- Ringkasan Berita:
- PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) memastikan operasional belum terdampak pemangkasan RKAB 2026.
- Kontrak jangka panjang menjadi penopang utama, meski perusahaan tetap waspada terhadap dinamika pasar nikel dan tekanan global.
IndoBisnis — PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) menegaskan operasional bisnisnya tetap stabil meski pemerintah memangkas Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) nikel tahun 2026. Kekuatan portofolio di sektor jasa penunjang pertambangan dan penggalian dinilai menjadi tameng utama di tengah tekanan produksi.
Direktur Operasional MINE, Ade Irawan, mengungkapkan bahwa penurunan RKAB dari 370 juta ton pada 2025 menjadi 260 juta ton pada 2026 belum berdampak terhadap kinerja perseroan.
“Penurunan RKAB yang dari dulu 370 juta ton di tahun 2025 menjadi 260 juta ton di 2026, untuk saat ini belum berpengaruh di perseroan kami karena kami memiliki kontrak jangka menengah dan jangka panjang hingga sampai 5 tahun,” ujar Ade dalam paparan publik perseroan, dikutip Jumat (24/4/2026).
Secara tidak langsung, manajemen menegaskan bahwa belum ada penyesuaian volume operasional. Seluruh lini produksi, mulai dari jasa transportasi tambang hingga penggalian, telah diamankan melalui kontrak kerja sama dengan klien.
Namun demikian, MINE tetap mengantisipasi risiko. Perusahaan mencermati dinamika pasar global, termasuk potensi penurunan produksi nikel dan surplus pasokan di pasar China.
“Tentunya dengan peraturan dari pemerintah ini, kami akan memonitoring setiap saat dan mengantisipasi jika sudah ada dampaknya terhadap perseroan kami,” kata Ade.
Sepanjang 2025, MINE tetap mencatatkan pertumbuhan di tengah kompleksitas industri tambang dan tekanan ekonomi global. Pendapatan perseroan meningkat 11,8 persen menjadi Rp2,36 triliun dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan ini ditopang oleh kontribusi dua lini bisnis baru, yakni proyek pembangunan jalan dari PT Erabaru Timur Lestari serta proyek penambangan yang dikelola oleh PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), yang memperkuat fondasi bisnis perusahaan.
Di sisi lain, laba bersih justru mengalami koreksi. Dari Rp306,1 miliar pada 2024, laba turun menjadi Rp202,029 miliar pada 2025. Penurunan ini secara tidak langsung dipicu oleh meningkatnya beban operasional dari proyek-proyek besar yang sedang berjalan.
Memasuki 2026, MINE tetap agresif memburu kontrak baru sambil menjaga kepercayaan klien yang telah terbangun. Perseroan juga terus mengembangkan lini bisnis untuk meningkatkan daya saing dan memperluas peluang pertumbuhan.
Strategi ini menegaskan sikap perusahaan, bertahan di tengah tekanan sekaligus memperluas ekspansi di sektor tambang yang semakin dinamis.

***
Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.
Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Bisnis MINE Aman RKAB Nikel Dipangkas
Disclaimer
Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
