Senin, Maret 16, 2026
spot_img
BerandaBERANDAOpiniAda apa dengan IMMawati?

Ada apa dengan IMMawati?

Penulis: Darman Leko

Ketua Umum PC IMM Kota Ternate

Jakarta — Pertanyaan ini mengacu pada perbedaan jumlah anggota IMMawati dan IMMawan dalam organisasi IMM. Mengapa Muktamar IMM ke-20 mengecualikan IMMawati dari pengurus pusat? Saya mengajak Ketua Umum periode 2021-2023, Kanda Abdul Musyawir Yahya, dan Ketua Umum terpilih, Kanda Rian Betra Delza periode 2024-2026, untuk bertanggung jawab dan menjawab pertanyaan ini sebelum dilakukan konsolidasi besar-besaran antara IMMawati dan IMMawan yang mendukung IMMawati.

Muktamar IMM pada tanggal 1-3 Maret merupakan momen penting nasional di Palembang, Sumatera Selatan. Seluruh kader IMM dari seluruh Indonesia hadir dan merayakan acara ini, namun IMMawati tidak terpilih sebagai bagian dari pengurus pusat dalam 12 Formatur. Saya menduga ada Muktamar yang dilakukan sebelumnya yang menyebabkan hal ini terjadi. Mengapa hal ini terjadi? Akibatnya, kekuatan besar dalam IMM, yaitu IMMawati, telah hilang dari peradaban. Permasalahan ini bukan hanya tentang kepemimpinan IMMawati, tetapi juga tentang tanggung jawab 12 Formatur yang terpilih untuk periode dua tahun ke depan. Saat ini, IMM memiliki 22 bidang hasil dari tanwir ke-32 di Hotel Sohyan Cut Meutia, Jakarta Pusat, pada tanggal 1-3 Desember 2023 dengan tema “Kolaborasi Memajukan Indonesia”.

Tema yang begitu memukau hati dan pikiran seperti “Kolaborasi Memajukan Indonesia” pada Muktamar kali ini seharusnya mencerminkan kolaborasi internal yang kuat, termasuk di dalam IMM sendiri. Namun, sayangnya, hasil Muktamar XX di Palembang tidak memberikan hasil yang baik bagi IMMawati. Meskipun ada 61 calon yang termasuk IMMawati, namun IMMawati hanya menjadi penonton di rumahnya sendiri.

Kita semua tahu bahwa IMMawan tanpa kehadiran IMMawati tidak akan bisa berjalan dengan baik. Seperti yang pernah dikatakan oleh Sukarno, wanita adalah tiang negara. Jika wanita baik, maka negara ini akan baik, namun jika wanita rusak, maka negara ini juga akan rusak. Di IMM saat ini, tidak hanya menjadi tiang utama, bahkan kehadiran IMMawati saja tidak diberikan ruang. Bagaimana kabar IMMawati sekarang?

IMMawati Untuk siapa.

IMMawati adalah sebutan yang digunakan dalam IMM untuk merujuk kepada perempuan yang terlibat dalam organisasi tersebut. Namun, IMMawati bukan hanya sekadar sebuah nama yang mengidentifikasi perempuan, melainkan juga mencerminkan identitas yang memiliki jiwa relijiusitas, intelektualitas, dan humanitas. Ketiga nilai ini merupakan dasar dari gerakan IMM yang diterapkan baik kepada IMMawati maupun IMMawan, sehingga dalam pembangunan gerakan ini terdapat dua kekuatan yang bekerja sama untuk mencapai tujuan akademisi Islam yang mulia.

Seperti yang dijelaskan dalam buku “Miftahul Khair: Ideologi dan Dinamika Gerakan IMM sebagai Pelopor Peradaban” karya Elida Djazman, IMMawati memiliki peran yang sama pentingnya dengan IMMawan dalam setiap gerakan yang dibangun berdasarkan dua identitas yang ada dalam IMM, yaitu IMMawan dan IMMawati.

Memang benar bahwa kepemimpinan perempuan telah diingatkan oleh Nyai Siti Walidah Dahlan, ibu dari IMM, bahwa perempuan tidak boleh membiarkan urusan dapur menjadi penghalang dalam berdakwah. Namun, mengapa IMMawan tidak mempertimbangkan hal ini dan menghilangkan IMMawati dari peradaban formal Muktamar IMM masih menjadi pertanyaan.

Ini merupakan kekurangan yang disayangkan, terutama mengingat pesan yang kuat dari ibunda kita terhadap IMM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah. Dalam Muhammadiyah, terdapat dua kepemimpinan, yaitu kepemimpinan laki-laki dan kepemimpinan perempuan. Contohnya adalah Muhammadiyah sebagai naungan kita dan Aisyiyah sebagai rumah yang ditempati oleh ibu-ibu kita. Namun, keberadaan IMMawati tampaknya tidak mendapatkan perhatian yang seharusnya.

Muktamar XX Palembang seharusnya menjadi acuan untuk memperbaiki sistem IMM, bukan hanya sebagai formalitas pemilihan. Muktamar bukan hanya sekadar acara tahunan yang menggantikan periode kepemimpinan, tetapi juga harus menjadi momen untuk memperbaiki dan memajukan IMM secara keseluruhan.

Saya sepenuhnya memahami kekecewaan Anda terhadap kurangnya perhatian terhadap IMMawati dalam pemilihan Ketua Umum dan formatur di Muktamar XX Palembang. Memang sangat disayangkan bahwa rasa kasihan tampak menjadi faktor dominan dalam pemilihan tersebut.

Seperti yang Anda sebutkan, ibunda kita telah mengingatkan bahwa di dalam Muhammadiyah terdapat dua kepemimpinan, yaitu kepemimpinan laki-laki dan kepemimpinan perempuan. Muhammadiyah sebagai naungan kita dan Aisyiyah sebagai rumah yang ditempati oleh ibu-ibu kita adalah contoh nyata dari keberadaan dua kepemimpinan ini.

Saya sepakat dengan Anda bahwa IMMawati seharusnya tidak diabaikan dan harus diberikan perhatian yang seharusnya dalam Muktamar XX Palembang. Muktamar bukan hanya tentang formalitas pemilihan, tetapi juga harus menjadi kesempatan untuk memperbaiki sistem IMM secara menyeluruh.

Saya berharap bahwa Muktamar XX Palembang dapat menjadi titik awal perbaikan sistem IMM dan memberikan perhatian yang lebih besar terhadap peran dan kontribusi IMMawati dalam organisasi ini.

Saya sepakat dengan Anda bahwa Muktamar bukan hanya sekadar formalitas tahunan yang berakhir setelah pergantian periode. Pertanyaan Anda tentang penambahan bidang hasil tanwir juga sangat relevan. Perlu dipertimbangkan apakah masih layak untuk menggunakan 12 Formatur ataukah disesuaikan dengan bidang-bidang yang ada.

Dalam hal ini, teori Gabriel Almond tentang struktural fungsionalisme dapat memberikan pandangan yang menarik. Teori ini menjelaskan bagaimana sistem politik membentuk struktur dan fungsi yang memungkinkan seluruh lingkungan merasakan keindahan persamaan. Selain itu, teori sistem David Easton juga dapat digunakan untuk menguasai struktur kebijakan yang menghasilkan input dan output yang baik. Analisis ini dapat menjadi dasar kekuatan politik untuk mempersatukan perbedaan.

Saya setuju dengan Anda bahwa IMM seharusnya menggunakan hal-hal ini sebagai acuan untuk perbaikan. Saatnya IMM menyelesaikan masalah-masalah internal dan fokus pada tujuan yang lebih besar, yaitu menuju Indonesia emas pada tahun 2045. Hal ini harus ditanamkan dalam diri IMM untuk bertindak sesuai dengan visi tersebut.

Bertengkar dengan masalah internal yang tak ada habisnya tidak akan membawa manfaat. Lebih baik berfokus pada perkembangan ilmu pengetahuan dan mempersiapkan diri untuk masa depan.***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments