Sebuah video singkat di TikTok membongkar borok proyek geotermal di Galela Selatan. Perusahaan dan pemerintah kecamatan dituding menutup dokumen AMDAL dari publik. Warga pun menyorot bahaya laten yang bisa menyerupai tragedi lumpur Lapindo.
GALELA – Publik kembali diguncang isu panas. Sebuah video berdurasi 0:25 detik dari akun TikTok @amjit061 menyita perhatian banyak pihak. Video tersebut menyorot sikap perusahaan geotermal dan pemerintah Kecamatan Galela Selatan yang dinilai menutup rapat dokumen Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dari masyarakat.
“Ini alasan pihak perusahaan geotermal dan pemerintah kecamatan Galela Selatan tidak berani membongkar dokumen AMDAL. Sampai hari ini, masyarakat masih bertanya-tanya tentang titik lokasi gas bumi di Galela. Apakah itu berdampak buruk bagi lingkungan atau tidak,” ujar suara dalam video tersebut.
Kecurigaan warga semakin menguat ketika mereka mengaitkan kasus ini dengan tragedi lumpur Lapindo. Video itu menegaskan bahwa bencana Lapindo adalah bukti nyata betapa aktivitas perusahaan yang tidak dikelola dengan baik bisa berakhir petaka bagi rakyat. “Kita belajar di Jawa. Ada desa yang harus pindah karena lumpur Lapindo. Jangan sampai Galela mengalami nasib yang sama,” ungkap narasi dalam video.
Tulis dia mengaku resah dengan sikap bungkam pemerintah kecamatan. Mereka menilai, diamnya pejabat hanya memperbesar kecurigaan bahwa dokumen AMDAL memang tidak pernah ada, atau sengaja disembunyikan.
“Kita harus jujur. Pemerintah kecamatan Galela sepertinya takut melakukan sosialisasi AMDAL. Atau mungkin mereka memang tidak punya AMDAL. Kalau ada, kenapa tidak dibuka ke publik? Jangan sampai rakyat diracuni gas beracun sementara pejabat dan perusahaan berpura-pura tidak tahu,”
Video itu juga menyebut adanya “borjuis tambang” di balik perusahaan geotermal. Kelompok elit ini diduga kuat hanya memanfaatkan proyek gas bumi demi kepentingan pribadi.
“Di balik perusahaan gas bumi ada kelompok borjuis yang mengatur kepentingan mereka. Pada akhirnya masyarakat yang jadi korban. Jangan percaya perusahaan. Kalau percaya, sama saja kita dijadikan kambing hitam,” tegas narasi dalam video tersebut.
Pada tahun 2019, lokasi geotermal di Galela sudah sempat dipetakan. Namun saat itu, perusahaan belum masuk tahapan eksplorasi. Kini, enam tahun berselang, pada 2025, publik mendapati bahwa perusahaan masuk diam-diam tanpa sosialisasi terbuka.
“Diskusi soal AMDAL ini penting. Ini menyangkut masa depan lingkungan dan generasi. Kalau dibiarkan, masyarakat hanya akan menerima dampak buruknya. Jangan sampai Galela dijual demi kepentingan kelompok kecil,”
Hingga berita ini dipublikasikan, pihak perusahaan geotermal dan pemerintah Kecamatan Galela Selatan belum memberikan klarifikasi resmi.
Namun, satu hal sudah jelas: kepercayaan publik makin tergerus, dan ketertutupan AMDAL hanya memperbesar potensi konflik.
***
