Selasa, Mei 26, 2026
spot_img
BerandaBERANDAKesehatanPeneliti BRIN Temukan Mikroplastik Kini Ikut Turun Bersama Air Hujan

Peneliti BRIN Temukan Mikroplastik Kini Ikut Turun Bersama Air Hujan

  • Mikroplastik kini bukan hanya persoalan laut atau makanan, tetapi juga sudah jatuh bersama air hujan. Temuan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membuka fakta baru: partikel plastik berukuran mikro telah memasuki siklus air dan udara, bahkan membasahi kota besar seperti Jakarta.

 

 

Fenomena mencemaskan terungkap dari penelitian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Lembaga tersebut menemukan keberadaan mikroplastik dalam air hujan di wilayah Jakarta. Artinya, partikel plastik berukuran sangat kecil kini telah terbawa angin dan turun bersama hujan yang mengguyur kota.

Mikroplastik sendiri adalah potongan plastik berukuran di bawah 5 milimeter hingga satu mikrometer. Ukurannya yang amat kecil membuat partikel ini sulit terurai dan mudah berpindah dari udara ke tanah, hingga akhirnya masuk ke sumber air dan rantai makanan manusia.

BRIN menjelaskan, ada dua jenis utama mikroplastik. Pertama, mikroplastik primer, yaitu partikel yang sejak awal berukuran kecil—seperti microbeads yang banyak ditemukan dalam kosmetik dan sabun pembersih. Kedua, mikroplastik sekunder, yang berasal dari pecahan plastik besar seperti kantong, botol minum, hingga jaring nelayan yang terdegradasi seiring waktu.

Melansir Temuan ini memperlihatkan bahwa mikroplastik kini sudah menjadi bagian dari siklus lingkungan. Plastik yang hancur di darat atau laut dapat terangkat angin, naik ke atmosfer, lalu jatuh kembali bersama air hujan.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan RI, Aji Muhawarman, menilai fenomena ini sebagai sinyal bahaya lingkungan yang tidak bisa diabaikan. Namun, ia menekankan bahwa keberadaan mikroplastik dalam air hujan tidak serta-merta membuat air hujan berbahaya langsung bagi kesehatan manusia.

“Fenomena ini perlu diwaspadai, bukan ditakuti. Ini sinyal bahwa partikel plastik sudah tersebar sangat luas di sekitar kita,” ujarnya mengutip, Rabu (5/11).

Aji menjelaskan, manusia dapat terpapar mikroplastik lewat dua jalur utama: makanan dan udara. Dalam makanan, mikroplastik sering ditemukan pada garam laut, ikan, hingga air minum dalam kemasan. Sementara dari udara, paparan bisa terjadi lewat serat sintetis pakaian dan debu perkotaan yang terhirup setiap hari.

Sejumlah penelitian menunjukkan, paparan mikroplastik jangka panjang dalam jumlah besar dapat memicu peradangan jaringan tubuh. Kandungan kimia seperti Bisphenol A (BPA) dan phthalates yang menempel di partikel plastik juga berpotensi mengganggu sistem hormon, kesuburan, serta perkembangan janin.

Namun, para peneliti menegaskan bahwa hingga kini belum ada bukti ilmiah kuat yang membuktikan mikroplastik secara langsung menyebabkan penyakit tertentu. Meski begitu, paparannya di lingkungan terus meningkat dan menjadi perhatian serius dunia medis dan ekologi.

Sebagai langkah pencegahan, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menjaga kebersihan rumah, serta tidak membakar sampah plastik yang dapat menambah polusi mikro.

“Gunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama saat udara kering atau setelah hujan. Ini bukan karena air hujannya, tapi untuk mengurangi paparan debu dan polusi yang mungkin mengandung mikroplastik,” tutur Aji.

Ia juga mengingatkan pentingnya kebiasaan kecil seperti membawa botol minum isi ulang, menggunakan tas belanja non-plastik, serta memilah sampah rumah tangga. Langkah sederhana itu dinilai dapat menekan jumlah plastik di lingkungan dan mengurangi ancaman mikroplastik yang kian nyata.

***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments