Kamis, April 16, 2026
spot_img
BerandaBERANDANasionalHadir PT Iwip Jadi Ancam Surga Bawah Laut Teluk Weda, Keanekaragaman Hayati...

Hadir PT Iwip Jadi Ancam Surga Bawah Laut Teluk Weda, Keanekaragaman Hayati Terbaik Dunia Terancam Hilang

IndoBisnis – Teluk Weda di Halmahera Tengah, Maluku Utara, dikenal sebagai salah satu kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia. Namun, ekspansi industri tambang nikel di kawasan ini dinilai mengancam keberlangsungan ekosistem yang begitu kaya tersebut.

Mengutip laporan gabungan Nexus3 Foundation, WALHI Maluku Utara, Tim Universitas Tadulako, serta dari Tim Universitas Khairun, disebutkan bahwa Halmahera memiliki konsentrasi keanekaragaman karang tertinggi di dunia berdasarkan studi Species Richness and Relative Abundance of Reef-Building Corals in the Indo-West Pacific tahun 2017.

Teluk Weda memiliki berbagai jenis habitat karang dan laut yang unik. Letaknya yang berada di luar zona badai tropis membuat pertumbuhan karang di wilayah ini tidak banyak terganggu. Salah satu contohnya, Pulau Widi di kawasan Teluk Weda dikenal memiliki tutupan karang lunak yang luas dan kepadatan ikan yang tinggi. Koloni karang raksasa yang diperkirakan telah berusia ratusan hingga ribuan tahun pun masih ditemukan dalam kondisi kuat.

Kekayaan laut Teluk Weda juga mencakup ikan, teripang, kepiting, udang, dan alga yang melimpah. Jenis-jenis echinodermata seperti bintang laut, bulu babi, dan teripang ditemukan di perairan jernih dan tenang di kawasan ini. Salah satu spesies langka yang mendiami perairan ini adalah Hemiscyllium halmahera, dikenal sebagai hiu berjalan atau hiu bambu, spesies endemik yang ditemukan pada 2013 dan kini termasuk dalam kategori hampir terancam punah menurut IUCN.

Menurut laporan yang sama, Teluk Weda juga merupakan bagian dari Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) yang menyumbang 30% dari total terumbu karang dunia, meskipun hanya mencakup 1,5% luas lautan dunia. Penelitian menggunakan citra satelit Landsat 7ETM oleh Djamhur et al. mencatat ada 85 jenis gugusan karang dengan luas 1.773 hektare di kawasan ini.

Dalam studi tahun 2014, Djamhur et al. juga menemukan potensi besar pengembangan ekowisata bahari di Teluk Weda:

1. kowisata selam seluas 488 hektare

2. Ekowisata snorkelling seluas 551 hektare

3. Ekowisata mangrove seluas 620 hektare

Sebagai perbandingan, potensi ekowisata bahari di Raja Ampat, yang dikenal sebagai primadona wisata bahari Indonesia, hanya mencapai:

1. Ekowisata selam: 463 hektare

2. Snorkelling: 159 hektare

3.Mangrove: 135 hektare

Namun, potensi luar biasa ini kini dibayangi oleh dampak negatif industri nikel. “Industri nikel di Halmahera menimbulkan ancaman besar terhadap keanekaragaman hayati,” tulis laporan tersebut. Aktivitas tambang menyebabkan deforestasi, erosi tanah, dan perusakan habitat, termasuk habitat spesies endemik yang sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan.

Hilangnya keanekaragaman hayati juga berdampak pada stabilitas ekosistem. Proses alam seperti penyerbukan, pemurnian air, dan penyerapan karbon ikut terganggu. Ini bisa mengancam kesehatan lingkungan jangka panjang, tidak hanya di Teluk Weda, tetapi juga di kawasan sekitar.

Selain kerusakan lingkungan, ekspansi tambang juga berdampak pada ekonomi lokal, khususnya sektor ekowisata dan perikanan pesisir yang menjadi tulang punggung pendapatan masyarakat. Jika keindahan alam terus tergerus, jumlah wisatawan dikhawatirkan akan menurun drastis.

Nicole Helgason, Spesialis Karang asal Kanada

Nicole Helgason, spesialis karang asal Kanada yang mengunjungi Teluk Weda pada 2018, menyampaikan kesannya dalam kutipan berikut:

“Teluk Weda membuat saya takjub! Koloni karangnya sangat besar, bahkan terbesar yang pernah saya lihat, tepat di dekat pantai Terumbu Kobe. Ada jenis-jenis karang yang belum pernah saya temui di tempat lain. Saya sudah melihat banyak karang di Indonesia, dari Sulawesi Utara hingga Raja Ampat, tapi tempat ini benar-benar istimewa,”

Dengan segala potensi dan kekayaan alamnya, para peneliti dan aktivis lingkungan menyerukan langkah tegas untuk melindungi Teluk Weda dari kerusakan lebih lanjut. Dibutuhkan kebijakan yang berpihak pada kelestarian alam, bukan hanya keuntungan jangka pendek industri tambang.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments