IndoBisnis – Mengonsumsi kentang goreng secara rutin dapat meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2. Itulah kesimpulan mengejutkan dari studi baru yang diterbitkan NBC News dalam jurnal medis bergengsi BMJ, Kamis (7/8/2025).
Penelitian ini mengungkap bahwa konsumsi kentang goreng sebanyak tiga porsi per minggu berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 hingga 20 persen. Sebaliknya, kentang rebus, panggang, atau tumbuk tidak menunjukkan kaitan signifikan terhadap penyakit kronis tersebut.
“Tidak semua kentang sama,” ujar penulis utama studi, Seyed Mohammad Mousavi, peneliti pascadoktoral di Harvard T.H. Chan School of Public Health. “Bahkan konsumsi kentang goreng dalam jumlah sedikit, kurang dari satu porsi per minggu, dikaitkan dengan peningkatan risiko.”
Mousavi menjelaskan, kandungan lemak trans dan lemak jenuh dari proses penggorengan berpotensi menyebabkan resistensi insulin, kondisi yang membuat tubuh sulit mengontrol gula darah. Ia menegaskan bahwa metode pengolahan makanan memainkan peran krusial dalam menentukan risiko kesehatan.
Studi ini melibatkan lebih dari 205.000 orang dewasa di Amerika Serikat selama hampir 40 tahun. Para peserta mengisi kuesioner tentang pola makan mereka, dan hasilnya dikaitkan dengan kasus diabetes tipe 2 yang muncul di kemudian hari.
Di sisi lain, Candida Rebello, Direktur Program Nutrisi dan Penyakit Kronis di Louisiana State University, mengingatkan bahwa kentang goreng menyerap lebih banyak kalori karena proses penggorengan. “Kalorinya naik drastis. Itu membuat orang lebih mudah mengalami kenaikan berat badan,” katanya, meskipun ia tidak terlibat dalam penelitian ini.
Perdebatan soal minyak penggorengan pun kembali mencuat. Menteri Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS, Robert F. Kennedy Jr., sempat menyebut minyak nabati yang digunakan saat ini “meracuni” warga Amerika. Ia bahkan mendorong restoran kembali memakai lemak sapi. Namun, pendapat itu ditolak keras oleh kalangan ilmuwan.
“Lemak sapi tinggi lemak jenuh dan lemak berbahaya lainnya. Kami jelas tidak merekomendasikannya,” tegas Mousavi.
Meskipun demikian, ada catatan bahwa studi ini tidak memperhitungkan tambahan bahan lain seperti mentega, keju, atau bacon yang biasa ditambahkan pada kentang rebus atau panggang. Menurut Shannon Galyean, asisten profesor ilmu gizi di Texas Tech University, hal ini dapat memengaruhi hasil.
“Kulit kentang itu kaya serat. Kalau dikonsumsi bersama kulitnya dan tidak ditambahkan lemak, kentang bisa jadi makanan sehat,” katanya.
Sebagai alternatif, Mousavi menyarankan memanggang kentang di rumah menggunakan minyak sehat seperti minyak zaitun atau alpukat. Ia juga menganjurkan mengganti kentang dengan biji-bijian utuh seperti farro, roti gandum, atau pasta gandum, yang memiliki indeks glikemik lebih rendah.
Fakta menarik lainnya, nasi putih ternyata justru memiliki hubungan yang lebih kuat dengan risiko diabetes tipe 2 dibandingkan semua jenis kentang.
Sementara itu, Potatoes USA, organisasi yang mempromosikan konsumsi kentang, melalui Direktur Komunikasi Megan Mulcahy, menegaskan bahwa kentang goreng tetap bisa menjadi bagian dari pola makan sehat “asal dikonsumsi dalam jumlah wajar.”
Galyean pun menekankan pentingnya melihat pola makan secara keseluruhan. “Orang tidak hanya makan satu makanan. Mereka makan berbagai makanan dalam satu pola makan,” ujarnya.
***
