IndoBisnis – Sebuah perbincangan menyentuh sekaligus menyentil tatanan kekuasaan terekam dalam video berdurasi 2 menit 1 detik yang diunggah oleh akun TikTok @kaksProduction.
Dalam video tersebut, komika nasional Abdur Arsyad terlihat berbincang akrab dengan Sultan Tidore, H. Husain Alting Sjah, yang mengungkap pernah ditawari akses tambang oleh dua menteri.
“Jadi ketika ada dua menteri datang ke saya dan tanya, ‘Sultan mau apa?’,” ucap Sultan Tidore membuka cerita.
Ia menjelaskan bahwa para menteri itu menawarkan peluang pemanfaatan sumber daya alam di wilayahnya, termasuk tambang nikel. Namun, Sultan menolak dengan halus tawaran tersebut, dan justru memberikan jawaban tak biasa.
“Saya bilang, saya punya proyek besar. Apa tuh proyeknya? Saya mau jadi orang baik-baik. Karena Indonesia sedang tidak baik-baik,” ungkapnya.
Dengan suara tenang dan nada rendah, Sultan mengaku menolak iming-iming tambang karena tidak ingin terlibat dalam praktik yang menurutnya menjauhkan keadilan dan keberadaban.
“Marilah kita bergandengan tangan untuk menjadi orang baik-baik. Itu saya. Saya menunduk. Menunduk dan diam,” katanya lirih.
Tak hanya soal tawaran tambang, Sultan juga menyinggung bagaimana masyarakat lokal yang bersuara atas ketidakadilan justru dibungkam. Ia menyebut, mereka yang memprotes kebijakan pertambangan ditangkap dan dijebloskan ke dalam tahanan.
“Anak-anak yang memprotes itu dikasih tempat di hotel. Hotel yang dia punya nama penjara, bui menurut orang di sana,” ucap Sultan penuh sindiran.
“Padahal mereka hanya meneriakkan bahwa ada ketidakadilan. Kemudian disuguhkan hadiah berupa ruangan dua kali tiga meter, yaitu sel, bui,” tambahnya.
Pernyataan tersebut menggambarkan paradoks kekuasaan dan kekayaan alam di wilayah Maluku Utara. Sultan menegaskan bahwa nikel yang berada di tanah Tidore seolah “dimiliki” pusat, meski rakyat dan pemimpin adat tak pernah diberi kewenangan yang sah atasnya.
“Padahal itu nikel punya saya, Pak. Tapi saya tidak diberikan kewenangan. Mereka ambil semua bawah ke Jakarta,” ucap Sultan dengan nada getir.
Narasi ini membuka mata publik bahwa konflik kepentingan di sektor pertambangan bukan hanya urusan bisnis dan birokrasi, tetapi juga soal harga diri, keadilan, dan masa depan bangsa.
***
