Senin, Februari 9, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI ANALISISAlarm Moody’s untuk Bank Besar RI

Alarm Moody’s untuk Bank Besar RI

  • Ringkasan
  • Moody’s mengubah outlook lima bank terbesar Indonesia menjadi negatif.
  • Meski peringkat kredit belum diturunkan, langkah ini menjadi sinyal keras atas memburuknya persepsi risiko kebijakan nasional.
  • Stabilitas perbankan dinilai kian bergantung pada kredibilitas negara, bukan semata kinerja internal bank.

 

IndoBisnis — Lembaga pemeringkat internasional Moody’s Ratings resmi mengubah outlook lima bank utama Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Bank-bank tersebut adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN).

“Moody’s Ratings hari ini mengubah outlook lima bank Indonesia menjadi negatif dari stabil,” tulis Moody’s dalam pengumumannya, Jumat (6/2/2026).

Perubahan outlook ini tidak diikuti dengan penurunan peringkat kredit. Moody’s menegaskan peringkat kredit, peringkat simpanan, senior unsecured, Counterparty Risk Ratings (CRR), Counterparty Risk Assessments (CRA), hingga Baseline Credit Assessment (BCA) dan Adjusted BCA seluruh bank tersebut tetap dipertahankan.

Moody’s juga menegaskan peringkat utang subordinasi dan saham preferen BNI serta peringkat program MTN senior unsecured Bank Mandiri.

Namun, di balik keputusan yang terkesan “aman”, Moody’s menyisipkan pesan peringatan yang jauh lebih serius.

Masalahnya Bukan Bank, tapi Negara

Moody’s menjelaskan, perubahan outlook ini dilakukan setelah lembaga tersebut mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2, tetapi merevisi outlook sovereign Indonesia menjadi negatif dari stabil pada 5 Februari 2026.

Langkah itu, menurut Moody’s, mencerminkan meningkatnya risiko terhadap kredibilitas kebijakan nasional. Penurunan terlihat pada aspek prediktabilitas, koherensi perumusan kebijakan, serta efektivitas komunikasi kebijakan dalam satu tahun terakhir.

“Jika tren ini berlanjut, hal tersebut berpotensi menggerus kredibilitas kebijakan Indonesia yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi yang solid serta stabilitas makroekonomi, fiskal, dan keuangan,” tulis Moody’s.

Dengan kata lain, alarm Moody’s tidak diarahkan pada kegagalan bank secara individual, melainkan pada faktor eksternal: kualitas kebijakan negara. Moody’s secara terbuka menegaskan bahwa nasib peringkat bank sangat terkait langsung dengan peringkat sovereign Indonesia.

“Jika peringkat sovereign Indonesia diturunkan, maka peringkat kelima bank tersebut juga akan diturunkan,” tegas Moody’s.

Mandiri: Modal Menyusut, Risiko Meningkat

Untuk Bank Mandiri, Moody’s menilai permodalan, pendanaan, dan profitabilitas masih berada pada level yang baik. Namun, lembaga pemeringkat tersebut menyoroti penurunan buffer modal, risiko kredit dari ekspansi sebelumnya yang agresif, serta tingginya eksposur ke sektor komoditas dan sektor berisiko tinggi.

Rasio permodalan Mandiri diperkirakan turun ke kisaran 14,5–15 persen pada 2026 akibat dividen tinggi dan pertumbuhan aset tertimbang menurut risiko sekitar 10 persen. Rasio ini menjadi yang terendah di antara bank-bank komersial Indonesia yang diperingkat Moody’s.

“Meskipun Mandiri sangat mungkin memperoleh dukungan pemerintah jika dibutuhkan, peringkatnya tidak memperoleh uplift karena Baseline Credit Assessment sudah setara dengan peringkat sovereign,” tulis Moody’s.

BRI: UMKM Kuat, Risiko Tetap Tinggi

BRI dinilai masih memiliki profitabilitas dan permodalan yang sangat kuat. Namun, Moody’s menekankan bahwa risiko aset diperkirakan tetap tinggi pada 2026–2027 karena eksposur signifikan pada kredit UMKM yang berisiko lebih tinggi.

Selain itu, profitabilitas BRI diperkirakan menurun pada 2026 akibat tekanan margin bunga dan biaya kredit yang masih tinggi. Meski permodalan diproyeksikan turun ringan karena dividen tunai besar, posisi modal dan likuiditas tetap solid.

“Seperti Mandiri, peringkat BRI tidak memperoleh uplift tambahan karena Baseline Credit Assessment sudah setara dengan peringkat sovereign,” tulis Moody’s.

BNI: Stabil, tapi Laba Tertekan

BNI dinilai memiliki permodalan yang kuat dan struktur pendanaan yang stabil. Namun, profitabilitasnya relatif lebih rendah dibandingkan bank sekelasnya dan diperkirakan menurun akibat pengetatan margin bunga bersih (NIM).

Moody’s juga mempertimbangkan risiko aset dari kredit restrukturisasi dan special mention loans, meski kualitas aset secara keseluruhan diperkirakan tetap relatif stabil.

“Peringkat simpanan Baa2 mencerminkan probabilitas dukungan pemerintah yang sangat tinggi, sehingga terdapat uplift satu notch dari Baseline Credit Assessment baa3,” tulis Moody’s.

BCA: Kuat, tapi Tetap Terikat Sovereign

Untuk BCA, Moody’s menegaskan kekuatan utama bank ini berada pada kualitas aset yang solid dan profitabilitas yang sangat tinggi, terutama karena dominasi di bisnis transaction banking.

Permodalan dan likuiditas BCA dinilai kuat. Meski diperkirakan menurun ringan akibat dividen dan pertumbuhan kredit, posisi modal tetap sangat kuat. Namun, peringkat Baseline Credit Assessment BCA tetap dibatasi oleh peringkat kredit Indonesia sebagai sovereign.

BTN: Tantangan Struktural Belum Usai

BTN masih menghadapi tantangan struktural yang signifikan. Moody’s menyoroti tingginya porsi kredit restrukturisasi dan rendahnya tingkat pencadangan dibandingkan risiko aset.

Profitabilitas BTN pada 2026 diperkirakan stabil, tetapi Moody’s menilai laba akan jauh lebih rendah jika pencadangan dilakukan secara memadai. Pendanaan dinilai stabil dan sebagian besar berbasis simpanan.

“Peringkat simpanan Baa2 BTN mencerminkan probabilitas dukungan pemerintah yang sangat tinggi, menghasilkan uplift tiga notch dari Baseline Credit Assessment ba2, mengingat peran sistemik BTN dan kepemilikan mayoritas pemerintah,” tulis Moody’s.

Sinyal Tegas ke Pasar

Perubahan outlook ini menegaskan satu hal: kekuatan bank belum cukup untuk melawan risiko kebijakan negara. Selama kredibilitas kebijakan nasional dinilai melemah, sektor perbankan akan tetap berada di bawah bayang-bayang tekanan.

Moody’s belum menjatuhkan palu, tetapi sinyal sudah jelas. Jika negara goyah, bank ikut terguncang.

***

Mardan Amin Jurnalis IndoBisnis berkontribusi pada cerita ini.

Artikel ini diterbitkan pertama kali Kompas di ulas ulang oleh IndoBisnis dengan judul: Alarm Moody’s untuk Bank Besar RI

Disclaimer

Informasi yang disediakan oleh IndoBisnis.co.id bertujuan untuk edukasi dan informasi umum. Kami tidak memberikan saran keuangan, hukum, atau pajak secara langsung.

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments