IndoBisnis — Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengungkapkan bahwa nikel yang diproduksi dari wilayah Maluku Utara memiliki kualitas terbaik di dunia. Hal ini disampaikannya saat menjadi pembicara dalam Indonesia Critical Minerals Convex yang berlangsung di Jakarta, Kamis (3/6/2025).
“Saya bisa katakan bahwa nikel di Maluku Utara adalah salah satu yang terbaik di dunia. Mengapa? Karena memiliki kualitas bijih yang tinggi. Memiliki saprolit dan limonit berkualitas tinggi. Dan juga stabil dalam pembuatan kimia,” ujar Sherly di hadapan peserta acara, Rabu (4/6/2025) mengutip CNBC Indonesia
Menurut Sherly, keunggulan ini menjadikan Maluku Utara tidak hanya sebagai penghasil nikel utama di Indonesia, tetapi juga sebagai kandidat kuat untuk menjadi pusat produksi baterai kendaraan listrik skala besar. Salah satu proyek yang tengah dikembangkan ialah pembangunan fasilitas produksi nickel sulfate kelas baterai, satu-satunya dalam skala besar di Indonesia.
“Maluku Utara akan menjadi rumah bagi satu-satunya produsen skala besar nikel sulfat kelas baterai di Indonesia. Kami merencanakan ekspansi untuk memproduksi bahan baterai di hulu,” tambah Sherly.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara, lanjutnya, sedang merancang jalur industrialisasi nikel yang berkelanjutan. Tujuannya tidak hanya untuk menggerakkan pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga untuk berkontribusi dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional dan internasional.
“Maluku Utara memiliki peran dalam pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Kami bisa mencapainya melalui pembangunan sosial ekonomi, menciptakan industri hijau dan pendidikan, dan kami juga harus menciptakan pemerintahan yang tidak memihak,” ungkapnya.
Ia menegaskan, seluruh strategi pembangunan industri ini harus bermuara pada keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat. “Pada akhirnya, semua pertumbuhan ekonomi ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Maluku Utara,” tandasnya.
Bukti Nyata Hilirisasi
Pernyataan Sherly diamini oleh Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, yang memuji Maluku Utara sebagai contoh sukses program hilirisasi nasional. Yuliot mengungkapkan bahwa dahulu wilayah ini hanya mengekspor bijih nikel mentah. Namun, setelah kebijakan hilirisasi diterapkan, kini Maluku Utara mampu memproduksi nikel dan kobalt—dua bahan penting dalam industri baterai kendaraan listrik.
“Program hilirisasi memberikan dampak nyata. Pada periode Januari hingga September 2024 saja, investasi yang masuk ke Maluku Utara mencapai Rp 55 triliun,” ujar Yuliot dalam kesempatan berbeda, saat meresmikan 14 Penyalur BBM Satu Harga di Ternate, Rabu (30/10/2024).
Pertumbuhan ekonomi Maluku Utara pun melesat. Pada tahun 2023, provinsi ini mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 20,49 persen, tertinggi di Indonesia bahkan di tingkat global. Yuliot mengungkapkan, pada tahun sebelumnya, angka pertumbuhan bahkan lebih tinggi lagi, yakni mencapai lebih dari 24 persen.
Meski demikian, Yuliot mengingatkan pentingnya keterlibatan pelaku usaha lokal dalam proses hilirisasi. Menurutnya, setiap investasi besar yang masuk ke daerah harus menggandeng pelaku usaha lokal agar tidak menimbulkan ketimpangan ekonomi.
“Jangan hanya yang besar yang masuk tanpa keterlibatan pelaku usaha di daerah. Itu justru akan menjadikan kondisi ekonomi semakin timpang,” tegasnya.
Harapan Masa Depan
Melalui langkah hilirisasi dan industrialisasi berkelanjutan, Maluku Utara berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru berbasis sumber daya alam yang diolah di dalam negeri. Dengan cadangan nikel berkualitas tinggi, dukungan infrastruktur, serta komitmen pemerintah daerah, wilayah ini diharapkan mampu memimpin industri hijau nasional dan berkontribusi dalam transisi energi global.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara pun berharap agar ke depan, industrialisasi nikel tidak hanya membawa keuntungan ekonomi, tetapi juga menciptakan pendidikan, lapangan kerja, dan tatanan sosial yang adil bagi seluruh rakyat di wilayah tersebut.
***
