- Ringkasan Berita:
- PT Berkah Moloku Kie Raha mulai mematangkan investasi wisata di Tidore.
- Potensi wisata bawah laut, sejarah rempah, hingga pasar wisatawan asing dinilai menjadi modal besar yang selama ini belum dimaksimalkan.
- Pada tahap awal, investor menyiapkan 10 kabin dengan nilai investasi Rp8 miliar hingga Rp15 miliar dan target pembangunan kurang dari enam bulan.
IndoBisnis – Rencana investasi wisata di Tidore mulai bergerak ke tahap eksekusi. PT Berkah Moloku Kie Raha melihat Tidore sebagai wilayah yang memiliki potensi besar di sektor wisata bahari, sejarah rempah, dan pasar wisatawan asing.
Dennis Driadie, Head of Business Relations PT Berkah Moloku Kie Raha, menegaskan tidak ada kendala berarti dalam proses kerja sama yang telah dibangun sejak nota kesepahaman atau MOU sebelumnya.
“Kendala sih nggak ada, hanya memang kita menganalisa kan nggak bisa asal,” ujarnya.
Menurut Dennis, proses menuju pelaksanaan membutuhkan waktu karena seluruh aspek bisnis dan pasar harus dihitung secara matang. Ia menyebut waktu satu tahun untuk riset dan penjajakan merupakan hal wajar sebelum proyek dijalankan.
“Jadi kita coba untuk MOU ada kesempatan kita tertarik, tapi kan kita menganalisa secara bisnis, secara market semuanya. Satu tahun itu cukup saya kira untuk akhirnya ada pertemuan saat ini untuk bisa mengeksekusi ini,” katanya.
Dennis menilai MOU sebelumnya bukan langkah yang sia-sia, melainkan bagian dari tahapan sebelum masuk ke fase pelaksanaan.
“Jadi saya pikir MOU yang dulu nggak salah juga, sekarang kita MOU lagi untuk mengeksekusi itu. Jadi nggak ada kendala,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Kota Tidore, wali kota, dan DPRD yang dinilai memiliki visi yang sama dalam pengembangan wisata.
“Saya senang bisa difasilitasi oleh Pemerintah Kota Tidore, Wali Kota Tidore, dan DPRD. Yang pasti penyelarasan, satu frekuensi, niat baik ini semoga bisa berjalan dengan baik,” katanya.
Dennis menjelaskan tujuan utama investasi tersebut adalah memperluas eksposur Tidore agar lebih dikenal secara nasional. Ia berharap keberadaan produk akomodasi baru dapat menarik investor lain untuk masuk.
Menurutnya, masih banyak potensi Tidore yang belum terangkat maksimal, mulai dari keindahan bawah laut, panorama alam, hingga sejarah rempah yang melekat kuat.
“Pemerintah pusat bisa melihat juga bahwa ada sesuatu yang belum terekspos dengan maksimal di sini terkait potensi dari bawah lautnya, alamnya dan lain-lain,” ujarnya.
Ia juga menyoroti pentingnya mengangkat kembali sejarah rempah dan jejak Portugis di Tidore sebagai bagian dari daya tarik wisata.
“Dan sejarah tentunya terkait rempah ya, jadi Portugis yang tahu ke sini itu kan harus diangkat juga,” katanya.
Investor melihat wisata selam sebagai pasar paling potensial. Dennis menilai Tidore memiliki banyak titik penyelaman yang menarik, tetapi belum didukung akomodasi yang memadai.
“Market dari dive center itu sangat baik sekali dan melihat Tidore itu banyak titik-titik spot yang terkait dive center ini,” ujarnya.
Karena itu, pihaknya menilai kehadiran Bobo Cabin dapat menjadi jawaban bagi wisatawan asing yang membutuhkan tempat menginap lebih layak dan modern.
“Karena saya lihat yang foreign market dari luar ini banyak juga sehingga bisa jadi jawaban Bobo Cabin. Sehingga bertahap, tahap satu kita kejar sea market itu,” katanya.
Pada tahap awal, investor menyiapkan sekitar 10 kabin dengan kapasitas berbeda-beda, mulai dari empat hingga delapan orang per unit. Nilai investasi diperkirakan berkisar Rp8 miliar hingga Rp15 miliar.
Dennis menegaskan pihaknya masih menghitung masa balik modal dan kelayakan ekonomi agar investasi yang masuk benar-benar terukur.
“Investasi kami, berapa lama break even-nya, berapa lama payback period-nya, itu yang harus saya pertanggungjawabkan,” ujarnya.
Selain Rum Balibunga, beberapa titik lain juga mulai dijajaki. Dennis mengaku telah melakukan survei ke Maitara dan sejumlah lokasi lain yang dinilai potensial.
“Saya sih sudah survei ke Maitara, ke beberapa titik, nanti kita lihat tahapan ini,” katanya.
Ia juga menilai kuliner lokal dapat menjadi daya tarik tambahan. Dennis mengaku terkesan dengan cita rasa sukun dan ikan cakalang yang menurutnya memiliki keunikan tersendiri.
“Sukun sama ikan cakalang, wah nggak bisa bohong, enak benar,” ujarnya.
Untuk proses pembangunan, Dennis memastikan pengerjaan dapat dilakukan dengan cepat karena menggunakan sistem modular.
“Kalau pembangunan kita cepat, karena kita modular, cepat di bawah enam bulan,” katanya.
Meski demikian, ia mengakui tantangan utama tetap berada pada distribusi logistik dari Jawa menuju Tidore.
“Yang jadi challenging adalah terkait logistik dari Jawa ke sininya, tapi pengalaman kita di mana-mana sudah ada,” ujarnya.
***
Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.
Artikel ini diterbitkan oleh IndoBisnis dengan judul: Investor Masuk, Tidore Siap Ubah Laut dan Rempah Jadi Uang.
Disclaimer
Informasi yang disajikan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai saran keuangan, hukum, maupun pajak.
IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil pembaca berdasarkan informasi dalam artikel ini. Pembaca disarankan berkonsultasi dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.
