- EHang dan XPENG Pimpin Inovasi eVTOL, Tantangan Baterai dan Kontrol Wilayah Udara Masih Mengintai
Sebuah pesawat tanpa awak berbentuk oval buatan EHang melayang di atas zona inovasi tepi sungai Guangzhou, Tiongkok selatan, berdengung berisik seperti helikopter mini. Pemandangan ini menandai uji coba taksi terbang mini yang dulunya hanya ada di film fiksi ilmiah.
Di Shenzhen, drone pengantar makanan kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari dan daya tarik wisata baru, meskipun tarifnya lebih mahal. Turis Polandia, Karolina Trzciańska, mengatakan, “Ini pertama kalinya saya melihat sesuatu seperti ini, jadi sangat menyenangkan melihat makanan diantar oleh drone,” mengutip AP, Selasa (25/11/2025).
Pertumbuhan bisnis ini didukung pemerintah, meski menghadapi kendala seperti kontrol wilayah udara ketat dan keterbatasan baterai. Aktivitas wilayah udara di bawah 1.000 meter menyumbang omzet 506 miliar yuan (US$70 miliar) pada 2023, sekitar 0,4% dari ekonomi Tiongkok, dan diperkirakan mencapai 3,5 triliun yuan (US$490 miliar) pada 2035, kata Zhang Xiaolan, peneliti di Pusat Informasi Negara.
Provinsi Guangdong memimpin pengembangan ekonomi dataran rendah, rumah bagi raksasa drone DJI dengan pangsa pasar 70% global. Perusahaan lain termasuk EHang, divisi drone SF Express, Phoenix Wings, dan unit mobil terbang XPENG ARIDGE. Pada Oktober, Guangdong mengumumkan pembangunan stasiun layanan penerbangan dan platform operasi wilayah udara serta mendukung voucher wisata dataran rendah.
Shenzhen memberikan penghargaan 15 juta yuan ($2,1 juta) bagi perusahaan yang memperoleh sertifikasi eVTOL, kendaraan elektrik lepas landas dan mendarat vertikal. EHang telah memperoleh izin untuk layanan penumpang komersial tanpa pilot dengan kecepatan maksimum 130 km/jam dan jangkauan 30 km. Wakil Presiden EHang, He Tianxing, mengatakan perusahaan berencana memulai dengan layanan wisata udara dan membangun lokasi lepas landas dan pendaratan di 20 kota dalam dua tahun terakhir. “Itu tidak bisa hanya sekedar produk penelitian, atau mainan seorang insinyur,” ujarnya.
Tantangan terbesar adalah keterbatasan baterai dan durasi penerbangan. Guo Liming, pendiri Skyevtol Shenzhen, mengatakan pesawat eVTOL satu kursi mereka hanya bisa terbang 20–30 menit sebelum pengisian ulang. Kecelakaan juga pernah terjadi: September lalu, dua pesawat XPENG bertabrakan, salah satunya terbakar saat mendarat.
XPENG tetap melanjutkan inovasi, memamerkan kendaraan darat beroda enam dengan eVTOL lepas pasang, menerima lebih dari 7.000 pesanan global, dan menyiapkan produksi massal senilai $600 juta. Uji coba penerbangan wisata di Dunhuang, Jalur Sutra kuno, dijadwalkan Juli mendatang.
Namun, penerapan komersial masih lambat. Di Jerman, Lilium dan Volocopter menghadapi kebangkrutan, meskipun Volocopter dibeli Diamond Aircraft Group dari Tiongkok. Di China, meski teknologi drone berkembang pesat, akses wilayah udara terbatas. Kurang dari sepertiga wilayah udara dataran rendah Tiongkok dapat diakses publik pada 2023, dengan distribusi tidak merata dan konektivitas internet terbatas, ujar Zhang.
Pemerintah mulai melonggarkan aturan, dengan militer menjanjikan prosedur persetujuan lebih cepat di Shenzhen dan lima provinsi lain. Revisi undang-undang penerbangan sipil juga mencakup alokasi wilayah udara ketinggian rendah untuk kegiatan sipil.
Gary Ng, ekonom Natixis, memperkirakan kemajuan komersialisasi sekitar 2030, dengan fokus awal pada pariwisata dan industri, sebelum taksi terbang reguler. Chen Wen-hua, direktur Pusat Penelitian Ekonomi Ketinggian Rendah Hong Kong, menekankan keunggulan Tiongkok dalam memobilisasi regulator, industri, dan universitas untuk tujuan bersama, namun masalah keselamatan dan penerimaan publik menentukan kecepatan penerapan.
Masa depan ekonomi dataran rendah cerah, kata Chen, “namun, jalan menuju masa depan cerah itu mungkin berbahaya.” Inovasi eVTOL di China menunjukkan potensi besar sekaligus risiko yang mengintai bagi pengembangan pesawat terbang rendah dan drone komersial.
***
