Jakarta, IndoBisnis – Perusahaan pertambangan nikel terbesar di Indonesia, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), saat ini mengalami harga saham di bawah nilai wajar (fair value).
Menurut riset Macquarie, menggunakan metode sum of the parts (SOTP), nilai aset bersih (NAV) Merdeka Battery mencapai US$ 5,37 miliar. Oleh karena itu, harga wajar saham anak perusahaan PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini seharusnya sekitar Rp 780 dibandingkan dengan harga saat berita ini ditayangkan yaitu Rp 560.
Macquarie juga menguraikan NAV dari seluruh anak perusahaan dan proyek Merdeka Battery. Pertama, NAV Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) mencapai US$ 3 miliar. MBMA memiliki 51% saham SCM, perusahaan tambang nikel, dengan bagian NAV sebesar US$ 1,5 miliar.
Selanjutnya, NAV dari smelter nikel Bukit Smelter Indonesia (BSI), Cahaya Smelter Indonesia (CSI), dan Zhao Hui Nickel (ZHN), di mana MBMA memiliki bagian dengan total NAV US$ 1,1 miliar. Selain itu, NAV dari Huaneng Metal Industry (HNMI) yang merupakan bagian dari MBMA senilai US$ 383 juta.
“Selain itu, NAV dari proyek acid iron metal mencapai US$ 1 miliar,” tulis Macquarie dalam risetnya, sebagaimana dilansir oleh IndoBisnis dari Investor.id pada Kamis, 25 April 2024.
MBMA memiliki lima proyek HPAL dengan beberapa mitra, seperti CATL dan QMB, dengan total NAV sebesar US$ 1,5 miliar berdasarkan kepemilikan saham. Dengan demikian, total NAV mencapai US$ 5,6 miliar setelah dikurangi dengan utang sebesar US$ 307 juta.
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas memperkirakan saham MBMA sedang mengalami fase konsolidasi. Secara teknikal, base potensial sudah terbentuk di area Rp 540, dengan volume yang tipis saat menguji level Rp 540. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan jual terhadap saham MBMA terbatas, sehingga membuka peluang rebound untuk kembali mencapai level resistance Rp 595.
“Masuk di level Rp 540-550, target Rp 580-595, dan stop loss Rp 530,” demikian penilaian dari Phintraco.***
