Jumat, Mei 22, 2026
spot_img
BerandaARTIKELJemi Desak Pengamat Ekonomi Bennix Datang ke Pulau Obi dan Minta Maaf...

Jemi Desak Pengamat Ekonomi Bennix Datang ke Pulau Obi dan Minta Maaf kepada Masyarakat

  • Ringkasan Berita:
  • Pernyataan pengamat ekonomi Bennix yang menyebut Pulau Obi sebagai “pulau kosong” memicu kemarahan warga Maluku Utara.
  • Tokoh masyarakat Kawasi, Jemi, mendesak Bennix datang langsung ke Pulau Obi dan meminta maaf karena dinilai merendahkan sejarah serta identitas masyarakat adat Obi.

IndoBisnis — Video pernyataan pengamat ekonomi Bennix yang menyebut Pulau Obi, Kabupaten Halmahera Selatan, Maluku Utara, tidak memiliki penduduk lokal memicu polemik dan kemarahan masyarakat setempat.

Dalam video yang beredar luas di TikTok, Bennix mempertanyakan identitas sejumlah warga yang mengaku asli Pulau Obi karena menggunakan Bahasa Bugis dan Melayu Ambon dalam percakapan sehari-hari.

“Gua tanya sama warga lokal, ‘lu asli Pulau Obi?’ Dia malah berbahasa Bugis, bro,” ujar Bennix dalam video tersebut.

Bennix kemudian menyimpulkan bahwa masyarakat yang tinggal di Pulau Obi hanyalah pendatang dari Sulawesi dan Ambon.

“Tidak ada warga lokal di Pulau Obi. Itu pulau kosong,” katanya.

Salah satu Toko Masyarakat Desa Kawasi, Jemi

Pernyataan tersebut langsung menuai kritik keras dari masyarakat Obi. Salah satu tokoh masyarakat Desa Kawasi bernama Jemi menilai ucapan Bennix bukan sekadar opini pribadi, melainkan bentuk penghapusan identitas sosial dan sejarah masyarakat adat Pulau Obi.

Jemi Obi Punya Sejarah dan Leluhur

Jemi menegaskan Pulau Obi memiliki sejarah panjang, budaya adat, bahasa lokal, dan komunitas asli yang telah hidup turun-temurun jauh sebelum masuknya industri tambang nikel.

“Obi bukan tanah kosong. Ada masyarakat, adat, dan sejarah panjang yang hidup di sana,” ujar Jemi kepada IndoBisnis.

Menurut Jemi, masyarakat Obi merasa tersinggung karena ucapan Bennix dianggap merendahkan keberadaan leluhur dan identitas masyarakat lokal.

Ia juga membantah logika Bennix yang menjadikan penggunaan Bahasa Bugis atau Melayu Ambon sebagai ukuran keaslian seseorang.

Menurutnya, Maluku Utara sejak lama menjadi wilayah pertemuan berbagai etnis akibat perdagangan dan migrasi antarpulau.

Akibat interaksi sosial tersebut, banyak warga Obi menggunakan lebih dari satu bahasa dalam kehidupan sehari-hari tanpa kehilangan identitas budaya mereka.

“Kalau orang Obi bicara Bugis atau Melayu Ambon, bukan berarti mereka bukan orang Obi,” tegas Jemi.

Tambang Nikel dan Arus Migrasi di Pulau Obi

Pulau Obi dalam beberapa tahun terakhir mengalami lonjakan aktivitas industri tambang nikel. Masuknya investasi besar memicu arus migrasi pekerja dari berbagai daerah di Indonesia.

Namun, Jemi menegaskan perkembangan industri tambang tidak menghapus keberadaan masyarakat asli Obi yang telah lama tinggal di wilayah tersebut.

Dalam video yang beredar, Bennix juga menyebut tidak adanya Sertifikat Hak Milik (SHM) dan kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) sebagai bukti bahwa Obi dahulu tidak berpenghuni.

“Gimana bisa ada SHM? Kantor BPN aja gak ada, bro,” ucap Bennix.

Pernyataan tersebut kembali menuai kritik karena dianggap tidak memahami kondisi geografis wilayah kepulauan yang selama bertahun-tahun mengalami keterbatasan layanan administrasi negara.

Warga Obi Desak Bennix Minta Maaf

Sejak video tersebut viral, TikTok, Facebook, hingga Instagram dipenuhi kritik terhadap Bennix. Banyak warganet menilai pernyataan tersebut arogan dan merendahkan masyarakat lokal di Maluku Utara.

Jemi mendesak Bennix datang langsung ke Pulau Obi dan menyampaikan permintaan maaf terbuka kepada masyarakat.

“Pulau Obi punya sejarah dan leluhur. Jangan seenaknya bilang pulau kosong. Kalau berani bicara seperti itu, datang dan lihat langsung masyarakat Obi,” kata Jemi.

Menurutnya, polemik ini menunjukkan meningkatnya sensitivitas masyarakat terhadap isu identitas lokal di tengah ekspansi industri tambang di Maluku Utara.

Masuknya investasi besar memang menciptakan pertumbuhan ekonomi baru, tetapi juga memunculkan kekhawatiran terkait pengakuan hak masyarakat adat dan sejarah wilayah setempat.

“Ketika identitas lokal dianggap tidak ada, masyarakat pasti melawan. Itu bukan sekadar soal bahasa, tetapi soal harga diri dan sejarah,” ujar Jemi menambahkan.

Hingga berita ini diterbitkan, Bennix belum memberikan klarifikasi resmi terkait pernyataannya yang viral dan memicu polemik luas di media sosial.

***

Mardan Amin Press IndoBisnis, berkontribusi dalam penulisan laporan ini.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments