Rabu, Mei 13, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISTeranyar Komoditas Logam Nikel Investasi Terpusat di Indonesia?

Teranyar Komoditas Logam Nikel Investasi Terpusat di Indonesia?

IB | Jakarta – Investasi pada fasilitas pemurnian dan pemrosesan nikel yang terpusat di Indonesia memunculkan risiko pasokan mineral yang tidak terdiversifikasi bagi pasar global.

Meski demikian, lonjakan investasi sementara ini meredakan kekhawatiran akan kekurangan logam mineral penting penopang industri terkait transisi energi.

Dalam laporan terbaru bertajuk Critical Mineral Market Review 2023, International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa dari seluruh komitmen investasi pada fasilitas pemrosesan dan pemurnian nikel yang telah diumumkan, 90 persen diantaranya berada di Indonesia.

Laporan tersebut sebenarnya membawa berita gembira bahwa investasi pada mineral penting seperti nikel dan lithium melonjak 50 persen dalam dua tahun terakhir.

Dengan demikian, meredakan risiko terjadinya kekurangan suplai bahan baku penting seperti lithium, kobal, tembaga, dan nikel, seperti yang disuarakan IEA dua tahun lalu. Sejumlah perbankan investasi dan lembaga konsultan internasional juga menggarisbawahi hal serupa beberapa waktu terakhir.

Sejumlah proyek baru yang diumumkan menunjukkan bahwa pasokan akan mampu mengejar lonjakan permintaan hingga akhir dekade ini. IEA mengatakan bahwa aliran modal yang deras ke proyek pertambangan baru membantu menutup kesenjangan jangka panjang antara penawaran dan permintaan.

“Kami berpandangan bahwa pemerintah dan perusahaan telah menanggapi situasi yang agak menantang ini. Kita semua tahu bahwa proyek pertambangan sering mengalami penundaan, tetapi gambaran dari sudut pandang investasi cukup menggembirakan,” kata Fatih Birol, Kepala IEA, dalam sebuah wawancara dikutip dari Bloomberg, Rabu (12/7/2023).

Birol menambahkan, meskipun belum dapat dilihat sejauh mana kepastian bahwa seluruh komitmen investasi yang sudah ada di pipeline akan benar-benar terwujud, aliran investasi menunjukkan pasar modal melakukan tugasnya dalam merangsang pasokan.

Fasilitas pemrosesan nikel yang dioperasikan oleh Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara, Rabu (8/3/2023). Bloomberg/

Jika seluruh komitmen investasi diwujudkan menjadi produksi, hal itu akan cukup memenuhi hampir 75 persen pasokan yang dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan net-zero emission pada 2030. Ramalan itu naik dari sekitar 50 persen pada laporan IEA 2021.

Di luar Indonesia, komitmen investasi tersebar di negara-negara kaya mineral penting. Misalnya, di Republik Demokratik Kongo, CATL, produsen baterai terbesar China, mengakuisisi 25 persen saham CMOC, produsen kobalt terbesar kedua di negara itu.

Di Bolivia, konsorsium yang dipimpin CATL juga memenangkan tender untuk mengembangan cadangan lithium dengan rencana investasi US$1 miliar pada tahap pertama proyek tersebut.

Sementara itu, BYD, produsen kendaraan listrik terbesar dunia, sedang menegosiasikan akuisisi enam tambang lithium di Afrika dengan kandungan lebih 25 juta ton bijih.

SK On, produsen baterai dari Korea Selatan, mengakuisisi 10 persen saham Lake Resources, pengembang lithium Australia, dengan hak untuk mengamankan hingga 230.000 ton selama 10 tahun mulai kuartal IV/2024.

Sementara itu, General Motors mengumumkan investasi baru sebesar US$650 juta di Lithium Americas untuk mengembangkan proyek pertambangan lithium Thacker Pass di Nevada, AS. Stellantis mengakuisisi 8 persen saham Vulcan Energy, startup lithium Australia-Jerman senilai US$52 juta.

Adapun, Tesla juga mengumumkan rencana untuk membangun kilang lithium hidroksida baru di Pantai Teluk Texas. Di Kanada, General Motors, BASF, POSCO, dan Vale akan mengembangkan pusat baterai di Bécancour, Quebec, termasuk operasi bahan mentah, katoda, dan daur ulang.

Kekurangan Tembaga

Meskipun IEA menyampaikan kabar baik bagi pelaku transisi energi dan produsen otomotif yang mengalami lonjakan logam baterai tahun lalu, badan tersebut juga mengatakan bahwa upaya politik untuk mendiversifikasi pasokan global sejauh ini tidak efektif.

Bangunan yang digunakan untuk memproses kobalt mentah di tambang Etoile, yang dioperasikan oleh Chemaf Sarl, di provinsi Katanga dekat Lubumbashi, Republik Demokratik Kongo, Kamis (23/12/2021). Bloomberg/

Buktinya, 90 persen dari komitmen investasi pada pemurnian dan pemrosesan nikel terkonsentrasi secara geografis di Indonesia.

Investasi pertambangan juga belum terdistribusi secara merata. Selain itu, tembaga masih akan menghadapi kekurangan, kecuali jika ada peningkatan investasi.

Sementara tembaga memiliki pasar yang jauh lebih besar daripada lithium, nikel, dan kobalt, penggunaannya yang luas di sektor energi terbarukan dan kendaraan listrik memicu peringatan serupa dalam beberapa bulan terakhir.

Meski begitu, Citigroup mengatakan logam muncul sebagai cara yang disukai investor untuk bertaruh pada transisi energi, sebuah tren yang akan meningkatkan peluang penggalangan dana bagi penambang tembaga.

“Kami melihat ada peningkatan kebutuhan tembaga karena permintaan tumbuh sangat kuat. Dalam jangka menengah, keseimbangan pasokan dan permintaan tembaga mungkin agak menantang,” kata Birol.

Harga tembaga di pasar global melonjak hingga mencapai rekor hampir US$11.000 pada awal 2022 karena lonjakan permintaan selama pandemi membuat industri sangat kekurangan stok.

Goldman Sachs Group Inc., BlackRock Inc. dan Trafigura Group sebelumnya memperkirakan transisi energi hijau akan mendorong harga lebih tinggi lagi. Namun, sejauh ini laju harga tertahan oleh pemulihan China yang lambat, resesi industri di Eropa, dan suku bunga yang meningkat.

Penulis : Mardan Amin

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments