- Ringkasan Berita:
- Muharto menapaki perjalanan panjang dari kampung halaman di Muna hingga dilantik sebagai Rektor Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) periode 2024–2028.
- Kisah ini menjadi potret ketekunan, pendidikan, dan kerja keras yang membentuk seorang pemimpin akademik dari daerah.
IndoBisnis — Dari sebuah sudut sederhana di Raha, lahir seorang anak yang kelak menembus batas geografis dan sosial. Namanya Muharto.
Ia merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara, buah hati pasangan La Ode Wado dan Wa Ode Ndonika. Dalam keluarga besar itu, kehidupan berjalan sederhana, tetapi sarat nilai ketekunan dan disiplin.
Sejak kecil, Muharto tumbuh di Tiworo, Kecamatan Tikep. Di sanalah ia menempuh pendidikan dasar hingga SMA—tanpa kemewahan, tanpa jalan pintas, hanya dengan tekad yang terus dijaga.
Dalam perjalanan hidupnya, pendidikan menjadi satu-satunya jalan untuk melampaui keadaan.
Ia melanjutkan studi ke Program D-II PGSD di Universitas Negeri Manado dan menyelesaikannya pada 2007. Langkah ini menjadi pintu awal bagi perjalanan akademiknya.
Dari Manado, ia melanjutkan studi S-1 di Institut Al-Aqidah Jakarta dan lulus pada 2010. Setahun kemudian, ia kembali menempuh pendidikan pascasarjana di Universitas Sam Ratulangi.
Di sana, ia mendalami Pengelolaan Sumber Daya Pembangunan dan meraih gelar magister pada 2013. Namun, capaian tersebut bukan akhir.
Ia terus melangkah hingga menyelesaikan studi doktoral pada 2019 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sam Ratulangi, Program Doktor Ilmu Manajemen dengan konsentrasi Manajemen Ekonomi Publik.
- Menulis, Meneliti, dan Berkarya
Di tengah perjalanan akademik, Muharto tidak hanya belajar—ia juga mencipta.
Ia aktif menulis dan meneliti, dengan sejumlah karya yang terbit di jurnal internasional, termasuk kajian tentang daya saing sektor pariwisata di Ternate yang dipublikasikan dalam The International Journal of Life Economics pada 2017.
Setahun kemudian, ia kembali menulis tentang keberlanjutan sektor tersebut dan memperoleh pengakuan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) dari Kementerian Hukum dan HAM RI.
Tidak berhenti di jurnal, ia juga menulis buku tentang metode penelitian, konflik sosial, hingga panduan komputer. Salah satu karyanya, Wuna Barakati: Antara Falsafah dan Realitas, menjadi refleksi perjalanan intelektualnya.
Perjalanan panjang itu bermuara pada pelantikannya sebagai Rektor Universitas Dumoga Kotamobagu (UDK) untuk masa bakti 2024–2028.
Namun, bagi Muharto, jabatan tersebut bukanlah garis akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Ia memahami bahwa kursi rektor bukan sekadar simbol, tetapi amanah untuk membangun institusi, mengarahkan kebijakan pendidikan, dan memperluas akses bagi generasi berikutnya.
- Lebih dari Sekadar Biografi
Kisah Muharto bukan sekadar perjalanan personal. Ia merupakan potret tentang bagaimana pendidikan mampu mengubah arah hidup.
Dari Raha ke ruang kepemimpinan perguruan tinggi, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan titik awal.
Di balik semua itu, tersimpan pesan sederhana namun kuat, bahwa siapa pun dapat mencapai tujuan, selama tidak berhenti melangkah.
***
Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.
