IndoBisnis – Duka mendalam menyelimuti dunia jurnalistik internasional. Walaa Al-Jaabari, seorang jurnalis perempuan Palestina yang tengah mengandung, tewas bersama suami dan keempat anaknya dalam serangan udara Israel yang menghantam rumahnya di Tal Al-Hawa, barat daya Kota Gaza, pada Rabu (16/7).
Perempuan yang dikenal sebagai editor untuk beberapa media lokal itu meninggal seketika saat bom militer Israel menghancurkan rumahnya. Serangan tersebut juga menewaskan suaminya, Amjad Al-Shaer, empat anak mereka, dan bayi yang masih berada dalam kandungan.
“Walaa adalah salah satu jurnalis perempuan paling aktif di Gaza. Ia konsisten melaporkan realitas perang dari sudut pandang kemanusiaan,” tulis media lokal dalam laporan duka mereka.
Menurut sumber setempat, ledakan sangat kuat hingga disebut-sebut menyebabkan janin terlempar keluar dari rahim ibunya. Kendati demikian, Arab News menyatakan belum dapat memverifikasi kebenaran peristiwa tersebut maupun keaslian foto-foto yang beredar di media sosial, yang memperlihatkan janin terbungkus kain kafan.
Kematian Walaa menambah panjang daftar korban jurnalis dalam konflik yang semakin brutal. Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) mencatat lebih dari 180 jurnalis-hampir semuanya warga Palestina-telah tewas sejak Israel meluncurkan serangan besar-besaran. Sementara itu, organisasi lain mencatat jumlah korban tewas bisa mencapai 231 orang.
“Kami menyerukan kepada Israel untuk segera menghentikan pembunuhan terhadap pekerja media,” tegas Federasi Jurnalis Internasional, Rabu (16/7), dalam pernyataan resminya.
“Izinkan wartawan internasional masuk ke Gaza dan laksanakan transparansi di medan konflik.”
Kelompok hak asasi manusia menegaskan, dalam setidaknya 12 kasus, ada indikasi kuat bahwa jurnalis sengaja dijadikan sasaran oleh pasukan Israel.
“Jika terbukti, ini adalah bentuk kejahatan perang,” kata perwakilan organisasi HAM dalam siaran persnya.
Selama konflik berlangsung, tidak ada jurnalis independen yang diizinkan masuk ke Gaza, kecuali dalam kunjungan singkat yang dikawal ketat oleh militer Israel. Pemerintah Israel berulang kali menolak membuka akses media dengan alasan keamanan.
Blokade selama 21 bulan telah membuat jurnalis lokal di Gaza bekerja dalam kondisi ekstrem. Mereka mengalami keterbatasan listrik, akses pangan, dan jaringan komunikasi. Banyak dari mereka berjuang bertahan hidup, bahkan sebelum bisa mengabarkan apa yang sebenarnya terjadi.
Empat kantor berita besar dunia—Associated Press, AFP, Reuters, dan BBC—menyatakan keprihatinan mendalam dan menuntut Israel segera membuka akses bagi media serta mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan.
“Kami sangat prihatin terhadap para jurnalis kami di Gaza yang semakin tidak mampu memenuhi kebutuhan pangan bagi diri mereka sendiri dan keluarga,” bunyi pernyataan bersama yang dirilis Kamis (17/7).
“Selama ini, mereka menjadi mata dan telinga dunia dari lapangan. Kini, mereka menanggung beban yang sama berat dengan yang mereka laporkan.”
Pembunuhan terhadap jurnalis bukan sekadar kehilangan suara di medan konflik, melainkan juga serangan langsung terhadap kebenaran. Dunia tidak bisa terus diam saat pena dibungkam oleh rudal, dan kehidupan disapu habis dalam satu dentuman bom.
***
