JAKARTA, IndoBisnis – Anggota Komisi X DPR, Zainuddin Maliki, menyatakan tidak mempermasalahkan keputusan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) yang resmi menghapus jurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA sederajat.
Penghapusan ini merupakan bagian dari penerapan Kurikulum Merdeka Belajar yang kini menjadi Kurikulum Nasional.
Zainuddin mengungkapkan bahwa Komisi X DPR telah menyepakati penerapan kurikulum ini secara bertahap, termasuk penghapusan jurusan tersebut.
“Kalau itu diterapkan dengan baik, bisa ada bimbingan tentang pengenalan minat dan bakat itu memang menurut saya lebih bagus,” kata Zainuddin dikutip IndoBisnis.co.id, dari CNN Indonesia, pada Kamis, 18 Juli 2024.
Namun, Zainuddin juga menyoroti potensi kelemahan dari penghapusan jurusan ini. Menurutnya, menentukan minat dan bakat bukan perkara mudah bagi siswa yang umumnya masih berusia remaja dan berada dalam proses pencarian jati diri.
“Kadang-kadang yang diminati hari ini ternyata itu bukan minat yang sebenarnya,” ujarnya.
Meski demikian, Zainuddin, yang juga merupakan Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya, meyakini bahwa jika keputusan ini diterapkan dengan tepat, hasilnya akan positif. Siswa akan mendalami bidang yang benar-benar sesuai dengan minat dan bakat mereka.
Sebagai contoh, Zainuddin menyebut pesepak bola profesional asal Argentina, Lionel Messi, yang sejak kecil sudah diketahui bakatnya dalam sepak bola. Ia menegaskan bahwa pendidikan yang baik harus sesuai dengan minat dan bakat siswa.
“Kalau udah ketahuan sejak dini itu lebih bagus. Dan pendidikan yang bagus memang prinsipnya harus sesuai minat dan bakat,” imbuhnya.
Wakil Ketua Komisi X, Dede Yusuf Macan, menambahkan bahwa penghapusan jurusan ini bukanlah keputusan yang mendadak.
Keputusan ini telah direncanakan dan diuji coba dalam beberapa tahun terakhir. Namun, Dede mengingatkan agar keputusan ini disosialisasikan dengan baik karena masih ada sebagian masyarakat yang belum mengetahuinya.
“Apapun sistem pasti akan ada penyesuaian. Proses ini masih dirasakan karena masih banyak orang tua yang ini nggak sama seperti dulu. Jadi pasti akan ada riak-riak itu,” kata Dede.
Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan Kemendikbudristek, Anindito Aditomo, mengungkapkan bahwa pada tahun ajaran 2022, 50 persen sekolah sudah menerapkan Kurikulum Merdeka.
Sementara pada tahun 2024, tercatat sekitar 90 persen sekolah yang menerapkan kurikulum ini. Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berharap siswa bisa lebih fokus membangun basis pengetahuan yang relevan untuk minat dan rencana studi lanjutannya.
“Peniadaan jurusan di SMA dimaksud merupakan bagian dari implementasi Kurikulum Merdeka yang sudah diterapkan secara bertahap sejak tahun 2021,” kata Anindito
