Aksi ricuh di depan DPRD, polisi bentrok dengan massa
Demonstrasi yang digelar Organisasi Cipayung Maluku Utara, mahasiswa Universitas Khairun (Unkhair), Aliansi BEM UMMU hingga Nahdlatul Ulama,di Jalan Tugu Maku Gawene Kalumata tepat di depan gedung DPRD Kota Ternate berakhir ricuh. Massa meneriakkan yel-yel “Bubarkan DPR!” sambil terlibat saling dorong dan lempar batu dengan aparat kepolisian.
Pantauan IndoBisnis di lapangan, aksi yang berlangsung sejak siang itu awalnya berjalan damai. Namun, ketegangan meningkat setelah aparat berusaha membubarkan kerumunan mahasiswa. Bentrokan pun tidak terelakkan.
Seorang orator menyampaikan bahwa rakyat Indonesia selalu berada dalam cengkeraman kekuasaan yang rakus sejak zaman kolonial hingga rezim Orde Baru.
“Hari ini kita kembali diperhadapkan dengan wajah lama yang sama: rakyat ditindas, elit berkuasa,” ujarnya lantang.
Mahasiswa menyoroti banyak persoalan yang menumpuk, mulai dari kenaikan pajak rakyat, meningkatnya tunjangan DPR, tewasnya pengemudi ojek online Affan yang terlindas kendaraan Brimob, penangkapan 11 masyarakat adat Maba Sangaji dan 7 warga Galela, hingga dampak buruk pertambangan di Maluku Utara.
Mereka juga menyinggung biaya pendidikan yang semakin mahal serta pernyataan oknum pejabat yang menyebut guru sebagai beban negara.
“Pernyataan itu penghinaan bagi rakyat, bagi pendidik, bagi masa depan bangsa,” ujar salah satu mahasiswa.
Dalam pernyataan sikapnya, aliansi menyimpulkan bahwa kebijakan pemerintah selama ini tidak pernah benar-benar berpihak kepada rakyat.
“Cukup sudah kita dipermainkan. Saatnya rakyat mengambil kembali haknya,” tegas mereka.
Massa menyampaikan sepuluh tuntutan utama, yakni:
1. Pecat Kapolri Listyo Sigit Prabowo
2. Revisi UU Polri
3. Sahkan UU Perampasan Aset
4. Keadilan bagi korban Affan
5. Bebaskan 11 masyarakat adat Maba Sangaji
6. Sahkan Perda Adat
7. Polres Halmahera Barat segera bebaskan 7 masyarakat adat tanpa syarat
8. Demokrasi untuk rakyat
9. Stop represifitas terhadap gerakan rakyat dan mahasiswa
10. Bangun Dewan Rakyat
Dengan suara lantang, mahasiswa menegaskan bahwa perjuangan mereka lahir dari penderitaan rakyat.
“Kami datang dari desa yang tergusur, dari kampus yang mati, dari suara rakyat yang dilupakan. Kami datang bukan untuk mundur,” teriak massa di depan DPRD Kota Ternate.
***
