- Ringkasan Berita:
- Gelombang protes penggemar K-pop mengguncang Hana Bank setelah keterlibatannya dalam pendanaan PLTU batu bara di Pulau Obi terungkap.
- Lewat petisi dan surat terbuka, mereka menuntut penghentian pembiayaan proyek yang dinilai merusak lingkungan dan bertentangan dengan komitmen iklim.
IndoBisnis — Slogan tajam menggema dari komunitas global penggemar K-pop: “Hana, Bring K-Pop Not Coal!” Seruan ini berubah menjadi tekanan nyata terhadap Hana Bank yang dinilai terlibat dalam pendanaan energi kotor di Indonesia.
Gerakan yang digalang Kpop4Planet memicu gelombang protes setelah bank tersebut diketahui membiayai proyek PLTU batu bara di Pulau Obi.
Mengutip laporan Mongabay, sejak dirilis pada 9 April 2026, petisi tersebut telah mengumpulkan lebih dari 2.000 tanda tangan penggemar K-pop. Mereka mendesak Hana Bank menghentikan pendanaan PLTU captive yang menopang industri smelter nikel.
Sebelumnya, pada Februari 2026, Kpop4Planet bersama 12 basis penggemar di Indonesia telah mengirim surat terbuka ke kantor pusat Hana Bank di Seoul. Namun, respons yang diberikan dinilai normatif dan tidak menyentuh substansi tuntutan.
Hana Bank hanya menyatakan akan memperkuat manajemen risiko terkait batu bara tanpa komitmen jelas untuk menghentikan pembiayaan.
“Dampak proyek nikel sudah terbukti merusak lingkungan dan merugikan masyarakat sekitar Pulau Obi. Jawaban Hana Bank kian naif,” tegas Nurul Sarifah dikutip, Rabu (29/4/2026).
Ia menilai bank tersebut tidak menunjukkan keseriusan dalam menghentikan pendanaan proyek bermasalah tersebut.
Kekecewaan juga datang dari komunitas penggemar. Nunik, perwakilan fanbase My Day and Jars Social Project, menegaskan bahwa dukungan besar penggemar terhadap kolaborasi Hana Bank dengan idol K-pop kini berubah menjadi rasa dikhianati.
Fakta menunjukkan, pada 2022 Hana Bank mengucurkan pendanaan sebesar US$84 juta untuk proyek nikel milik Harita Group di Pulau Obi.
Langkah ini bertentangan dengan komitmen Hana Financial Group pada 2021 yang menyatakan akan menghentikan pembiayaan proyek batu bara, baik di dalam maupun luar negeri.
PLTU berkapasitas 4×380 MW yang didanai tersebut menjadi tulang punggung energi bagi smelter nikel—komoditas strategis dalam industri baterai global. Namun, di balik narasi transisi energi, jejak karbon justru meningkat tajam.
Perwakilan Market Forces, Binbin Mariana, mengungkapkan bahwa emisi karbon Harita meningkat hampir tiga kali lipat, dari 3,74 megaton pada 2022 menjadi 10,87 megaton pada 2024.
Di lapangan, dampak proyek tidak lagi bersifat abstrak. Desa-desa sekitar kawasan industri seperti Kawasi dan Soligi menghadapi peningkatan polusi udara akibat debu dan emisi.
Kondisi ini berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, terutama meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut serta penurunan kualitas air.
Ketergantungan industri nikel terhadap PLTU batu bara menjadi titik kritis yang terus disorot berbagai pihak.
Direktur Eksekutif TuK Indonesia, Linda Rosalina, menilai pendanaan Hana Bank mencerminkan lemahnya tata kelola pembiayaan sektor berisiko tinggi.
Ia menekankan pentingnya transparansi agar publik mengetahui aktor di balik pendanaan proyek-proyek bermasalah.
Menurutnya, standar global seperti OECD Guidelines dan United Nations Guiding Principles on Business and Human Rights mewajibkan uji tuntas menyeluruh. Namun, implementasinya di Indonesia dinilai masih lemah.
Meski regulasi seperti POJK 51/2017 dan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan telah tersedia, belum ada larangan tegas terhadap pembiayaan sektor ekstraktif berisiko tinggi.
Fenomena ini menandai pergeseran peran penggemar K-pop—dari sekadar konsumen budaya menjadi aktor advokasi global.
Nurul Sarifah menegaskan bahwa gerakan ini lahir dari solidaritas lintas negara. Ia juga menyinggung keberhasilan kampanye serupa yang menekan Hyundai mundur dari kerja sama dengan Adaro pada Maret 2024.
Menurut Linda, tekanan publik global kini menjadi mekanisme penting dalam menutup celah akuntabilitas yang belum mampu dijangkau regulasi formal.
Di tengah tekanan global yang terus menguat, pertanyaan kini mengerucut: apakah Hana Bank akan tetap bertahan di jalur batu bara, atau berbalik mengikuti tuntutan publik?
Kasus ini bukan sekadar soal satu proyek, melainkan arah pembiayaan masa depan—antara energi kotor dan transisi yang sesungguhnya.
***
Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.
Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Bring K-Pop, Not Coal! Fans Serbu Hana Bank, Desak Hentikan Dana PLTU Nikel di Obi.
Disclaimer
Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
