- Ringkasan
- Sebuah pesan WhatsApp berisi kabar “demam” diduga menjadi umpan yang menyeret Ongky Nyong ke Desa Silang, Halmahera Selatan.
- Korban datang dengan niat memenuhi permintaan istrinya, namun yang ditemui justru kenyataan pahit: tubuhnya dihujani kekerasan hingga bersimbah darah.
- Dugaan keterlibatan keluarga dekat sang istri yang menjabat Kepala Desa, bayang-bayang konflik rumah tangga yang sempat viral, hingga munculnya dugaan upaya menghambat visum, memperlihatkan rangkaian peristiwa yang tidak sekadar insiden spontan, melainkan tragedi yang sarat kejanggalan, intrik, dan potensi tipu muslihat.
IndoBisnis — Sebuah pesan WhatsApp sederhana berubah menjadi pintu masuk tragedi berdarah. Ongky Nyong, SH., MH., diduga dipancing ke Desa Silang, Kabupaten Halmahera Selatan, setelah menerima kabar istrinya, S.DK, sedang demam dan sakit pada 7 Februari 2026.
Pesan itu menjadi alasan utama korban memutuskan datang, tanpa menyadari bahwa langkahnya menuju lokasi justru berujung pengeroyokan brutal.
Sehari berselang, 8 Februari 2026, Ongky berangkat dari Labuha menggunakan mobil milik kakak iparnya. Ia menegaskan, keputusannya datang bukan atas kehendak sendiri, melainkan karena permintaan langsung sang istri.
“Nah, sehingga butuh saya ke sana. Butuh saya datang di Silang. Itu yang benar,” tegas sumber IndoBisnis, Kamis (19/2/2026).
Namun, fakta di lapangan justru memukul balik kepercayaan tersebut. S.DK yang disebut demam ternyata tidak dalam kondisi sakit seperti yang disampaikan. Kontras antara pesan dan kenyataan itu menjadi titik awal insiden kekerasan yang kemudian menimpa korban.
Dalam situasi yang berubah drastis, Ongky diduga menjadi sasaran pengeroyokan dan penganiayaan berat oleh sejumlah orang yang disebut merupakan keluarga dekat istrinya, yang juga menjabat sebagai Kepala Desa Silang. Tubuh korban mengalami luka sobek, pembengkakan di bagian mulut, serta luka di berbagai titik tubuh lainnya hingga darah bercucuran.
Peristiwa berdarah itu terjadi pada Minggu, 8 Februari 2026, di wilayah Bacan Timur Selatan, Provinsi Maluku Utara. Korban baru dilarikan ke RSUD Labuha setelah mengalami kondisi luka serius, dan ironisnya diantar oleh S.DK sendiri.
Bayang-bayang konflik rumah tangga sebelumnya turut memperkeruh situasi. Nama S.DK sempat menjadi sorotan publik setelah dugaan kasus perselingkuhan viral di sejumlah media online pada akhir 2025.
Dalam pertemuan klarifikasi yang dihadiri kuasa hukumnya, Noldi Kurama, S.H., serta sejumlah pihak, S.DK bahkan secara terbuka meminta agar proses hukum terhadap suaminya tetap dilanjutkan.
“Meski sudah ada berita klarifikasi nanti, usahakan proses hukum terus dilanjutkan. Saya bersumpah dunia akhirat tidak akan lagi memperbaiki rumah tangga yang rusak, biar bubar saja,” ujar S.DK di hadapan kuasa hukumnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan sikap keras dan penolakan untuk memperbaiki hubungan. Namun, beberapa hari sebelum insiden, keduanya justru terlihat bersama duduk di sebuah warung sambil memesan kopi pahit. Kedekatan yang sempat terlihat itu kini menjadi kontras tajam dengan tragedi yang kemudian terjadi.
Keluarga korban yang tidak terima atas pengeroyokan tersebut langsung melaporkan kasus ini ke Polres Halmahera Selatan dengan nomor laporan STTLP/44/II/2026/SPKT. Berdasarkan laporan itu, polisi segera meminta visum medis untuk mengamankan bukti hukum atas luka-luka korban.
Namun, muncul dugaan serius yang memperkuat kecurigaan publik. S.DK disebut-sebut secara diam-diam meminta pihak rumah sakit agar visum tidak dilakukan terhadap korban. Dugaan ini memunculkan pertanyaan tajam mengenai motif di balik permintaan tersebut.
Beruntung, aparat kepolisian bertindak tegas. Polisi mendesak pihak medis tetap melakukan visum guna memastikan bukti kekerasan terdokumentasi secara resmi. Langkah ini menjadi krusial dalam mengungkap fakta dan memastikan para terduga pelaku tidak lepas dari jerat hukum.
Tragedi ini kini menjadi sorotan tajam. Dalih “demam” yang menyeret korban ke lokasi, diikuti pengeroyokan brutal, serta dugaan upaya menghambat visum, membentuk rangkaian peristiwa yang memunculkan dugaan kuat adanya skenario tersembunyi. Aparat penegak hukum kini memegang peran kunci untuk membongkar seluruh fakta, memastikan keadilan tidak terkubur di balik dalih dan tipu muslihat.
***
Mardan Amin, Jurnalis IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.
Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Dalih “SDK Demam” Diduga Tipu Muslihat, Ongky Nyong Dipancing ke Silang.
Disclaimer
Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
