JAKARTA, IndoBisnis – Sejumlah investor di Amerika Serikat (AS) buka suara pasca insiden percobaan pembunuhan yang dialami mantan presiden dan calon presiden Partai Republik, Donald Trump, di Pennsylvania pada Sabtu (13/7/2024). Mereka memberikan pandangan mengenai masa depan pasar pasca insiden ini.
Dalam laporan CNBC International, analis Eastspring Investments di Singapura, Rong Ren Goh, menyatakan bahwa insiden penembakan ini dapat menjadi peluang besar bagi Trump untuk kembali menduduki kursi kepresidenan.
“Sebelum peristiwa tersebut, pasar telah bereaksi terhadap prospek kepresidenan Trump dengan mendorong dolar lebih tinggi dan memposisikan kurva imbal hasil Treasury AS yang lebih curam. Perdagangan ini dapat menguat dalam minggu mendatang,” ujarnya dikutip dari CNBC Indonesia pada Minggu, 14 Juli 2024.
Kepala investasi di Vantage Point Asset Management, Nick Ferres, juga menilai bahwa insiden ini mirip dengan kejadian pada tahun 1981 ketika Presiden Ronald Reagan mengalami hal serupa. “Seingat saya, Reagan naik 22 poin dalam jajak pendapat setelah upaya pembunuhan. Kemungkinan besar pemilu ini akan berjalan dengan baik. Hal ini mungkin mengurangi ketidakpastian,” ungkap Ferres.
Trump sendiri telah mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan pasca insiden ini, termasuk CEO Tesla Elon Musk dan manajer hedge fund, miliarder Bill Ackman. Melihat peluang ini, banyak investor menaruh taruhannya pada Trump. Menurut jajak pendapat Reuters/Ipsos, warga AS melihat Trump sebagai kandidat yang lebih baik dalam hal perekonomian.
Di bawah pemerintahan Trump, analis pasar memperkirakan kebijakan perdagangan yang lebih hawkish, lebih sedikit regulasi, dan pelonggaran regulasi perubahan iklim. Investor juga mengharapkan perpanjangan pemotongan pajak perusahaan dan pribadi yang akan berakhir tahun depan.
Dalam sebuah wawancara pada bulan Februari, Trump mengatakan bahwa dia tidak akan menunjuk kembali Ketua Federal Reserve Jerome Powell, yang masa jabatan empat tahun keduanya akan berakhir pada tahun 2026. Sementara itu, imbal hasil Treasury jangka panjang telah meningkat seiring dengan kemungkinan pemerintahan Trump yang kedua.
“Trump selalu lebih ‘pro-pasar’. Masalah utama yang perlu diwaspadai adalah apakah kebijakan fiskal masih longgar secara tidak bertanggung jawab dan dampaknya terhadap inflasi serta jalur suku bunga di masa depan,” tambah Ferres.***
