Indobisnis.co.id- JAKARTA, 2 Februari 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan drastis sebanyak lebih dari 4% pada perdagangan Senin siang ini. Peristiwa ini membuat gelombang kepanikan investor akibat kekhawatiran penurunan status pasar oleh penyedia indeks global MSCI.
Pasar IHSG dibuka Senin pagi dan mengalami penurunan sebanyak 0,28% di level 8.306 sekitar pukul 09.00 WIB. Tak lama kemudian, indeks ini ambruk tajam hingga 4,35% dan menyentuh 7.969 pada pukul 09.30 WIB. Tekanan jual besar-besaran membuat beberapa sektor kena trading halt sementara, mirip kejadian akhir pada Januari saat IHSG anjlok 8% dan mengakibatkan perdagangan sempat dihentikan.
Dilansir dari CNBC, penyebab utama dari kepanikan di pasar ini dipicu oleh sinyal keras MSCI terkait kurangnya keterbukaan dan keakuratan informasi tentang porsi saham perusahaan yang benar-benar bebas diperdagangkan publik di pasar modal. MSCI sendiri adalah penyedia indeks saham global yang mengklasifikasikan pasar negara-negara menjadi tiga kategori utama: developed markets (pasar maju), emerging markets (pasar berkembang), dan frontier markets (pasar pra-berkembang). Jika status pasar Indonesia diturunkan dari emerging market jadi frontier market, penyesuaian indeks bisa macet. Akibatnya, dana asing bisa kabur besar-besaran, bahkan sampai US$80 miliar seperti kasus dulu. Bos BEI, Victori Rahayu, berjanji akan mempercepat perbaikan data kepemilikan saham untuk meredakan kekhawatiran di pasar modal.
Saham pertambangan seperti PTRO, BUMI, dan emiten emas ANTM mengalami pukulan parah, hal ini juga diperburuk oleh penurunan harga emas dunia pada akhir pekan lalu. Sebanyak 630 saham melemah, hanya 78 yang menguat, sementara rupiah tertekan melewati Rp16.700 per dolar AS akibat aksi jual bersih investor asing.
Beberapa alasan lain kenapa penurunan terus terjadi adalah karena adanya profit taking setelah kenaikan IHSG sebelumnya, kekhawatiran defisit fiskal di era Presiden Prabowo, serta risiko shutdown pemerintah AS menambah gejolak pasar. Analis khawatir akan efek domino yang ditimbulkan ke pasar Asia lainnya,namun pemerintah tetap optimistis pasar dapat pulih cepat lewat stimulus dan negosiasi bilateral dengan lembaga moneter internasional.
