Dari Rusunawa Kejaksaan hingga Kantor Polres, Anggaran Rakyat Tersedot Demi Gedung dan Perabot Mewah
IndoBisnis – Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate kembali menuai sorotan tajam. Meski dibebani utang kepada pihak ketiga yang belum lunas, Pemkot tetap menggelontorkan anggaran fantastis-mencapai puluhan miliar rupiah-untuk membangun dan melengkapi sarana milik Aparat Penegak Hukum (APH) di Kota Ternate.
Data yang dihimpun IndoBisnis mencatat, sejak 2022 hingga 2025, Pemkot Ternate telah menghabiskan sedikitnya Rp30 miliar untuk proyek-proyek yang mencakup pembangunan kantor, rumah dinas, mess, pagar, hingga pengadaan perabot mewah bagi Polres Ternate dan Kejaksaan. Anggaran itu termasuk biaya perencanaan dan pengawasan.
Pada 2023 saja, alokasi untuk Kejaksaan mencakup tiga proyek senilai Rp9,3 miliar, belum termasuk biaya tambahan. Sementara itu, pengadaan sarana dan prasarana rumah dinas serta mess Kejaksaan di tahun 2024 masih menyisakan utang sebesar Rp998,55 juta. Ironisnya, nilai pasti alokasi anggaran tahun itu belum pernah dipublikasikan secara jelas.
“Padahal Pemkot sedang menanggung beban utang, tapi prioritas anggaran justru diarahkan ke fasilitas APH,” ujar seorang sumber yang mengetahui detail penganggaran tersebut.
Untuk Polres Ternate, Pemkot pada 2022 mengucurkan Rp4 miliar untuk pembangunan kantor. Setahun kemudian, proyek lanjutan kembali menyedot Rp6 miliar. Bahkan pada 2024, ada dua proyek dengan nilai total hampir Rp3 miliar, di antaranya penataan halaman PAUD Kumala Bhayangkari sebesar Rp200 juta. Tahun ini, Pemkot masih menambah lagi Rp4,5 miliar untuk melanjutkan pembangunan sarana penunjang kantor Polres, yang kini masih dalam proses tender.
Tak hanya Polres dan Kejaksaan, Kodim 1505 Ternate juga kebagian kue anggaran. Tahun 2024, Pemkot mengalokasikan Rp1 miliar untuk pembangunan rumah dinas Dandim dan Rp200 juta untuk fasilitas penunjang.
Rangkaian alokasi ini memicu pertanyaan publik: di tengah utang yang menjerat, mengapa fasilitas APH menjadi prioritas utama belanja daerah? Bagi warga, kenyataan ini ibarat tamparan keras di wajah-anggaran rakyat justru tersedot untuk gedung megah, sementara kebutuhan mendesak lain terbengkalai.
***
