” NCKL memiliki ruang pertumbuhan pada 2024 berkat kenaikan target produksi dan right issue untuk ekspansi sekaligus membuka pintu bagi investor strategis ”
Selasa, 30 April 2024
JAKARTA, IndoBisnis.com — Pabrik Nickel Indonesia terbaik milik PT Trimegah Bangun Persada Tbk berada di Provinsi Maluku Utara Kabupaten Halmahera Selatan, Kecamatan Obi, jadi minta investor, Kenaikan harga nikel menjadi angin segar bagi emiten produsen nikel pada umumnya dan Harita Nickel (NCKL) khususnya. Dilansir Trading Economics, harga nikel per 24 April 2024 berada pada US$19.100 per ton, naik dari posisi US$16.005 pada awal 2024.
Meningkatkannya kinerja keuangan yang moncer pada 2023, PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) atau Harita Nickel masih punya ruang pertumbuhan lantaran peningkatan target produksi. NCKL juga bakal menggelar right issue dengan tujuan membeli saham di perusahaan tambang nikel dan smelter nikel.
Memungkinkan pada perdagangan Senin (29/4), saham NCKL bergerak pada rentang Rp950-Rp960 per lembar. Saham NCKL terpantau melemah 6,40% secara year-to-date (YtD).
Panin Sekuritas dalam riset terbarunya masih merekomendasikan beli (buy) tetapi dengan target harga yang turun dari 1.300 menjadi Rp1.150 per lembar. Adapun, target konsensus untuk saham NCKL ialah Rp1.205 per lembar.
Panin Sekuritas menjelaskan rekomendasi positif untuk NCKL itu didorong oleh dua faktor. Pertama, peningkatan target produksi NCKL. Kedua, terjaganya level cash cost perseroan.
“Namun, patut dicermati peluang penurunan harga komoditas terkait menjadi downside risk perseroan,” tulis Panin Sekuritas.
Panin Sekuritas menyebutkan harga nikel global saat ini turun ke kisaran US$17.000-18.000 per ton seiring melambatnya ekonomi China dan persaingan dengan baterai listrik jenis non-nikel seperti Lithium Ferro Phosphate (LFP), dan oversupply dari peningkatan produksi di Indonesia.
Namun, terdapat peluang positif untuk harga nikel 2024 pada kisaran US$18.000-19.000 per ton. Hal itu dipengaruhi oleh perekonomian China yang tumbuh 5,3% year-on-year (YoY) pada kuartal I/2024 atau melampau estimasi pada kisaran 4,6%.
Selain itu, proyeksi konsumsi baja nirkarat global 2024 yang merupakan industri pengguna nikel terbesar masih meningkat +1,7% YoY seiring dengan peningkatan permintaan dari India dan Asean menurut WorldSteel.
“Ada juga potensi pengetatan pasokan seiring dengan paket sanksi baru dari Inggris dan Amerika yang melarang masuknya logam dari Rusia termasuk nikel ke LME guna membatasi pendapatan Rusia dari ekspor logam,” tambahnya.

Target Produksi dan Kinerja NCKL
NCKL diketahui merealisasikan produksi bijih nikel sebanyak 20,75 juta wet metrik ton (wmt) pada 2023, naik 93,7% YoY. Kenaikan produksi NCKL itu sejalan dengan peningkatan penjualan.
Harita Nickel mencatat kenaikan volume penjualan bijih nikel sebesar 98%, atau mencapai 15,38 juta wmt dibandingkan 7,77 juta wmt pada 2022.
NCKL menargetkan produksi sebesar 120.000 ton nikel dalam feronikel pada 2024. Target tersebut dipatok berkat dua smelter yang telah beroperasi yakni Megah Surya Pertiwi (MSP) dan Halmahera Jaya Feronikel (HJF) yang masing-masing memiliki kapasitas terpasang 25.000 ton dan 95.000 ton.
“Target produksi kami untuk produk feronikel di tahun 2024 sebanyak 120.000 ton kandungan nikel dalam feronikel,” kata Roy Arman Arfandy, Direktur Utama Harita Nickel kepada Bisnis pada medio Februari 2024.
Seiring dengan peningkatan penjualan, NCKL menutup 2023 dengan raihan pendapatan sebesar Rp23,85 triliun, naik 149,35% secara tahunan dari posisi Rp9,56 triliun pada 2022.
Pendapatan NCKL dari kontrak pelanggan tersebut terdiri dari pengolahan nikel sebesar Rp20,76 triliun dan pendapatan dari penambangan nikel sebesar Rp3,09 triliun.
Meningkatnya aktivitas produksi ikut mengerek beban pokok penjualan NCKL menjadi Rp15,82 triliun pada 2023, naik 218,48% YoY. NCKL juga mencatatkan kenaikan beban penjualan, umum dan administrasi dan beban lainnya yang masing-masing tercatat sebesar Rp1,44 triliun dan Rp4,51 miliar.
Setelah diakumulasikan, Harita Nickel mencatatkan laba kotor sebesar Rp8,27 triliun. Laba kotor itu lebih tinggi 77,01% dibandingkan dengan 2022 yang tercatat sebesar Rp4,67 triliun.
Laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan ke pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp5,61 triliun. Laba bersih NCKL ini naik 20,40% dibandingkan dengan 2022 sebesar Rp4,66 triliun.
Pada sisi kewajiban, NCKL terdata memiliki total kewajiban sebesar Rp16,89 triliun, turun dibandingkan posisi 2022 sebesar Rp20,37 triliun. Rinciannya adalah liabilitas jangka pendek sebesar Rp9,30 triliun dan liabilitas jangka panjang sebesar Rp7,59 triliun.
NCKL memiliki total modal sebesar Rp28,39 triliun, meningkat dibandingkan tahun 2022 yang sebesar Rp14,22 triliun. Adapun, total aset NCKL ialah sebesar Rp45,28 triliun.
Investor Strategis NCKL
Pada perkembangan lain, NCKL bakal melakukan right issue dengan jumlah saham maksimal 18,92 miliar lembar saham atau setara dengan 30% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh.
Right issue NCKL itu dilaksanakan paling lambat 12 bulan setelah perseroan mendapatkan persetujuan pada RUPSLB pada 15 Maret 2024 lalu. Adapun, setiap saham baru memiliki nominal sebesar Rp100 per lembar.
NCKL menyebutkan terdapat beberapa calon pemodal yang menyatakan minat untuk menjadi investor strategis. Calon investor strategis itu disebut tidak memiliki hubungan afiliasi dengan NCKL.
Roy menyampaikan bahwa calon investor berasal dari Eropa, Asia dan Indonesia. Dia masih enggan menyebutkan nama-nama calon investor tersebut.
“Ada dari Eropa, Asia, tapi bukan China, dan satunya dari Indonesia,” ungkapnya di acara buka bersama media, Rabu (3/4/2024).
Sebelumnya sempat tersiar kabar bahwa calon investor dari Eropa berasal dari Inggris, sedangkan satunya berasal dari Jepang. Seperti dilaporkan oleh Bloomberg, kedua perusahaan tersebut adalah Glencore Plc (Inggris) dan Itochu Corp (Jepang).
Keduanya sebagai calon pembeli potensial yang mengincar saham NCKL dari rights issue tersebut. Adapun investor yang berasal dari dalam negeri adalah anak usaha Grup Astra, yakni PT United Tractors Tbk. (UNTR).
Namun, menurut informasi, pembicaraan terkait dengan kesediaan Glecore, Itochu dan UNTR menjadi investor strategis NCKL dalam rights issue masih berada dalam tahap awal dan hasilnya dapat berubah sewaktu-waktu.
“Kami belum bisa menyebutkan calon investornya karena saat ini masih proses due diligence [uji tuntas],” kata Roy.
Editor : Mardan Amin
Sumber Berita: Market Bisnis.com
