Haltim | Aliansi Masyarakat Bersatu Lingkar Tambang Kecamatan Wasile Selatan, Halmahera Timur, berjalan kaki sekira 74 km, melewati perbukitan, mendatangi tambang nikel di Kao Rahai. pada siang, Kamis 02 Juli 2021 lalu.
Sekitar 450 warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Bersatu Lingkar Tambang itu, terdiri dari Keempat warga desa itu yakni Desa Nusa Jaya, Desa Ekor, Ekorino, dan Desa Inojaya, melakukan aksi protes dengan berjalan kaki membawa bendera Merah Putih dan spanduk yang ditujukan pada PT Weda Bay Nickel (PT WBN) dan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (PT IWIP).

Aksi tersebut dilakukan guna menuntut hak atas lahan warga sekira 200 hektar milik masyarakat, yang telah dikapling untuk dijadikan lokasi tambang namun sayangnya lahan tersebut baru dibayar pihak perusahan sekira 80 hektar.
“Kami sangat kecewa mau bertemu dengan manejemen (PT IWIP) tapi manejemen tidak mau menemui dan hanya diwakili,” ungkap Kordinator Lapangan, Ruslan Hi Idris, malam ini.
Ruslan mengatakan, dari lahan sekira 200 hektar milik masyarakat, telah dikapling untuk dijadikan lokasi tambang namun sayangnya lahan tersebut baru dibayar pihak perusahan sekira 80 hektar.
“Sisa 120 hektar dibayar kemana? kami minta trasparan tentang pembayaran lahan apalagi lahan tersebut milik masyarakat Wasile Selatan, Haltim bukan masyarakat Halteng (Halmahera Tengah),” kata Ruslan.
“kami sudah jauh datang dari kampung dan melakukan perjalanan selama dua hari, kalau perusahaan mengangap enteng. Kami boikot aktivitas sampai tuntutan kami direalisasi,” tutup Ruslan .
Warga empat desa berniat menemui pihak manajemen PT WBN dan PT IWIP dan menyampaikan tuntutan mereka. Pada Kamis sore (2/7), warga 4 desa baru bisa melakukan pertemuan dengan pihak perusahan.
Dalam pertemuan itu, belum ada titik temu, hingga warga 4 desa akhirnya bermalam menduduki lokasi tambang, tepatnya di jalan menuju lokasi pengambil bijih nikel milik PT IWIP. mereka pun mendirikan tenda dan tidur di tengah jalan itu.
Dikutip dari berita cermat media Online Kumparan.com, dilokasi kilo meter 30 di jalan Akeman Karohae, massa mendirikan tenda di tengah jalan, sehingga aktivitas pengambilan dan mengangkutan or atau biji nikel terhenti. Aparat dari polres Halmahera Tengah, ,Brimob Polda Maluku Utara, anggota TNI dari Koramil Weda, Satgas, Kodim persiapan serta sekuriti perusahan masih melakukan pengamanan dan situasi masih aman terkendali.
Sementara itu, Humas PT IWIP, Agnes Megawati ketika dihubungi mengaku, pihaknya belum menerima tuntutan warga secara tertulis. Namun, Agnes mengaku akan tetap mendengar aspirasi warga.
“Kita tunggu saja bagaiamana nanti aspirasi warga dan kami akan usahakan penyelesainnya yang sebaik-baiknya, baik untuk warga maupun perusahaan,” kata Agnes.
“Saat ini tanggapan kami seperti ini ya, kami dengarkan dulu dan akan upayakan solusinya,” tambah Agnes.
Sumber : Kumparan.com
Editor : IndoBisnis Tim


