- Ringkasan
- Perang di Timur Tengah semakin memanas setelah Iran menolak tuntutan “penyerahan tanpa syarat” yang disuarakan Amerika Serikat.
- Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak akan tunduk pada tekanan Washington, meskipun rudal dan drone Amerika dilaporkan menuju kawasan Teluk.
- Di saat yang sama, jet tempur Israel menggempur Beirut dan Teheran, sementara Iran meluncurkan gelombang serangan balasan ke Israel dan negara-negara Teluk yang menampung pasukan Amerika.
- Dugaan serangan udara AS terhadap sebuah sekolah dasar di Iran juga memicu kecaman internasional, ketika jumlah korban jiwa terus meningkat di berbagai negara yang terlibat dalam konflik tersebut.
IndoBisnis – Presiden Iran Masoud Pezeshkian menolak tuntutan “penyerahan tanpa syarat” yang diajukan Amerika Serikat di tengah eskalasi konflik militer yang semakin meluas di Timur Tengah.
Melansir laporan Associated Press, Pezeshkian tetap menegaskan penolakan tersebut sembari menyampaikan permintaan maaf atas serangan yang mengenai sejumlah negara di kawasan.
Pernyataan itu muncul ketika rudal dan drone Amerika Serikat dilaporkan bergerak menuju negara-negara Teluk Arab.
Situasi ini dinilai menunjukkan bahwa kepemimpinan politik di Tehran kemungkinan tidak sepenuhnya memiliki kendali atas seluruh operasi militer Republik Islam Iran.
Di saat yang sama, pesawat tempur Israel melancarkan pemboman terhadap target di Beirut dan Teheran pada Jumat.
Serangan tersebut berlangsung ketika Iran kembali meluncurkan gelombang serangan balasan terhadap Israel serta negara-negara Teluk yang menampung pasukan Amerika Serikat.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump tampak mengesampingkan kemungkinan jalur negosiasi dengan Iran.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Trump menyerukan agar Iran melakukan “penyerahan tanpa syarat”.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt kemudian mempertegas sikap tersebut.
“Penyerahan tanpa syarat dapat terjadi bahkan jika Iran tidak berada dalam posisi untuk mengatakannya sendiri,” ujar Leavitt dikutip AP, Sabtu (7/3/2026).
Trump juga mengatakan kepada media pada Kamis bahwa ia ingin terlibat dalam proses memilih pemimpin Iran berikutnya, sebuah pernyataan yang semakin meningkatkan ketegangan politik antara kedua negara.
Di tengah meningkatnya intensitas serangan, sorotan internasional juga tertuju pada ledakan mematikan yang menghantam sebuah sekolah dasar di Iran.
Bukti awal menunjukkan insiden yang terjadi pada 28 Februari tersebut kemungkinan besar merupakan serangan udara Amerika Serikat. Peristiwa itu dilaporkan menjadi insiden dengan jumlah korban sipil terbesar sejak perang dimulai.
Serangan tersebut memicu kritik keras dari United Nations serta sejumlah pengawas hak asasi manusia yang menyoroti meningkatnya korban sipil akibat konflik.
Pemerintah Amerika Serikat hingga kini belum mengakui tanggung jawab atas serangan tersebut, namun menyatakan tengah melakukan penyelidikan.
Sementara itu, jumlah korban tewas akibat perang terus meningkat.
Pejabat di masing-masing negara melaporkan sedikitnya 1.230 orang tewas di Iran, lebih dari 200 orang di Lebanon, serta sekitar selusin korban jiwa di Israel. Konflik tersebut juga menewaskan enam tentara Amerika Serikat.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik yang awalnya terbatas kini semakin melebar dan berpotensi menyeret lebih banyak negara ke dalam pusaran perang kawasan.
***
Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.
Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Iran Tolak Ultimatum AS, Serangan Balasan Meluas
Disclaimer
Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
