IndoBisnis – Masbate, Filipina. Pasukan militer Filipina menewaskan tujuh gerilyawan komunis dalam baku tembak di Provinsi Masbate, Minggu (27/7).
Aksi ini disebut sebagai bagian dari dorongan terakhir untuk mengakhiri pemberontakan komunis yang telah berlangsung selama lebih dari lima dekade.
“Kami berada dalam dorongan terakhir,” kata Mayor Frank Roldan dari Divisi Infanteri ke-9 melalui sambungan telepon kepada Associated Press (AP).
Roldan menjelaskan, bentrokan terjadi saat pasukan mengejar sisa kelompok Tentara Rakyat Baru (NPA) yang sebelumnya terlibat kontak senjata dengan tentara Filipina.
Dua gerilyawan tewas dalam bentrokan awal pekan, lalu tujuh lainnya tewas saat pengejaran di wilayah pedalaman Kota Uson dalam baku tembak selama 30 menit.
Di lokasi, tentara menyita tujuh senapan serbu dan dua peluncur granat. Sementara itu, delapan pemberontak lainnya melarikan diri dan masih dalam pengejaran.
Menurut Panglima Angkatan Bersenjata Filipina, Jenderal Romeo Brawner Jr., kini hanya tersisa kurang dari 900 gerilyawan aktif, sebagian besar tersebar di wilayah timur pedesaan.
Jumlah ini jauh menyusut dibandingkan sekitar 25.000 personel gerilya pada masa puncak pemberontakan.
Brigjen Medel Aguilar, Wakil Komandan Dinas Hubungan Sipil militer Filipina, menyebut kelompok gerilya kini dilumpuhkan oleh kekalahan, perpecahan internal, dan gelombang penyerahan diri.
“Pasukan gerilya berada di ambang kehancuran,” tegas Aguilar.
Upaya perundingan damai antara pemerintah dan pemberontak sebelumnya gagal di era Presiden Rodrigo Duterte.
Mediasi oleh pemerintah Norwegia tidak menghasilkan kesepakatan karena kedua pihak saling menuding melakukan pelanggaran gencatan senjata.
Konflik ini merupakan salah satu pemberontakan bersenjata terlama di Asia, dengan dampak serius terhadap stabilitas nasional dan kehidupan masyarakat di pedesaan Filipina.
***
