Kamis, April 16, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISNikel Hijau Harita Sulap Pulau Obi Jadi Kawah Merah

Nikel Hijau Harita Sulap Pulau Obi Jadi Kawah Merah

Di balik slogan “energi hijau” dan “dekarbonisasi dunia”, tersimpan wajah kelam industri nikel yang menghancurkan hutan, mengubur terumbu karang, dan memiskinkan masyarakat pesisir.

 

OBI – Di atas langit Pulau Obi, asap hitam membubung tinggi, menutupi cakrawala biru yang dulu menjadi kebanggaan warga Maluku Utara.

Dari pantauan IndoBisnis menggunakan Spitbot, Minggu 5 Oktober 2025 kompleks tambang PT Harita Nikel Group terlihat seperti kota besi yang tak pernah tidur.

Asap pembakaran nikel menari di udara, membentuk tirai pekat yang menutupi wajah “energi hijau” yang selama ini diagung-agungkan pemerintah.

Narasi besar transisi energi yang digembar-gemborkan dunia seolah menyimpan ironi besar: upaya menyelamatkan bumi dari krisis iklim justru melahirkan luka ekologis baru di Tanah Air.

“Kendaraan listrik adalah ikon dekarbonisasi,” begitu bunyi slogan dalam berbagai forum energi global.

Namun, di balik sorotan kamera, Pulau Obi yang menjadi episentrum nikel Indonesia kini memikul beban berat: hutan tropis ditebang, bukit dikupas, sungai berubah merah, dan laut dipenuhi sedimen.

Di depan kawasan tambang Harita, belasan tongkang tampak berjejer rapi, dijadikan pelabuhan darurat untuk mengangkut hasil tambang.

Aktivitas ini, sebagaimana pantauan langsung di lapangan, membuat terumbu karang di perairan sekitar rusak parah.

Karang-karang yang dulu menjadi rumah ikan kini berubah menjadi puing-puing mati tertutup lumpur tambang.

Masyarakat pesisir menjadi korban paling nyata dari “transisi energi” ini. Para nelayan mengeluhkan hasil tangkapan yang semakin menipis.

Air laut keruh, ikan-ikan menjauh, dan jaring mereka kini lebih sering kosong. Di darat, para petani kehilangan panen karena air dan tanah yang tercemar logam berat.

Ironisnya, keuntungan besar dari hilirisasi nikel tidak mengalir ke rakyat. Sebagian besar smelter dan industri pengolahan dikuasai oleh investor asing, terutama perusahaan asal Tiongkok, melalui skema investasi langsung dan joint venture.

Sementara itu, ribuan warga sekitar menghadapi ancaman penggusuran demi ekspansi tambang.

Proses konsultasi publik yang semestinya menjadi syarat moral pembangunan nyaris tidak ada. Prinsip Social License to Operate (SLO) diabaikan begitu saja.

Rakyat tak dilibatkan, suara mereka dibungkam oleh janji-janji industrialisasi dan kesejahteraan semu.

Kini, wajah “energi hijau” di Obi tampak seperti ironi besar: tambang nikel yang diklaim untuk menyelamatkan dunia dari krisis iklim justru menghancurkan ekosistem, menindas rakyat kecil, dan menyalakan bara ketidakadilan sosial.

Di saat negara-negara maju menikmati mobil listrik ramah lingkungan, warga Pulau Obi hidup dalam bayang-bayang polusi, kehilangan laut, dan kehilangan harapan.

Transisi energi yang seharusnya menjadi jalan menuju masa depan bersih justru berubah menjadi mesin pengeruk sumber daya tanpa batas.

Alih-alih menjadi simbol peradaban baru, Harita Group di Pulau Obi kini menjadi cermin dari wajah lama pembangunan Indonesia — pembangunan yang masih berlandaskan pengorbanan masyarakat kecil demi ambisi industrialisasi besar-besaran.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments