IndoBisnis – Hutan tak bisa tumbuh di atas tanah yang mati. Inilah kesimpulan pahit dari sebuah riset terbaru yang menyibak luka mendalam akibat aktivitas pertambangan emas di jantung Amazon, Peru. Meski telah ditinggalkan, kerusakan yang terjadi justru menunjukkan bahwa alam tidak selalu mampu menyembuhkan dirinya sendiri.
Studi dari Universitas Southern California (USC), Amerika Serikat, menemukan bahwa hutan tropis yang dulunya lebat dan menyimpan keanekaragaman hayati kini hanya menyisakan kubangan pasir, kolam mati, dan tanah yang tak lagi subur.
Dalam laporan yang dipublikasikan di Communications Earth & Environment, para peneliti menyebutkan bahwa metode penambangan isap atau suction mining yang digunakan dalam aktivitas tambang emas di kawasan Madre de Dios berdampak sangat parah pada struktur tanah.
“Kita tahu bahwa kerusakan tanah memperlambat pemulihan hutan. Proses pertambangan ternyata mengeringkan tanahnya, membuatnya tidak ramah untuk pohon-pohon baru tumbuh,” ungkap Josh West, Profesor Ilmu Kebumian dan Studi Lingkungan di USC Dornsife, seperti dikutip dari eurekalert.org.
West menjelaskan bahwa tanah yang dikeruk mengalami perubahan dramatis pada kemampuan menyerap dan menahan air. Akibatnya, daerah bekas tambang menjadi kawasan panas dan kering permanen, jauh dari kondisi layak tanam.
Penelitian dilakukan pada tiga jenis lahan berbeda—tanah berpasir dan lempung, tepi kolam, dan hutan asli yang belum terganggu. Hasilnya mengejutkan: bekas tambang merupakan kawasan yang paling panas, bahkan suhu tanahnya bisa mencapai 60°C.
“Ini seperti mencoba menanam pohon di dalam oven,” kata West.
Sementara itu, Abra Atwood dari Pusat Penelitian Iklim Woodwell menyebut bahwa kekurangan air adalah musuh utama pemulihan hutan. Air hujan di area bekas tambang langsung mengalir lewat lapisan pasir tanpa sempat tersimpan dalam tanah.
“Ketika akar tidak dapat menemukan air dan suhu permukaan begitu panas, bibit pohon yang ditanam kembali pun tidak dapat bertahan hidup,” kata Atwood.
Meskipun sebagian kecil tumbuhan mulai tumbuh kembali di tepi kolam dan dataran rendah, sebagian besar area tambang tetap tandus. Para ilmuwan menyarankan agar pemulihan dilakukan dengan penataan ulang lanskap, seperti meratakan gundukan pasir dan menutup kolam mati agar akar pohon bisa mendekati air tanah.
Namun, proses ini akan sangat lambat dan sulit mengimbangi laju kerusakan yang sudah terjadi.
Sejak 1980 hingga 2017, lebih dari 95.000 hektare hutan hujan di wilayah Madre de Dios lenyap akibat tambang emas. Aktivitas ini menyumbang hampir 10% dari seluruh deforestasi di kawasan Amazon dan mengancam keanekaragaman hayati serta kehidupan masyarakat adat.
“Hanya ada satu hujan Amazon. Itu adalah sistem kehidupan yang tak ada duanya. Kalau kita kehilangan, kita kehilangan sesuatu yang tak tergantikan,” ujar West dengan nada prihatin.
Apa yang terjadi di Peru bisa menjadi cermin keras bagi Indonesia, yang kini tengah membuka pintu lebar untuk pertambangan nikel, emas, dan batu bara di wilayah hutan tropis. Tanpa regulasi ketat dan komitmen serius terhadap rehabilitasi, kerusakan yang sama akan menghantui tanah air di masa depan.
Tambang emas memang menjanjikan kekayaan, tetapi bisa menjadi malapetaka jangka panjang bagi kehidupan. Alam mungkin diam, tapi luka yang ditinggalkan tak mudah disembuhkan.
***
