Kamis, April 23, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISANTM Jelaskan Sentimen yang Dongkrak Harga Nikel di Luar Ekspektasi Pasar

ANTM Jelaskan Sentimen yang Dongkrak Harga Nikel di Luar Ekspektasi Pasar

JAKARTA, IndoBisnis – PT Aneka Tambang (Persero) Tbk (ANTM), perusahaan yang bergerak dalam penambangan, pengolahan, dan pemasaran komoditas bijih nikel dan feronikel, menjabarkan berbagai sentimen yang sempat mengerek harga komoditas primadona Indonesia tersebut di luar ekspektasi pasar.

Direktur Utama PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) Nicolas D. Kanter mengatakan pergerakan harga nikel tahun ini melampaui ekspektasi pasar dan analis yang memproyeksikan tren bearish pada 2024-2026.

“Tahun lalu saya hadir di London Metal Exchange [LME] Week di London. Waktu itu everything is doomed karena semua analis itu mengatakan harga nikel pada 2024-2026 itu akan jatuh,” ujar Nicolas dalam agenda MINDialogue di Jakarta Selatan, dikutip IndoBisnis.co.id dari Bloomberg Technoz Selasa 24 Juni 2024.

Menurut Nicolas, kondisi geopolitik memang berpengaruh terhadap harga komoditas. Namun, terdapat dua sentimen lainnya yang turut berkontribusi terhadap kenaikan harga.

Pertama, berkurangnya pasokan dari negara produsen nikel besar, seperti Rusia dan New Caledonia, yang memengaruhi ketersediaan pasokan dan mengerek harga.

Sekadar catatan, Amerika Serikat (AS) dan Inggris telah memberlakukan pembatasan baru terhadap aluminium, tembaga, dan nikel Rusia dengan melarang pengiriman pasokan baru ke LME – tempat harga acuan global ditetapkan – serta ke Chicago Mercantile Exchange. Selain itu, terdapat situasi di New Caledonia mengenai pemilihan umum (pemilu) yang membuat para penambang menghentikan produksi nikel.

New Caledonia telah dilanda protes keras beberapa waktu lalu karena revisi aturan pemungutan suara. Hal ini mengganggu produksi dari penambang Prancis Eramet SA, yang menjalankan unit lokalnya dengan kapasitas minimum. Bahkan, harga nikel saat itu telah menembus US$20.880/ton, melampaui ekspektasi pasar yang memproyeksikan bertengger pada level US$18.000/ton.

Kedua, tertahannya Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) penambang nikel di Indonesia.

“Indonesia sekarang menjadi majority atau player di dunia, RKAB itu tertahan beberapa bulan sehingga itu juga menyebabkan harga nikel itu menjadi baik,” ujarnya.

Antam sebagai penambang nikel, kata Nicolas, tentu merasa beruntung dengan kenaikan harga tersebut. Namun, perseroan menganggap kenaikan harga tidak bertahan lama.

“Ini akan reach the maturity level nanti akhirnya akan berkisar di sekitar seperti apa yang diprediksi oleh para analis pada US$17.000–US$18.000/ton,” ujarnya.

Sebelumnya, harga nikel pada 2024 diestimasikan anjlok lebih dalam dari perkiraan awal, seiring dengan masih tingginya risiko surplus pasokan global terutama dari Indonesia. Meski demikian, permintaan nikel tahun ini diperkirakan tetap solid.

Dalam kaitan itu, BMI – lengan riset dari Fitch Solutions Company – memproyeksikan rerata harga nikel untuk tahun ini akan bertengger di US$18.000/ton, turun dari perkiraan sebelumnya di level US$20.000/ton.***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments