Selasa, April 21, 2026
spot_img
BerandaBERANDANasionalPadi Melonjak, Jagung Terkoreksi

Padi Melonjak, Jagung Terkoreksi

  • Sektor pangan nasional mencatat dinamika signifikan pada Oktober 2025. BPS melaporkan bahwa panen padi tumbuh positif dengan kenaikan luas panen 4,44 persen dan produksi meningkat 3,53 persen, sementara panen jagung justru terkoreksi 5,06 persen dan produksinya turun 7,47 persen.
  • Meski begitu, proyeksi November 2025–Januari 2026 menunjukkan potensi pemulihan kuat untuk kedua komoditas dengan lonjakan produksi padi hingga 21,31 persen dan produksi jagung 18,96 persen, serta estimasi peningkatan produksi tahunan berkat perluasan lahan dan penguatan kapasitas petani.

 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan capaian positif sektor padi nasional pada Oktober 2025. Realisasi luas panen padi pada bulan tersebut mencapai 0,86 juta hektare, naik 4,44 persen dibandingkan Oktober 2024 yang sebesar 0,83 juta hektare. Kenaikan luas panen turut mendorong peningkatan produksi, sehingga diperkirakan produksi padi pada Oktober 2025 mencapai 4,72 juta ton gabah kering giling (GKG), atau naik 3,53 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

BPS juga memperkirakan potensi pemulihan lebih kuat pada bulan mendatang. Potensi luas panen padi pada November 2025–Januari 2026 diproyeksi mencapai 1,61 juta hektare, meningkat 0,29 juta hektare atau sekitar 21,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Sejalan dengan itu, potensi produksi padi pada periode yang sama diperkirakan mencapai 8,87 juta ton GKG, atau tumbuh 21,31 persen. Diperkirakan pula bahwa produksi beras mencapai 5,11 juta ton, meningkat 21,25 persen dibanding periode sebelumnya.

“Dengan demikian, potensi produksi padi sepanjang Januari–Desember tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 60,37 juta ton GKG atau mengalami peningkatan sebesar 7,23 juta ton GKG (13,61 persen) dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024,” jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini.

Berbeda dengan komoditas padi, jagung justru mengalami tekanan produksi. Realisasi luas panen jagung pada Oktober 2025 hanya mencapai 0,20 juta hektare, turun 5,06 persen dibandingkan Oktober 2024. Dampaknya, produksi jagung diperkirakan hanya mencapai 1,24 juta ton jagung pipilan kering kadar air 14 persen (JPK KA 14 persen), atau turun 7,47 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Namun, peluang pemulihan tetap terlihat. Potensi luas panen jagung pada November 2025–Januari 2026 diperkirakan mencapai 0,62 juta hektare, meningkat 0,11 juta hektare (20,91 persen). Sementara itu potensi produksi jagung JPK KA 14 persen pada periode tersebut diperkirakan mencapai 3,93 juta ton, atau meningkat 18,96 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.

Pudji menambahkan bahwa kenaikan tren produksi diperkirakan berlangsung sepanjang tahun. Ia menegaskan, “Potensi produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen sepanjang Januari–Desember 2025 diperkirakan sebanyak 16,50 juta ton atau mengalami peningkatan sebanyak 1,36 juta ton (9,00 persen) dibandingkan dengan Januari–Desember 2024.”

Tren pemulihan diharapkan memperkuat stabilitas pangan nasional, meningkatkan daya saing sektor pertanian, dan meredam tekanan harga komoditas pangan strategis.

***

Jurnalis, Mardan Amin berkontribusi pada cerita ini.

Artikel ini pertama kali diterbitkan IndoBisnis. dengan judul: Padi Melonjak, Jagung Terkoreksi

Disclaimer

Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung.

IndoBisnis.co.id tidak bertanggung jawab atas keputusan finansial Anda. Konsultasikan dengan penasihat profesional sebelum membuat keputusan penting.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments