JAKARTA, IndoBisnis – BASF SE telah memutuskan untuk menghentikan proyek bersama dengan Eramet SA yang bertujuan membangun smelter nikel-kobalt di Indonesia.
Proyek ini sebelumnya direncanakan akan menghabiskan dana sebesar US$2,6 miliar (sekitar Rp42,64 triliun dengan asumsi kurs saat ini).
Keputusan ini menjadi pukulan balik bagi investasi yang telah dialokasikan di Indonesia, terutama di tengah melambatnya pertumbuhan penjualan kendaraan listrik.
BASF menyatakan dalam rilis resmi pada Senin 24 Juni 2024, sebagaimana dikutip IndoBisnis.co.id dari Bloomberg Selasa 25 Juni 2024, bahwa ketersediaan nikel berkualitas baterai secara global telah meningkat sejak proyek ini dimulai. Perusahaan tidak lagi melihat perlunya investasi sebesar itu.
Prospek kendaraan listrik memang mengalami penurunan selama setahun terakhir. NEF telah memangkas perkiraan penjualan kendaraan listrik bertenaga baterai sebesar 6,7 juta unit hingga tahun 2026.
Perlambatan ini terutama terlihat di pasar dalam negeri BASF, yaitu Jerman, serta di Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan otomotif seperti Volkswagen AG, Stellantis NV, dan Mercedes-Benz juga telah mengurangi atau mengalihkan proyek baterai mereka.
Proyek yang dikenal sebagai Sonic Bay ini, jika diteruskan, akan menghasilkan sekitar 67.000 ton nikel dan 7.500 ton kobalt per tahun, sebagaimana dinyatakan oleh Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) pada Januari tahun lalu.
Indonesia sendiri bertujuan menjadi pusat global dalam rantai pasokan kendaraan listrik dan telah menarik sejumlah proyek besar, banyak di antaranya didukung oleh investasi China, untuk memproduksi nikel berkualitas baterai.
China telah memberikan insentif besar yang kemungkinan bernilai puluhan miliar dolar, sehingga mampu memproduksi baterai dalam jumlah jauh lebih banyak dari kebutuhan saat ini, yang berujung pada penurunan harga baterai, menurut laporan yang dikutip dari BloombergNEF.
Dengan dihentikannya proyek Sonic Bay, masa depan industri kendaraan listrik di Indonesia mungkin perlu mencari pijakan baru di tengah perubahan dinamika pasar global.***
