IndoBisnis – Pemerintah Filipina mengaku menghadapi kesulitan besar dalam mengevakuasi warga negaranya dari Iran di tengah meningkatnya serangan udara Israel.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengatakan bahwa rute keluar dari Iran sulit diamankan karena bandara tutup dan wilayah udara negara tetangga dibatasi.
“Masalah yang kami hadapi dalam mengevakuasi mereka adalah — karena perang — banyak bandara ditutup,” kata Presiden Marcos kepada wartawan di Quezon City, Rabu (18/6). “Kami sedang mencari cara untuk mengeluarkan mereka.”
Mengutip laporan Philippine News Agency, Marcos menyebut sekitar 700 warga Filipina tinggal di Iran, sebagian besar telah menikah dengan warga lokal dan awalnya enggan meninggalkan negara tersebut saat serangan pertama kali terjadi. Namun situasi berubah.
“Kini beberapa orang merasa takut dan meminta bantuan untuk keluar,” ungkapnya.
Setelah Israel melancarkan serangan udara ke berbagai wilayah Iran sejak Jumat lalu, Iran menutup sebagian besar bandara utamanya. Negara-negara tetangga seperti Irak dan Yordania juga telah menutup wilayah udara mereka, membuat evakuasi udara hampir tidak mungkin dilakukan.
Alternatif melalui jalur darat juga tidak mudah. Beberapa negara mengevakuasi warganya melalui Azerbaijan dan Turki, namun menurut keterangan pejabat Filipina, jarak yang jauh, kemacetan lalu lintas, kelangkaan bahan bakar, dan ancaman serangan membuat jalur ini berisiko tinggi.
Wakil Menteri Luar Negeri Filipina, Eduardo Jose De Vega, menyatakan bahwa pemerintah akan mulai menarik personel kedutaan yang tidak penting dari Teheran dan telah menaikkan status kewaspadaan bagi warga Filipina di Iran ke tahap “pemulangan sukarela.”
“Kita tidak bisa menaikkannya menjadi wajib karena sebagian besar warga Filipina di sana tidak akan pulang, mereka punya keluarga Iran di sana,” ujarnya.
Sejak Jumat lalu, Israel menyerang lebih dari 12 lokasi strategis di Iran, termasuk fasilitas nuklir dan rumah-rumah tokoh militer. Aksi ini disebut sebagai langkah untuk mencegah pengembangan senjata nuklir oleh Iran. Serangan tersebut memicu balasan dari Iran dalam bentuk serangan rudal balistik ke wilayah Israel.
Militer Israel dilaporkan semakin gencar menyerang target sipil, termasuk kantor penyiaran negara di Teheran dan rumah sakit di Kermanshah. Hanya pada Rabu, Israel mengklaim telah menyerang 40 titik di berbagai wilayah Iran.
Kementerian Kesehatan Iran menyebut sedikitnya 224 orang tewas dan 1.481 orang terluka sejak konflik dimulai. Namun laporan media asing memperkirakan angka korban bisa dua kali lipat dari data resmi.
***
