Kamis, Juni 4, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISProvinsi Maluku Utara Jadikan Sektor Hilirisasi Nikel Sebagai Pertumbuhan Ekonomi 

Provinsi Maluku Utara Jadikan Sektor Hilirisasi Nikel Sebagai Pertumbuhan Ekonomi 

JAKARTA, IndoBisnis – Hilirisasi nikel menjadi sektor andalan Provinsi Maluku Utara yang diakui memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Pencapaian ini tidak lepas dari peran Harita Nickel, perusahaan teknologi pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi yang beroperasi di Pulau Obi, Halmahera Selatan, Maluku Utara.

Aidil Adha, Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Maluku Utara, menyatakan industri pertambangan dan pengolahan nikel menjadi penopang pertumbuhan ekonomi daerah, tumbuh sebesar 16,79% pada tahun 2021, dan 22,94% pada tahun 2022. , dan 20,49% pada tahun 2023.

Pertumbuhan produksi tertinggi disumbang oleh sektor pertambangan yaitu sebesar 49,07%. Hal itu diungkapkannya saat melakukan kunjungan bersama BPS dan Bank Indonesia (BI) ke wilayah operasional Harita Nickel.

Aidil menggambarkan Harita Nickel sebagai perusahaan pertambangan dan hilirisasi yang menerapkan metode bisnis berkelanjutan.

Mulai dari penerapan proses produksi yang canggih dan ramah lingkungan hingga pengelolaan aspek sosial yang terbukti memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.

Lebih lanjut, Aidil mencatat adanya pertumbuhan produksi padi yang signifikan di Halmahera Selatan, hal ini disebabkan oleh peningkatan produksi padi di Desa Buton, kelompok tani binaan Harita Nickel.

Aidil terkejut, meski kontribusi Harita Nickel terhadap pertumbuhan ekonomi Maluku Utara melonjak, namun belum termasuk Cobalt Sulfate (CoSO4) yang berhasil diproduksi Harita Nickel pada paruh kedua tahun 2023.

Dengan tambahan produk turunan tersebut, maka Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), ia berharap laju pertumbuhan ekonomi Malut semakin meningkat.

“Data apa yang membenarkan pertumbuhan tersebut? Rupanya akan terus meningkat karena selain Nikel Sulfat, ada produk turunannya lagi yaitu Cobalt Sulfate,” ungkapnya, dikutip IndoBisnis.co.id dari CNBC Indonesia pada Senin 27 Mei 2024.

Sekadar informasi, Nikel Sulfat (NiSO4) dan Cobalt Sulfate (CoSO4) merupakan komponen utama penghasil katoda baterai kendaraan listrik, sumber energi baru yang ramah lingkungan.


Harita Nickel Foto: Rombongan BPS dan BI Maluku Utara mengunjungi Anjungan Himalaya, yang sebelumnya merupakan areal bekas operasional pertambangan yang saat ini telah ditanami berbagai tanaman endemik melalui kegiatan reklamasi

Senada, Pakar Ekonomi BI Sulawesi Selatan Hasiando Manik menyebut Harita Nikel sebagai contoh bagaimana praktik hilirisasi berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan masyarakat setempat.

Nilai tambah Harita Nickel, jelasnya, adalah bagaimana perusahaan mengubah bahan-bahan yang sebelumnya tidak terpakai menjadi produk yang bernilai tinggi.

“Melalui salah satu prinsip penambangan yang baik, konservasi mineral, Harita Nickel dapat mengolah limonit, yang sebelumnya hanya dianggap limbah bernilai rendah, menjadi bahan baterai kendaraan listrik. Langkah ini merupakan strategi bisnis yang efisien dan menguntungkan,” jelasnya.

Selain mengunjungi kawasan pengolahan dan pemurnian bijih nikel, delegasi BI dan BPS juga mengunjungi dan berinteraksi langsung dengan penerima manfaat program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat perusahaan di wilayah operasionalnya di Pulau Obi.

Termasuk di dalamnya adalah kelompok tani, nelayan, dan usaha kecil menengah (UKM) yang menjadi binaan perusahaan.

Meski memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah, Aidil menekankan pentingnya Harita Nickel untuk mendukung pemerintah dalam menjaga sektor pertanian dan perikanan yang semakin terabaikan oleh masyarakat setempat.

Ia menegaskan, kesejahteraan masyarakat tidak hanya diukur dari pendapatan tetapi juga daya beli. Khususnya pada komoditas pangan seperti beras, cabai, dan tomat yang harganya berfluktuasi dan kerap menimbulkan inflasi.

“Walaupun pendapatan bisa meningkat, namun jika permintaan terhadap komoditas pangan naik, maka harganya akan melonjak karena harus diimpor. Namun, dari apa yang saya lihat di lapangan, Harita Nickel terlibat serius dalam pemberdayaan sektor pertanian,” ujarnya. keluar.

Foto: Rombongan BPS dan BI Maluku Utara saat mengunjungi pabrik yang mengolah produk antara Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) menjadi Nickel Sulfat dan Kobalt Sulfat sebagai material utama pembuatan katoda baterai kendaraan listrik.

Direktur Health, Safety, and Environment (HSE) Harita Nickel, Tonny Gultom, menyatakan awalnya perusahaannya hanya fokus di bidang pertambangan, namun kemudian beralih ke industri pengolahan seiring dengan kebijakan hilirisasi yang dilakukan pemerintah.

Ia yakin kebijakan pemerintah ini memberikan dampak yang signifikan dan memberikan nilai tambah yang cukup besar.

“Aktivitas yang kami lihat saat ini merupakan hasil jerih payah kami selama lima tahun terakhir. Awalnya kami hanya melakukan penambangan. Melalui hilirisasi, rencana operasional kami menjadi lebih panjang dan kompleks, dan yang terpenting dapat memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat. masyarakat dan wilayah setempat,” jelasnya.

Harita Nickel saat ini sedang mengembangkan Kawasan Industri Obi, didukung oleh izin yang diperoleh perusahaan.

Tidak hanya kapasitas produksi yang meningkat, barang-barang yang dihasilkan juga akan diolah lebih lanjut di hilir. Tonny mencontohkan, feronikel yang dihasilkan Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) akan menjadi stainless steel.

Sementara dari sisi lingkungan, sumber listrik saat ini yang masih mengandalkan energi berbasis fosil akan dialihkan ke sumber energi terbarukan melalui penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) secara bertahap mulai tahun ini.***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments