Jumat, April 24, 2026
spot_img
BerandaEKONOMI DAN BISNISSurplus Dagang April Diprediksi Menyusut

Surplus Dagang April Diprediksi Menyusut

IndoBisnis – Neraca perdagangan Indonesia pada April 2025 diperkirakan masih akan mencatatkan surplus. Namun, para ekonom memperkirakan bahwa nilai surplus tersebut akan mengalami penyusutan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data resmi neraca perdagangan Indonesia awal pekan depan. Sembari menantikan data tersebut, sejumlah ekonom telah memberikan proyeksi berdasarkan kondisi ekonomi global dan data perdagangan mitra utama Indonesia.

Dian Ayu Yustina, Kepala Departemen Riset Ekonomi Makro dan Pasar Keuangan Bank Mandiri, memprediksi bahwa surplus neraca dagang Indonesia akan menurun dari US$ 4,33 miliar pada Maret menjadi sekitar US$ 2,7 miliar pada April.

“Ekspor kemungkinan masih tumbuh positif secara tahunan. Namun, kami memperkirakan surplus perdagangan akan menyusut karena adanya percepatan pengiriman barang oleh eksportir sebagai antisipasi penerapan tarif dari Amerika Serikat, serta penurunan harga komoditas utama,” ujar Dian, Jumat (30/5) mengutip Kontan

Dian menjelaskan, ekspor Indonesia pada April 2025 diperkirakan tumbuh sebesar 4,6% secara tahunan (year on year), namun mengalami kontraksi sebesar 11,8% dibandingkan bulan sebelumnya (month to month). Komoditas seperti batu bara, minyak sawit mentah (CPO), dan nikel mengalami tekanan harga, yang turut menekan nilai ekspor.

Sementara dari sisi impor, Bank Mandiri memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,5% yoy, namun juga mengalami penurunan 5,8% secara bulanan. Menurut Dian, perlambatan ini terjadi karena normalisasi aktivitas setelah Ramadan dan Idulfitri, serta melemahnya aktivitas industri manufaktur.

“Impor melambat karena aktivitas pasca-Lebaran kembali normal. Selain itu, indeks PMI manufaktur yang hanya berada di level 46,7 juga menunjukkan penurunan pembelian bahan baku oleh industri,” jelas Dian.

Senada dengan itu, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede juga menyatakan bahwa surplus neraca perdagangan akan tetap terjadi meskipun dalam jumlah yang lebih kecil. Ia memprediksi surplus April akan berada di angka US$ 3,10 miliar.

“Surplus neraca perdagangan diperkirakan menurun dari bulan sebelumnya, seiring dengan libur panjang Idulfitri yang menghambat aktivitas ekspor dan impor,” kata Josua.

Ia menjelaskan bahwa ekspor Indonesia kemungkinan besar mengalami penurunan sebesar 9,22% secara bulanan, meskipun masih tumbuh 7,60% secara tahunan. Penurunan harga komoditas utama seperti CPO dan batu bara juga turut memengaruhi angka ini.

“Aktivitas ekspor cenderung menurun selama libur Idulfitri. Tahun ini, libur tersebut jatuh pada awal April, sehingga berpengaruh pada volume perdagangan,” imbuh Josua.

Dari sisi impor, Josua memperkirakan kontraksi bulanan sebesar 4,83%, sementara pertumbuhan tahunan mencapai 6,57%. Penurunan impor, menurut dia, tidak sedalam penurunan ekspor karena adanya percepatan aktivitas impor menjelang pemberlakuan tarif balasan dari Amerika Serikat.

“Banyak pelaku usaha yang mempercepat impor untuk menghindari dampak tarif resiprokal dari AS. Hal ini sedikit menahan laju penurunan impor,” ujarnya.

Josua juga mencatat bahwa pelemahan harga minyak global dan depresiasi nilai tukar Rupiah turut memengaruhi aktivitas impor Indonesia. Selain itu, ketegangan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang mulai mereda menjadi harapan baru bagi pemulihan perdagangan global.

Kedua negara dilaporkan sepakat menurunkan tarif secara signifikan mulai 12 Mei 2025 selama periode 90 hari. Langkah ini diyakini akan memperkuat permintaan global dan menjadi katalis positif bagi perdagangan internasional.

Meski begitu, Josua mengingatkan bahwa tekanan terhadap ekspor Indonesia masih akan terasa. “Level tarif AS terhadap produk China memang diturunkan, tetapi belum kembali ke kondisi sebelum perang dagang jilid dua. Kondisi ini berpotensi tetap menekan kinerja ekspor kita,” katanya.

Ia menambahkan bahwa permintaan domestik yang masih lesu juga berkontribusi pada perlambatan impor. Namun, dalam jangka pendek, kondisi ini justru dapat membantu menjaga neraca perdagangan Indonesia tetap positif.

Dengan dinamika global dan domestik yang terus berkembang, para analis berharap pemerintah mampu menjaga stabilitas perdagangan dan mendorong diversifikasi ekspor agar tidak terlalu bergantung pada komoditas mentah semata.
***

RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img

Most Popular

Recent Comments