Sabtu, Februari 14, 2026
spot_img
BerandaIKLIMHarita Nikel dan PT IWIP Sponsor COP 30 di Brazil Demi Menjaga...

Harita Nikel dan PT IWIP Sponsor COP 30 di Brazil Demi Menjaga Citra di Mata Dunia

  • Dominasi Korporasi, Kaburnya Komitmen Iklim, dan Ancaman Greenwashing di Panggung Global.

 

Menjelang berakhirnya Konferensi Para Pihak (COP) ke-30 di Belem, Brazil, organisasi masyarakat sipil Trend Asia kembali mengkritisi lemahnya komitmen iklim Indonesia.

Kritik tersebut terutama diarahkan pada konflik kepentingan bisnis yang membayangi struktur kepemimpinan dan komposisi delegasi Indonesia, yang dinilai lebih merepresentasikan kekuatan korporasi daripada kepentingan publik.

Delegasi Republik Indonesia (DELRI) beranggotakan 450 orang dan dipimpin langsung oleh Hashim Sumitro Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo, yang menjabat Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi.

Namun posisi tersebut menuai sorotan karena Grup Arsari milik Hashim memiliki keterkaitan kuat dengan industri sawit, pertambangan, dan energi fosil—tiga sektor yang selama ini menjadi sorotan dunia karena kontribusinya terhadap kerusakan lingkungan.

“Delegasi Indonesia di pertemuan ini dipimpin pebisnis dan disponsori pebisnis. Maka siapa yang dinegosiasikan—kepentingan masyarakat, atau portofolio bisnis oligarki perusak lingkungan?” ujar Novita Indri Pratiwi, Juru Kampanye Energi Trend Asia.

Agenda Iklim Dikaburkan oleh Kepentingan Korporasi

Trend Asia menilai bahwa dominasi sponsor korporasi dalam pembiayaan delegasi memperkuat dugaan bahwa agenda pasar lebih diutamakan ketimbang agenda melawan krisis iklim. Dalam situasi seperti ini, rakyat terdampak justru semakin tersisih dari proses pengambilan keputusan.

Tidak mengherankan bila Indonesia akhirnya tidak termasuk dalam 80 negara yang mendorong inisiatif peta jalan transisi energi dari bahan bakar fosil.

Sikap ini sejalan dengan rencana revisi Perpres 112 Tahun 2022, yang tetap membuka ruang pembangunan PLTU baru, meski berseberangan dengan janji Presiden Prabowo untuk menghentikan semua PLTU dalam 15 tahun ke depan.

Kebijakan yang kontradiktif ini memperkuat dugaan bahwa kepentingan industri fosil masih sangat dominan dalam arah kebijakan negara.

Deretan Sponsor: dari Tambang Nikel hingga Konglomerasi Energi Fosil

Sponsor delegasi Indonesia bukan nama kecil. Mereka merupakan pemain raksasa di sektor energi, tambang, dan kehutanan, dengan rekam jejak panjang dalam isu perusakan lingkungan dan emisi tinggi.

Daftar sponsor tersebut meliputi:

  • Adaro Energy, Golden Energy Mines (Sinarmas Group), Pertamina, PLN,
  • Harita Nickel, Huayou, Vale, IMIP, IWIP, AMMAN, Medco Energi.

Untuk sektor kehutanan (FOLU), terdapat nama APP Sinarmas, April, dan Viriya ENB, yang selama ini kerap disorot karena aktivitas deforestasi dan kebakaran hutan.

Beberapa perusahaan memiliki catatan serius. Aktivitas pengerukan dan pengolahan nikel milik Harita dan IWIP di Maluku Utara, misalnya, berdampak besar terhadap pencemaran laut dan pesisir.

Sementara PT Vale, meski membangun citra hijau, tercatat berkali-kali mengalami insiden pencemaran. Di sektor kehutanan, perusahaan seperti Sinarmas sudah lama dikritik atas deforestasi masif dan kebakaran hutan berulang.

COP 30 Berubah Menjadi Bursa Karbon

Alih-alih memperkuat langkah mitigasi krisis iklim, aktivitas Indonesia di COP 30 justru berpusat pada mekanisme pasar karbon. Paviliun Indonesia menjadi ruang Seller Meet Buyer (SMB), menampilkan 44 proyek ‘hijau’ dengan target penjualan karbon senilai Rp 16 triliun.

Namun mekanisme ini dianggap berisiko menjadi pintu belakang bagi korporasi sektor ekstraktif untuk terus beroperasi tanpa perubahan berarti, sambil berlindung di balik skema kompensasi karbon.

“Langkah pemerintah memberi kuasa besar pada korporasi untuk memimpin Indonesia dalam pertemuan ini, sama saja memberikan lisensi bagi mereka untuk cuci tangan dari dosa emisi dan perusakan lingkungan mereka, serta menggunakan ‘akal-akalan hijau’ dalam branding mereka,” pungkas Novita.

Kritik ini memperlihatkan jurang antara citra yang dibangun di panggung internasional dan realitas lapangan di wilayah tambang Indonesia.

Di satu sisi, Harita Nikel dan PT IWIP berusaha tampil sebagai mitra perubahan iklim global. Tetapi di sisi lain, jejak ekologis yang ditinggalkan operasi mereka di daerah justru menjadi bukti kontras dari narasi hijau yang ditebarkan.

Konferensi iklim seharusnya menjadi ruang penyelamatan bumi, bukan panggung kosmetik untuk memutihkan citra industri ekstraktif. Namun, ketika kepentingan korporasi mendominasi, masa depan iklim kembali dipertaruhkan.

***

Mardan Amin Jurnalis IndoBisnis berkontribusi pada cerita ini.

Artikel ini pertama kali diterbitkan Trend Asia 21 November 2025 dengan judul: COP 30 Brazil: Delegasi RI Didominasi Sponsor Tambang dan Energi Fosil

Disclaimer

Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung.

IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial Anda. Konsultasikan dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments