Selasa, Maret 10, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISNegara Masuk Kandang Ayam

Negara Masuk Kandang Ayam

  • Ringkasan
  • Pemerintah memutuskan masuk langsung ke hulu industri ayam dan telur melalui proyek peternakan terintegrasi yang dikelola Danantara.
  • Langkah ini ditempuh untuk mengimbangi dominasi dua perusahaan besar yang menguasai mayoritas perputaran uang sektor ayam dan telur nasional.
  • Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai, tanpa intervensi negara di hulu—pakan, vaksin, dan bibit ayam—konflik antara produsen dan peternak kecil akan terus berulang.
  • Keterlibatan BUMN diposisikan sebagai alat stabilisasi harga sekaligus penyeimbang kekuatan pasar yang selama ini dinilai timpang.

 

IndoBisnis – Keputusan pemerintah menggelontorkan proyek peternakan ayam terintegrasi ke Danantara menandai perubahan pendekatan dalam pengelolaan industri ayam dan telur nasional.

Negara tidak lagi sekadar mengatur dari hilir, tetapi masuk langsung ke hulu rantai produksi untuk menahan gejolak harga dan meredam konflik berkepanjangan antara produsen dan peternak kecil.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menjelaskan, proyek tersebut akan dibangun untuk menyuplai day old chicken (DOC) atau bibit ayam bagi peternak skala kecil.

Pemerintah memosisikan diri sebagai penyeimbang dalam struktur pasar yang selama ini dinilai berat sebelah.

“Pemerintah di hulu sebagai stabilisator,” kata Amran saat di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (10/2/2026).

Langkah ini diambil setelah pemerintah berulang kali mendapati peternak kecil kesulitan memperoleh DOC dengan harga terjangkau.

Ketimpangan tersebut memicu keributan berulang di sepanjang rantai industri, mulai dari produsen DOC, peternak, hingga konsumen akhir.

Menurut Amran, konflik tersebut tidak akan selesai meski Indonesia telah mencapai swasembada telur dan daging ayam. Tanpa intervensi di bagian hulu, persoalan harga akan terus berulang.

“Di hulu di mana? Pakan, vaksin, dan DOC. Tanpa itu tidak mungkin. Sampai kiamat pun kita ribut dengan konsumen dan produsen. Jadi dua-dua berteriak nih,” ujarnya.

Amran mengungkapkan, dirinya pernah mendapati kasus kenaikan harga DOC hingga 30 persen yang membuat peternak kecil menjerit.

Dalam situasi tersebut, ia secara langsung mengancam produsen DOC dengan pencabutan izin impor agar harga diturunkan.

“Kalau kamu tidak turunkan, aku setop impormu, impor DOC,” tutur Amran.

Pemerintah menilai keterlibatan BUMN di hulu industri ayam dan telur menjadi kunci stabilisasi.

Berbeda dengan perusahaan swasta, BUMN dinilai lebih mudah dikendalikan dan sejalan dengan kebijakan negara.

“Kenapa BUMN kita libatkan? Kalau BUMN-nya macam-macam, kita copot. Sederhana kan?” kata Amran.

“Ini pemerintah tidak mungkin macam-macam direksinya, garis komando. Kamu naikkan harga atau menyusahkan peternak, ya dia ditindak,” lanjutnya.

Amran secara terbuka mengakui bahwa langkah ini ditujukan untuk mengimbangi dominasi dua perusahaan besar yang menguasai industri ayam dan telur nasional.

Dalam kesempatan terpisah, ia menyebut nilai industri tersebut mencapai Rp554 triliun, dengan sekitar 70 persen perputaran uangnya dikuasai oleh dua kelompok usaha.

“Ini nilainya Rp554 triliun, 70 persen ini dipegang dua orang,” ujar Amran saat mengisi diklat Persatuan Wartawan Indonesia di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pertahanan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Jumat (30/1/2026).

Meski enggan menyebut nama perusahaan, Amran menyatakan kedua entitas tersebut menguasai hampir seluruh mata rantai produksi, mulai dari pakan, pembibitan ayam, hingga produksi daging ayam potong. Ketimpangan ini dinilai membuat peternak kecil semakin tertekan oleh tingginya biaya produksi.

“Ayam, dua orang yang pegang. Bukan kita benci mereka, tapi jangan masuk di sektor rakyat kecil, ekonomi orang kecil,” tegasnya.

Sebagai langkah konkret, pemerintah akan membangun 12 pabrik DOC, vaksin, dan pakan pada tahap awal. Pada tahap kedua, jumlah tersebut akan ditingkatkan menjadi 30 pabrik.

Intervensi ini diharapkan mampu menekan dominasi pasar dan memperkuat posisi peternak kecil dalam rantai industri.

“Kenapa? Ini yang membuat berat peternak kita, daya kuasanya dua orang saja,” pungkas Amran.

Masuknya negara ke “kandang ayam” kini menjadi pertaruhan besar: antara stabilisasi harga dan efisiensi pasar, serta antara kekuatan modal besar dan keberlangsungan peternak rakyat.

***

Mardan Amin, Jurnalis IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.

Artikel ini diterbitkan pertama kali oleh Kompas di ulasan ulang IndoBisnis dengan judul: Negara Masuk Kandang Ayam.

Disclaimer

Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.

IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments