Jumat, April 17, 2026
spot_img
BerandaBERANDANasionalAnalisis Saham Pertambangan: ANTM dan MBMA Paling Terdampak Kenaikan Royalti?

Analisis Saham Pertambangan: ANTM dan MBMA Paling Terdampak Kenaikan Royalti?

Jakarta, IndoBisnis – Sektor pertambangan logam, termasuk saham-saham seperti TINS, NCKL, ANTM, MBMA, MDKA, dan INCO, mendapatkan peringkat netral dari analis. Rumor kenaikan royalti bijih nikel dari 10% menjadi 15%, meskipun dibantah Kementerian ESDM, tetap menjadi perhatian.

BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan kenaikan royalti 5% akan menurunkan laba bersih ANTM dan INCO sebesar 9% dan 3% (penjualan bijih saprolit), serta laba bersih NCKL dan MBMA sebesar 2% dan 8% (penjualan bijih limonit). ANTM dan MBMA diprediksi paling terdampak karena penjualan bijih merupakan produk dengan margin terbesar. Meskipun INCO juga terpengaruh, kontribusi bijih terhadap pendapatannya hanya sekitar 6%.

“ANTM dan MBMA diperkirakan paling terpengaruh oleh kebijakan tersebut, karena penjualan bijih masih menjadi produk dengan margin paling besar. Sementara itu, meski INCO juga terpengaruh, kontribusi bijih terhadap total pendapatan hanya sekitar 6%,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Naura Reyhan Muchlis dalam risetnya. Pada Minggu, 23 Februari 2025 sumbernya: (Investor.id)

Potensi larangan ekspor bijih nikel dari Filipina pada Juni 2025 juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan. Indonesia mengimpor sekitar 10 juta ton bijih dari Filipina pada 2024, sementara China mengimpor 44 juta ton. Situasi ini berpotensi mempengaruhi pasokan dan harga nikel global.

Kesimpulannya, investasi di sektor pertambangan logam saat ini dinilai netral, dengan ANTM dan MBMA yang diperkirakan paling rentan terhadap potensi kenaikan royalti. Investor perlu mempertimbangkan faktor-faktor tersebut sebelum mengambil keputusan investasi. (Red)

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments