutama di wilayah Midwest AS. Di sisi lain, perpanjangan umur pembangkit batu bara menimbulkan keraguan terhadap komitmen pemerintah AS dalam mengurangi emisi karbon.

“Pemerintahan ini tidak akan tinggal diam dan membiarkan kebijakan pengurangan energi yang berbahaya mengancam ketahanan jaringan listrik kita dan menaikkan harga listrik bagi keluarga-keluarga Amerika,” tegas Menteri Energi AS, Jennifer Wright, dalam siaran pers Jumat lalu.

Presiden Trump juga telah mengeluarkan serangkaian perintah eksekutif pada April 2025 untuk membangkitkan kembali industri batu bara yang telah merosot dalam satu dekade terakhir. Salah satu perintah tersebut memberikan wewenang kepada Departemen Energi (DOE) untuk mempertahankan pembangkit batu bara dengan alasan keandalan jaringan listrik nasional.

Kebijakan ini memperkuat posisi batu bara dalam sistem energi AS, setidaknya untuk sementara. Hal ini berdampak langsung terhadap pasar global, yang memandang keputusan AS sebagai sinyal peningkatan permintaan batu bara dalam jangka pendek.

Namun, langkah ini dikritik oleh pegiat lingkungan. Mereka menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah mundur dalam upaya transisi energi. Dikhawatirkan, pembukaan kembali atau perpanjangan operasi pembangkit berbasis batu bara akan memperburuk dampak lingkungan dan memperlambat target net-zero emission.

Sementara itu, harga batu bara yang melonjak dapat memberikan angin segar bagi negara pengekspor, termasuk Indonesia. Tetapi di sisi lain, ketergantungan terhadap energi fosil dinilai akan terus menunda upaya global untuk menghadapi krisis iklim.

Dengan situasi geopolitik dan kebijakan energi yang terus berubah, harga batu bara diperkirakan akan tetap volatil dalam beberapa bulan ke depan, tergantung pada arah kebijakan Amerika Serikat serta respons negara lain terhadap krisis energi dan iklim global.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments