- Ringkasan
- Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi 4,75 persen belum diikuti penurunan signifikan pada suku bunga kredit perbankan.
- Sepanjang 2025, BI telah memangkas suku bunga acuan hingga 125 basis poin, namun transmisi kebijakan moneter dinilai berjalan lambat.
- LPS menyoroti masih besarnya porsi simpanan berbunga tinggi atau special rate di atas tingkat bunga penjaminan (TBP) yang menahan penurunan suku bunga pinjaman.
- Meski demikian, Bank Indonesia tetap memproyeksikan pertumbuhan kredit 2026 berada di kisaran 8–12 persen.
IndoBisnis – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menilai penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI rate) menjadi 4,75 persen belum diikuti oleh penurunan suku bunga kredit perbankan secara signifikan. Padahal, sepanjang tahun 2025 Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 125 basis poin (bps) dari level sebelumnya 6 persen.
Ketua Dewan Komisioner LPS Anggito Abimanyu menyebut, lambatnya penurunan suku bunga kredit salah satunya dipengaruhi oleh masih besarnya porsi simpanan nasabah yang menerima bunga di atas tingkat bunga penjaminan (TBP).
“Saat ini ada sekitar 30 persen simpanan yang di antaranya special rate. Itu salah satu yang membuat suku bunga pinjaman tidak bisa turun sesuai yang diharapkan,” ujar Anggito dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2026 di Hotel Kempinski, Jakarta, Selasa (10/2).
Berdasarkan data LPS, porsi simpanan di atas TBP mencapai Rp3.336 triliun atau sekitar 30 persen dari total dana simpanan nasabah yang mencapai Rp13.424 triliun. Kondisi ini dinilai membuat biaya dana perbankan tetap tinggi meski suku bunga acuan telah diturunkan secara agresif.
Dari total simpanan di atas TBP tersebut, korporasi swasta mendominasi dengan porsi 50,31 persen. Selanjutnya diikuti dana pemerintah dan BUMN sebesar 22,77 persen, nasabah individu sebesar 22,69 persen, serta kategori lainnya sebesar 4,23 persen.
Anggito menambahkan, meskipun Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga acuan sebesar 75 bps hingga akhir tahun lalu, penurunan suku bunga kredit perbankan baru tercatat sekitar 0,5 persen.
“BI sudah turunkan 75 bps, tapi baru turun 0,5 persen suku bunga perbankan. Jadi transmisinya lambat,” ungkapnya.
Sementara itu, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2026 masih berada di kisaran 8–12 persen, meskipun lembaga pemeringkat Moody’s memangkas prospek utang Pemerintah Indonesia dari stabil menjadi negatif. Proyeksi tersebut menunjukkan peluang pertumbuhan kredit yang lebih tinggi dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar 9,69 persen.
Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial Bank Indonesia, Alexander Lubis, menegaskan bahwa berbagai indikator ekonomi masih mendukung proyeksi tersebut.
“Outlook kredit masih 8–12 persen karena semua variabel dan indikator lainnya masih menunjukkan hal-hal yang membuat kita bertahan di kuantitas proyeksi itu,” ujar Alexander dalam forum Editors Briefing BI di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/2).
Lambatnya transmisi penurunan BI rate ke suku bunga kredit kini menjadi sorotan. Kondisi ini dinilai berpotensi menahan laju penyaluran kredit dan mengurangi efektivitas pelonggaran moneter dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
***
Mardan Amin, Jurnalis IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.
Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: BI Rate Turun, Bunga Kredit Tak Bergerak.
Disclaimer
Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
