Minggu, April 26, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISRKAB Seret, Weda Bay Nickel Stop Produksi Pertengahan Mei 2026

RKAB Seret, Weda Bay Nickel Stop Produksi Pertengahan Mei 2026

  • Ringkasan Berita:
  • Kuota produksi PT Weda Bay Nickel (WBN) hanya 12 juta ton pada 2026 dipastikan habis lebih cepat, memaksa tambang berhenti sementara pada Mei.
  • Di tengah lonjakan permintaan smelter dan biaya produksi, Eramet menyiapkan revisi RKAB ke pemerintah.

IndoBisnis – Tekanan kebijakan langsung menghantam operasi tambang nikel raksasa di Maluku Utara. Eramet SA memastikan kuota produksi bijih nikel PT Weda Bay Nickel sebesar 12 juta wet metrik ton (wmt) akan habis pada pertengahan Mei 2026. Konsekuensinya tegas: tambang bersiap berhenti sementara.

Langkah penghentian ini bukan tanpa sebab. Manajemen tengah mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 kepada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral guna menaikkan kapasitas produksi.

“Permohonan revisi izin peningkatan kapasitas saat ini sedang diajukan oleh PT WBN, menyusul persetujuan RKAB awal yang membatasi produksi bijih nikel sebesar 12 juta metrik ton untuk 2026, yang target produksinya akan tercapai pada pertengahan Mei; tambang tersebut bersiap untuk memasuki masa perawatan dan pemeliharaan pada bulan Mei, sambil menunggu hasil revisi ini,” tulis Eramet dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (25/4/2026).

Kuota Anjlok, Produksi Tercekik. Penetapan kuota 12 juta ton pada 2026 menjadi pukulan telak. Angka ini merosot sekitar 70% dibandingkan rencana awal yang sempat disetujui hingga 42 juta ton.

Padahal, kebutuhan industri justru melonjak. Smelter berbasis high pressure acid leach (HPAL) di kawasan PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) membutuhkan pasokan hingga 100 juta ton bijih nikel.

Artinya, terjadi jurang besar antara suplai dan kebutuhan. WBN kini berada di posisi terjepit: kuota dibatasi, permintaan membengkak.

Penjualan Melonjak, Kadar Menurun. Di tengah keterbatasan kuota, performa penjualan justru menunjukkan lonjakan signifikan. Pada kuartal I-2026, penjualan bijih ke pihak eksternal mencapai 8,3 juta ton, naik 54% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Rinciannya:

  • Saprolit: 4,8 juta ton (naik 27%)
  • Limonit: 3,6 juta ton (melonjak 118%)
  • Lonjakan ini didorong kuat oleh permintaan smelter HPAL di kawasan IWIP.

Namun, ada sinyal lain yang tak bisa diabaikan. Kadar nikel rata-rata turun dari 1,6% pada kuartal I-2025 menjadi 1,5% pada kuartal I-2026—indikasi tekanan kualitas cadangan.

Produksi NPI Turun, Premi Harga Naik. Di lini hilir, performa tak sepenuhnya solid. Smelter rotary kiln electric furnace (RKEF) WBN hanya memproduksi sekitar 9.000 ton nickel pig iron (NPI), turun tipis 1%. Penjualan bahkan turun 2% menjadi 3.800 ton.

Namun, di sisi harga, WBN justru menikmati keuntungan. “PT WBN terus menikmati premi yang signifikan, lebih dari 100% selama kuartal ini dibandingkan dengan Indeks Nikel HPM, untuk harga jual saprolit berkadar tinggi, di tengah pembatasan pasokan domestik,” tulis Eramet.

Biaya Naik, Tekanan Bertambah. Masalah tak berhenti pada kuota. Biaya produksi tambang juga melonjak akibat kenaikan rasio pengupasan dan harga energi, dengan dampak mulai terasa sejak Maret 2026.

Manajemen Eramet mengakui, kebijakan pemerintah memang bertujuan menjaga keseimbangan pasar dan keberlanjutan industri. Namun di lapangan, tekanan operasional kian nyata.

Struktur Kepemilikan dan Operasi. Weda Bay Nickel beroperasi sejak 2019 dengan izin usaha pertambangan khusus (IUPK) hingga 2069. Struktur kepemilikannya terdiri dari.

  • Tsingshan Group: 51,2%
  • Eramet SA: 37,8%
  • PT Aneka Tambang (Persero) Tbk: 10%

Dengan komposisi ini, WBN menjadi salah satu simpul kunci rantai pasok nikel global. Kuota habis, tambang berhenti. Kini, nasib operasi Weda Bay Nickel bergantung sepenuhnya pada keputusan revisi RKAB pemerintah.

Jika revisi molor, bukan hanya produksi yang terganggu—rantai pasok industri nikel nasional ikut tersendat.

***

Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.

Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: RKAB Seret, Weda Bay Nickel Stop Produksi Pertengahan Mei 2026

Disclaimer

Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.

IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments