IndoBisnis – Seruan mendesak kepada Israel untuk segera membuka akses bagi jurnalis internasional dan memperlancar bantuan kemanusiaan ke Gaza kembali menggema dari media global.
Tekanan internasional meningkat seiring memburuknya krisis kelaparan yang kini turut melanda para jurnalis lokal Palestina.
“Melaporkan dari zona konflik mana pun merupakan upaya yang berisiko dan berani yang pada akhirnya memberikan layanan publik global,” kata Philip Pan, editor internasional The Times, Minggu (20/7/2025).
“Menambahkan ancaman kekurangan pangan dan bahkan kelaparan ke dalam risiko-risiko ini sungguh memprihatinkan.”
Sejumlah jurnalis lokal Palestina yang selama ini menjadi mata dan telinga dunia di Gaza kini justru ikut terdampak.
Menurut Pan, para reporter The Times kesulitan memperoleh makanan dan menghadapi hambatan kebebasan bergerak yang sangat membahayakan.
Pernyataan bersama dari AFP, Reuters, AP, dan BBC pada pekan lalu menyoroti risiko kelaparan yang mengancam jurnalis mereka.
Mereka mendesak Israel untuk mengizinkan jurnalis keluar-masuk Gaza secara bebas dan menjamin pasokan makanan yang cukup.
“Selama berbulan-bulan, para jurnalis independen ini telah menjadi mata dan telinga dunia di Gaza. Mereka kini menghadapi situasi sulit yang sama seperti yang mereka liput,” bunyi pernyataan bersama tersebut.
Tekanan serupa juga disuarakan oleh International News Safety Institute bersama media seperti The Washington Post, Financial Times, dan The Guardian. Dalam pernyataan Jumat lalu, mereka menyebut,
“Hampir dua tahun perang, tidak ada media internasional yang masuk secara independen. Ketika wartawan lokal terbunuh, menghadapi ancaman kelaparan, atau mencoba melarikan diri, dunia akan terputus secara sistematis dari menyaksikan apa yang terjadi. Ini tidak boleh dibiarkan terjadi.”
Sejak awal agresi militer di Gaza, Israel membatasi akses media dengan dalih keamanan. Namun, banyak pihak menilai langkah tersebut sebagai bentuk sensor dan upaya membungkam dokumentasi independen atas dugaan pelanggaran HAM dan kejahatan perang.
Amnesty International dan Committee to Protect Journalists (CPJ) telah mencatat kasus-kasus di mana jurnalis Palestina menjadi target langsung. Mereka menyebut bahwa tindakan tersebut dapat diklasifikasikan sebagai kejahatan perang.
Sara Qudah, Direktur Regional CPJ, mengatakan, “Israel membungkam para jurnalis Gaza yang kekurangan. Dunia harus bertindak sekarang: melindungi mereka, memberi mereka makan, dan membiarkan mereka memulihkan sementara jurnalis lain turun tangan untuk membantu meliput.”
Kondisi lapangan menunjukkan penderitaan yang akut. CPJ melaporkan peningkatan jumlah jurnalis yang mengalami kelaparan ekstrem, bahkan pingsan dan gangguan kognitif. Para tenaga medis juga melaporkan gejala serupa.
Di tengah tekanan internasional, Israel pada Minggu mengumumkan penghentian sementara operasi militer di beberapa wilayah Gaza untuk memungkinkan masuknya bantuan.
Namun, organisasi kemanusiaan menilai langkah itu terlalu kecil dan tidak cukup untuk mengatasi darurat kemanusiaan yang terus memburuk.
Sementara itu, B’Tselem dan Physicians for Human Rights — dua organisasi HAM dari Israel — menuding pemerintah Israel melakukan genosida di Gaza, dengan dalih bahwa serangan terus-menerus menargetkan warga sipil hanya berdasarkan identitas Palestina mereka.
Krisis ini tidak hanya menjadi tragedi kemanusiaan, tetapi juga pukulan telak bagi kebebasan pers global.
Jika dunia tetap diam, maka jurnalisme sebagai penjaga kebenaran akan terkubur di bawah reruntuhan Gaza — bersama para wartawan yang kini bertahan hidup dalam gelap dan lapar.
***
