Kamis, April 16, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI ANALISISEkspor Nikel Malut Tembus Rp175 Triliun, tetapi 219 Ribu Warga Masih Tinggal...

Ekspor Nikel Malut Tembus Rp175 Triliun, tetapi 219 Ribu Warga Masih Tinggal di Hunian Tak Layak

  • Ledakan Ekspor vs Kesenjangan        Kesejahteraan di Maluku Utara. 

 

Pakar Ekonom Universitas Khairun Ternate, Dr. Mukhtar Adam, menegaskan bahwa data ekonomi terbaru Maluku Utara menunjukkan dominasi luar biasa sektor ekspor, khususnya komoditas nikel yang nilainya mencapai level fantastis.

Menurutnya, capaian ekspor ini bahkan jauh melampaui Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi dan total Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) kabupaten/kota.

Dalam analisisnya, Dr. Mukhtar menjelaskan bahwa ekspor nikel telah menjadi motor ekonomi yang bergerak begitu agresif sehingga menciptakan jurang kontras antara kemakmuran makro dan kondisi kesejahteraan masyarakat di tingkat akar rumput. “Nilai ekspor ini luar biasa besar. Namun masih ada tantangan di sektor-sektor dasar yang belum tersentuh,” ujarnya.

  • Angka Ekspor Meledak, Kurs BI Jadi Penopang Perhitungan

Berdasarkan data yang dianalisis oleh Dr. Mukhtar Adam, aktivitas ekspor Maluku Utara hingga September mencatatkan nilai kumulatif yang sangat signifikan:

  • Total Nilai Ekspor (USD): 10.535.290.068,13
  • Total Nilai Ekspor (Rupiah): Rp175.939.344.137.771,00 (dibulatkan menjadi Rp175,94 triliun)

Konversi nilai tersebut menggunakan Kurs Tengah BI, yaitu 1 USD = Rp16.700, yang menghasilkan angka rupiah fantastis dan mencerminkan derasnya aliran devisa dari Maluku Utara.

Perbandingan tiga indikator ekonomi regional menunjukkan jurang kuasa ekonomi yang lebar:

  • Ekspor Nikel: Rp175,94 triliun
  • PDRB Maluku Utara (2024): Rp95,79 triliun
  • APBD 10 Kabupaten/Kota + Provinsi: Rp17,32 triliun

Nilai ekspor nikel tercatat hampir dua kali lipat PDRB, atau sekitar 183,67 persen dari total ekonomi provinsi. Ini menjadi bukti kuat bahwa Maluku Utara masih sangat bergantung pada sektor ekstraktif yang berorientasi ekspor global.

Menurut Dr. Mukhtar, tingginya ekspor tidak otomatis memperluas kesejahteraan. Ia menegaskan, “Ekonomi kita tumbuh, tetapi tidak semua masyarakat merasakan manfaat langsungnya. Perlu ada strategi agar multiplier effect dari nikel bisa lebih merata.”

Kinerja ekspor bulanan Januari–September menunjukkan dinamika menarik:

  • Tertinggi dalam USD: Mei, dengan nilai 1.487.197.543,83
  • Tertinggi dalam Rupiah: September, mencapai Rp760.549.001,00

Perbedaan ini menggambarkan pengaruh fluktuasi nilai tukar dan harga komoditas global. Dr. Mukhtar menyebutkan bahwa volatilitas harga global berpengaruh langsung terhadap nilai rupiah yang dicatatkan daerah.

Di balik fantastisnya kinerja ekspor, Maluku Utara masih menghadapi tantangan besar dalam aspek kesejahteraan penduduk. Data kependudukan menunjukkan:

  • Total penduduk Pulau Halmahera: 619.836 jiwa
  • Tinggal di lokasi layak huni: 534.353 jiwa
  • Tinggal di lokasi tidak layak huni: 219.701 jiwa

Angka tersebut menunjukkan ketimpangan serius. “Ini ironi yang harus menjadi perhatian. Di satu sisi, kita menghasilkan ratusan triliun dari ekspor. Di sisi lain, ratusan ribu warga masih hidup di hunian tidak layak,” ujar Dr. Mukhtar secara tegas.

Menurutnya, temuan ini menunjukkan perlunya pembenahan sistemik agar kekuatan ekonomi makro dapat mendorong perbaikan kualitas hidup secara nyata. Ia menekankan bahwa APBD sebesar Rp17,32 triliun harus dialokasikan lebih strategis agar mampu mengatasi kesenjangan pembangunan.

Dr. Mukhtar menutup analisanya dengan menegaskan bahwa Maluku Utara membutuhkan kebijakan yang mampu mentransformasikan ekspor raksasa menjadi kesejahteraan rakyat.

“Kita perlu memastikan efek berganda dari ekspor nikel benar-benar memperkuat PDRB dan meningkatkan kualitas layanan publik. Tanpa itu, pertumbuhan ekonomi hanya akan tampil cantik di laporan, bukan di kehidupan masyarakat.”

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments