IB | Maluku Utara. — Mengunjungi Ternate untuk kedua kalinya, Mensos Tri Rismaharini menyapa warga yang menjalani pelayanan operasi katarak. Berdasarkan hasil seleksi dari 428 pasien yang terdaftar, 277 pasien dinyatakan dapat dioperasi.
Pasien tersebut berasal dari Kota Ternate, Kepulauan Tidore, dan Pulau Halmahera. “Alhamdulillah hari ini bisa tercapai. Tetapi karena jumlah pasien yang banyak, kami biasanya melakukannya dalam dua hari, terkadang tiga hari. Karena di sini banyak, mungkin tiga hari. Makanya ini upacara pengibaran bendera,” kata Mensos dalam siaran pers yang diterima indobisnis co.id, Selasa (15/8).
Operasi katarak penting untuk mencegah kebutaan. Menurut Mensos, jika tidak segera ditangani, akan berdampak buruk bagi penderita katarak dan keluarganya. “Katarak itu perlu segera diobati karena _kalau tidak_ berisiko kebutaan. Soalnya kalau buta, tergantung orang lain. Nah, orang lain juga perlu aktif agar hidupnya bisa normal. menteri sosial. .
Mensos mengatakan, jumlah pasien yang mengikuti kegiatan tersebut akan bertambah. Hal itu diperoleh Mensos saat berdialog dengan pasien. Mereka menyampaikan langsung kepada Mensos bahwa banyak saudara kandungnya yang masih membutuhkan operasi katarak.
Keinginan masyarakat ini segera dipenuhi oleh Mensos dengan menginstruksikan Sentra terkait untuk mendata dan menelusuri siapa saja yang perlu dioperasi. “Masih banyak orang yang melamar kakaknya. Mudah-mudahan tiga hari, karena mereka ada di pulau-pulau yang harus kita restorasi,” kata Mensos.
Dinas Sosial memastikan akomodasi pasien dengan menyediakan wisma di pusat Wasana Bahagia yang terletak di Kelumata Ternate untuk pasien yang datang dari luar pulau. Tak hanya itu, Mensos juga memfasilitasi operasi untuk seorang anak berusia 4 tahun yang terdiagnosis katarak kongenital (bawaan) di Makassar, Sulawesi Selatan.
“Kami menemukan pasien pasien yang merupakan anak yang tidak bisa dirawat di sini. Jadi kami akan merujuknya ke Makassar. Tapi sebelumnya saya meminta kedua orang tua untuk pergi ke dokter karena kalau anak katarak itu biasanya genetik,” ujarnya. berbicara. .
Sementara itu, salah satu pasien operasi katarak Sofifi, Salma Salaula, 58 tahun, mengatakan operasi katarak sangat membantunya. Sebelum itu, katarak di mata kanannya menebal, membuatnya tidak bisa melihat objek sejauh dua meter. Pekerja paruh baya ini diterima oleh Menteri Sosial. “Kata menteri sebelumnya, jangan mengangkat barang berat, jangan melihat ke bawah, jangan menyentuh air,” katanya.
Sejak menjabat, Mensos rutin memfasilitasi operasi katarak di seluruh Indonesia. Bagi Mensos, penderita katarak merupakan salah satu penerima manfaat dari Kemensos karena menyadari banyak masyarakat kurang mampu yang perlu dioperasi, namun urung karena kesulitan keuangan. Meski dengan anggaran terbatas, Mensos tetap bisa mengajak pihak swasta untuk bersama-sama memberikan manfaat kepada pihak yang membutuhkan. Untuk operasi katarak di Ternate, Mensos bekerjasama dengan Yayasan Pundi Amal Peduli Kasih SCTV/Indosiar, Perdami (Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia), Klinik Ar Rahmah Ternate, Klinik Azzura Ternate, Pemkot Ternate dan Pemprov Ternate. Sebagai apresiasi, Mensos menyerahkan penghargaan kepada 12 orang yang berjasa dalam proses operasi katarak di Ternate.
Gubernur Maluku Utara Abdul Ghani Kasuba, Ketua DPRD Provinsi Maluku Utara (Malut) Kuntu Daud, General Manager YPP Abas Yahya, Kepala Dinas Sosial Provinsi Maluku Utara Zen Kasim, Direktur Rehabilitasi Lansia Supomo juga turut hadir. hadir pada kegiatan ini. , Kepala Satuan Angkutan AKP Rezza Muhammad Fajrin.
