- Ringkasan Berita:
- Perjalanan hidup Muhammad Sinen tidak lahir dari kemewahan dan lingkaran elite. Ia tumbuh dari kehidupan sederhana di Maitara, pernah.
- Menjadi buruh pelabuhan dan motoris speedboat, lalu meniti karier politik hingga akhirnya dilantik sebagai Wali Kota Tidore Kepulauan pada 2025.
IndoBisnis – Bagi masyarakat Tidore Kepulauan, Muhammad Sinen bukan hanya seorang wali kota. Di mata banyak warga, ia adalah “Ayah Erik”, sosok yang tidak berjarak, mudah ditemui, dan kerap hadir dalam berbagai persoalan masyarakat.
Di balik jabatan yang kini disandangnya, ada perjalanan panjang yang tidak semua orang tahu. Muhammad Sinen tidak lahir dari keluarga elite, tidak tumbuh di lingkungan serba berkecukupan, dan tidak dibesarkan oleh kemewahan.
Pada 20 Februari 2025, Muhammad Sinen resmi dilantik sebagai Wali Kota Tidore Kepulauan bersama Wakil Wali Kota Ahmad Laiman. Keduanya menggantikan pemerintahan sebelumnya yang dipimpin oleh Ali Ibrahim setelah memenangkan Pilkada 2024.
Namun, pelantikan itu hanyalah ujung dari perjalanan panjang seorang anak kampung yang pernah hidup di tengah kerasnya kehidupan pesisir.
Perjalanan Muhammad Sinen menuju kursi wali kota tidak lahir dari kemewahan. Ia lahir di Maitara pada 14 Februari 1969. Sejak kecil, ia tumbuh di lingkungan sederhana yang membentuk karakter pekerja keras dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Pendidikan dasarnya ditempuh di SD Negeri Maitara pada 1977 hingga 1983. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri Mareku Tidore pada 1984 hingga 1987.
Muhammad Sinen kemudian bersekolah di SMK Negeri 2 Ternate sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Nuku dan menyelesaikan pendidikan sarjana pada 2008.
Dalam kehidupan keluarga, Muhammad Sinen menikah dengan Rahmawati yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Provinsi Maluku Utara. Dari pernikahan itu, keduanya dikaruniai empat orang anak.
Sebelum masuk ke dunia politik, Muhammad Sinen pernah menjalani pekerjaan yang jauh dari sorotan publik. Ia bekerja sebagai buruh pelabuhan dan motoris speedboat di Pelabuhan Rum.
Pekerjaan itu membuat Muhammad Sinen mengenal kerasnya kehidupan masyarakat bawah. Ia merasakan bagaimana sulitnya mencari nafkah dan bertahan di tengah keterbatasan ekonomi.
“Muhammad Sinen bukan lahir dari ruang nyaman kekuasaan. Ia tumbuh dari kerja keras, peluh, dan perjuangan hidup sehari-hari.”
Karier politik Muhammad Sinen mulai berkembang saat ia bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan atau PDIP. Dalam partai tersebut, kiprahnya terbilang menonjol.
Ia pernah menjabat sebagai Ketua DPC PDIP Kota Tidore Kepulauan pada 2004 hingga 2017. Saat ini, Muhammad Sinen menjabat Ketua DPD PDIP Provinsi Maluku Utara.
Tidak hanya di partai, Muhammad Sinen juga meniti karier melalui jalur legislatif. Ia dipercaya menjadi anggota DPRD Kota Tidore Kepulauan selama tiga periode berturut-turut, yakni hasil Pemilu 2004, 2009, dan 2014.
Setelah cukup lama berada di DPRD, Muhammad Sinen memutuskan untuk maju dalam Pilkada 2015. Saat itu, ia mendampingi Ali Ibrahim sebagai calon Wakil Wali Kota.
Keputusan itu menjadi awal perjalanan panjangnya di pemerintahan daerah. Muhammad Sinen kemudian menjabat Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan selama dua periode, yakni 2016–2020 dan 2021–2024.
Karier politik yang panjang, pengalaman hidup yang keras, dan kedekatan dengan masyarakat membuat Muhammad Sinen dianggap memiliki modal kuat untuk memimpin Tidore Kepulauan.
“Jabatan boleh tinggi, tetapi seorang pemimpin tidak boleh melupakan dari mana ia berasal.”
Kini, Muhammad Sinen memegang kendali pemerintahan Kota Tidore Kepulauan. Namun, jejak masa lalunya sebagai buruh pelabuhan dan motoris speedboat tetap menjadi bagian penting yang membentuk dirinya sebagai pemimpin.
***
Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.
